La Bella et La Bete : Konstruksi Megah Kisah Si Cantik & Buruk Rupa

by Joedi Dance

La Bella et La Bete : Konstruksi Megah Kisah Si Cantik & Buruk Rupa
EDITOR'S RATING    

Selalu ada cara untuk menghidupkan kisah-kisah klasik anak-anak ke dalam film layar lebar. Salah satu yang terbaru adalah arahan sineas Prancis, Cristophe Gans dalam La Belle et la Bete, yang ditayangkan di Festival Sinema Prancis 2014.

 
 
Director : Cristophe Gans
Screenplay : Cristophe Gans dan Sandra Vo-Anh
Cast : Vincent Cassell, Lea Seydoux, Andre Dussolier
 
Usaha untuk menghidupkan kembali berbagai kisah dongeng klasik anak-anak sudah seperti rumput yang selalu tumbuh walau sudah dicabut. Tak salah memang, ada banyak cara untuk menggambarkan kisah klasik ke dalam beragam interpretasi. Salah satu yang terbaru adalah arahan sineas asal Prancis Cristophe Gans yang memvisualisasikan kisah si Cantik dan Buruk Rupa dalam La Belle et la Bête.
 
Tak perlu panjang lebar, kita semua tahu bagaimana kisah ini. Alkisah ada seorang Saudagar kaya (Dussolier) yang terluka dalam perjalanan pulang. Ia kemudian menemukan sebuah kastil terkutuk, namun menemukan banyak harta berharga di dalamnya. Saudagar tersebut membawa harta tersebut pulang, namun tergoda untuk memetik setangkai mawar merah khusus untuk anak kesayangannya, Bella (Seydoux). Naas, seekor monster terbang menerkamnya. Beast (Cassell) kemudian menuntut sang Saudagar untuk kembali ke kastilnya atau ia akan membunuh seluruh anak-anaknya. Merasa ini semua adalah salahnya, Belle pun lalu kabur untuk menggantikan tempat si ayah, dan tinggal bersama dengan Beast. 
 
 
Diangkat dari dongeng berjudul sama, La Belle et la Bete tidak menawarkan sesuatu yang baru. Tidak ada twist atau interpretasi lain sepanjang film ini. Semuanya begitu setia dengan kisah aslinya. Hal ini yang menyebabkan plot ceritanya terasa garing dan tanggung. Memang kisahnya lengkap tersaji dari awal hingga akhir, namun beberapa bagian terasa tidak maksimal 
 
Saking setia pada kisah aslinya pun membuat hubungan antara Belle dan Beast kurang cukup tergali. Hubungan mereka yang seperti love and hate masih terasa lebih banyak hatenya, sehingga ketika kisah bergulir ke babak ketiga, penonton masih belum diyakinkan bahwa Belle dan Beast saling mencintai satu sama lainnya.
 
 
Namun tidak dapat dipungkiri, efek visual dan scroingnya begitu magis dan menakjubkan, membawa penonton untuk berkelana ke dalam sebuah mimpi indah. Dan ketika film berakhir, efek yang ditimbulkan bagaikan baru bangun dan tersadar dari mimpi, kehilangan orientasi pada dunia yang asli.
 
La Belle et la Bete ditayangkan dalam gelaran Festival Sinema Prancis 2014. Tiketnya sendiri bisa dibeli di IFI Indonesia, IFI Wiaya, dan XXI Metropole mulai tanggal 5 - 7 Desember. Sila buka websitenya untuk mendapatkan jadwal lengkap.
 
 
 

Artikel Terkait