The Imitation Game: Imitasi yang Mencoba untuk Berkilau

by abn

The Imitation Game: Imitasi yang Mencoba untuk Berkilau
EDITOR'S RATING    

Memiliki formula yang tepat terkadang justru bisa menjadi kartu mati bagi sebuah film. Dengan kisah hidup Turing yang kompleks, film ini berusaha keras untuk berkilau.

Sutradara : Morten Tyldum
Penulis Naskah : Graham Moore berdasarkan buku Alan Turing: The Enigma karya Andrew Hodges
Pemeran : Benedict Cumberbatch, Keira Knightley, Matthew Goode, Mark Strong, Charles Dance, Allen Leech, Matthew Beard, Rory Kinnear

Mengenal istilah Oscar bait? Oscar bait merupakan istilah yang muncul di kalangan penggemar film yang merujuk pada sebuah film yang dibuat dan dirilis demi mengejar nominasi Oscar dan jika beruntung memenangkannya. Film-film seperti ini memiliki formula tertentu yang memang selalu manjur di musim penghargaan. Dan, itulah kesan pertama yang didapatkan saat kita menyaksikan The Imitation Game, sebuah biopic arahan sutradara Morten Tyldum.

The Imitation Game merupakan biopic dari ahli matematika Inggris Alan Turing (Benedict Cumberbatch) yang wafat di usia 41 tahun karena bunuh diri. The Imitation Game berfokus pada masa Perang Dunia II di mana Turing menjadi bagian dari sebuah tim pemecah kode rahasia negara Jerman yang menggunakan mesin Enigma untuk mengirimkan pesan-pesan rahasia kepada seluruh prajuritnya. Sebagai sebuah biopic, tentunya banyak orang yang sudah mengetahui bagaimana kisah berjalan. Namun seringkali sebuah biopic mengambil sudut pandang yang berani dan berbeda untuk menceritakan kisah hidup karakter utamanya. Lalu bagaimana dengan The Imitation Game?

Naskah The Imitation Game ditulis oleh Graham Moore dalam debutnya sebagai penulis naskah feature film. Naskah film ini didasarkan pada buku biografi Alan Turing: The Enigma karya Andrew Hodges. Terdapat 3 alur waktu dalam film ini, alur waktu pertama yang merupakan alur utama kisah ini berlangsung selama Perang Dunia II, dimana Turing menciptakan alat pemecah kode Enigma, hambatan yang ia hadapi, dan hubungannnya dengan Joan Clarke, tunangannya. Alur kedua adalah alur yang menceritakan Turing di masa remaja, yang memberikan latar belakang mengenai karakter Turing. Dan yang ketiga, adalah alur dimana Turing hidup sendiri pasca peperangan dan dikriminalisasi atas satu hal yang saat itu merupakan sebuah kejahatan.

Oscar Bait
Gabriel Rossman dan Oliver Schilke merupakan dua sosiolog dari University of California at Los Angeles (UCLA) yang pernah melakukan studi terhadap 3,000 film yang dirilis antara tahun 1985 hingga 2009. Dari studi tersebut, keduanya mendapatkan kesimpulan mengenai pola/formula sebuah film yang pantas disebut Oscar bait. Tiga hal yang paling sering muncul menjadi tema adalah peperangan, epos sejarah, dan biografi. Selain itu, intrik politik, disabilitas dalam berbagai level, dan kejahatan perang juga memainkan peranan penting sebagai formula dasar sebuah film Oscar bait. Sebetulnya, menjadi sebuah Oscar bait bukanlah sebuah hal yang buruk, selama film tersebut bisa memberikan sesuatu yang lebih dan dieksekusi dengan baik. Dan inilah masalah yang dimiliki The Imitation Game.

Jika kita membuat sebuah daftar mengenai formula apa saja yang dipenuhi The Imitation Game, film ini memenuhi banyak syarat untuk menjadi sebuah film Oscar bait. Kita lihat saja, film ini merupakan sebuah biopic, karakter utama yang memiliki masalah hidup yang kompleks, film produksi Inggris yang bersetting di Inggris (AMPAS sangat menghargai film tentang Inggris), merupakan sebuah period drama, tema heroisme di Perang Dunia II, dan isu mengenai LGBT; kesemuanya adalah formula dasar yang seringkali digunakan oleh banyak film yang melenggang di ajang Oscar. Dan sayangnya, The Imitation Game seperti terjebak pada formula tersebut dan terlalu takut untuk menjadi lebih dan berbeda.

Film ini gagal memenuhi ambisinya dalam mengisahkan kompleksitas karakter Turing. Di satu sisi Tyldum dan Moore cukup berhasil dalam mengisahkan Turing si pemecah Enigma dan Turing yang seorang gay. Namun dua kisah ini terasa tidak kohesif, walau dalam plot utama (Turing si pemecah Enigma) isu mengenai homoseksualitas Turing juga diangkat. Penceritaan latar belakang Turing saat masih remaja pun, walau dikisahkan dengan cukup baik, terasa sebagai tempelan yang lagi-lagi kurang kohesif dan kurang memberikan motivasi terhadap plot utamanya. Catatan yang disampaikan di penghujung film pun seperti dipaksakan masuk demi memberikan penjelasan akan beberapa hal di dalam filmnya.

The Imitation Game pun berusaha terlalu keras dalam menyampaikan pesan "Berbeda/tidak normal itu adalah hal yang bagus". Berulangkali hal ini disisipkan dalam dialog-dialog The Imitation Game. Namun, bukannya menginspirasi, pesan yang diucapkan secara repetitif tersebut jadi terasa membosankan dan seperti berkhotbah pada penontonnya. Padahal pesan tersebut dapat disampaikan dengan lugas dengan sekali-dua kali penyampaian dan lalu disampaikan dengan subtil melalui karakterisasi dan tindakan tokoh-tokohnya di layar.

Lapisan Yang Tipis
Kita tidak dapat mengingkari, Benedict cumberbatch merupakan salah satu aktor berbakat asal Inggris masa kini. Namun apa lacur? Bakat tersebut tidak nampak secara maksimal dalam film ini. Dalam hidupnya, Turing adalah sosok yang disalahartikan. Ia merupakan sosok introvert yang menjadi korban perundungan di masa remaja. Kejeniusannya dan perpaduan dengan sifat introvertnya, seringkali dicap sebagai sebuah kesombongan. Belum lagi beban menjadi seorang homoseksual, dimana saat itu menjadi seorang gay adalah sebuah tindakan kriminal yang akan mendapatkan hukuman penjara. Dengan banyaknya lapisan kompleksitas sosok Turing, Cumberbatch hanya berhasil memberikan lapisan tipis yang bisa membuat penontonnya terikat dengan sosok Turing. Jujur saja, saya melihat penampilan Cumberbatch sebagai John Harrison di Star Trek: Into Darkness lebih berhasil dalam menyuguhkan karakter yang memiliki motif yang kompleks. Cumberbatch pun masih sulit melepaskan image Sherlock dari dirinya. Hal ini masih harus 'diperparah' dengan beberapa kesamaan sifat antara Turing dengan karakter rekaan Sir Arthur Conan Doyle tersebut.

Namun, saya tidak akan menyalahkan hal ini seluruhnya kepada Cumberbatch. Karena saya rasa, naskah Moore dan pengarahan Tyldum pun turut andil dalam hal ini. Seperti yang sudah saya sampaikan, film ini terlalu takut untuk menjadi lebih dan berbeda sehingga bermain di ranah aman, dan tidak mau mendobrak batasan yang sebetulnya bisa dicapai dengan bakat sekelas Cumberbatch.

Hal lain yang disayangkan adalah saat berusaha berfokus pada Turing (dan kurang berhasil), film inipun gagal dalam memberikan karakter pendukung yang kuat. Ya, ada Keira Knightley sebagai Joan Clarke, namun saya Knightley pernah berakting jauh lebih apik dari ini. Kehadiran aktor sekelas Matthew Goode dan Charles Dance pun terasa seperti kurang termanfaatkan dengan baik. Goode dan Allen Leech seperti karakter pinggiran yang bisa diperankan oleh siapapun. Charles Dance pun tak ubahnya Tywin Lannister dalam balutan seragam Royal Navy. Mungkin, di antara para karakter pendukungnya, hanya Mark Strong yang paling bersinar sebagai kepala MI6 yang ambigu dan memiliki rahasianya sendiri.

Imitasi yang Mencoba Berkilau Terang
Okay, walau banyak hal negatif saya sampaikan di atas, bukan berarti The Imitation Game adalah sebuah film yang buruk. Production design dari film ini patut diacungi jempol. Ada sesuatu yang indah mengenai hal tersebut. Suasana pedesaan Inggris, basis militer Bletchley, dan tentunya Christopher si mesin pemecah Enigma yang dibuat dengan detail yang menakjubkan. Namun, banyak kekecewaan yang muncul dari sebuah film yang sebetulnya memiliki potensi yang lebih.

The Imitation Game gagal memenuhi ambisinya, dan jatuh kepada teritori yang mudah ditebak dan aman; tipikal film Oscar Bait (walau umpan itu berhasil menangkap 8 nominasi Oscar). Dan mungkin, ironisnya, itulah The Imitation Game. Sebagai sebuah karya seni, The Imitatiion game tak ubahnya sebuah imitasi dari film dengan formula sama yang pernah hadir, yang berusaha keras untuk berkilau, dan gagal...

Artikel Terkait