The Duff: Asam-Manis Kehidupan Remaja

by Joedi Dance

The Duff: Asam-Manis Kehidupan Remaja
EDITOR'S RATING    

Di setiap generasi, kita selalu memiliki film-film yang ikonik. Sebut saja Rebel With A Cause, Grease, Pretty In Pink, 10 Things I Hate About You, dan Mean Girls. Apakah The Duff akan menjadi film yang mendefinisikan remaja di jamannya? Baca ulasan editor kami disini!

 
Director : Ari Sandel
Screenplay : Josh A. Cagan, based on novel 'The Duff' by Kody Keplinger
Cast : Mae Whitman, Robbie Ammel, Bella Thorn, Skyler Samuels, Bianca A. Santos, Nick Eversman, Ken Jeong
 
Di tahun 1985, John Hughes mendefinisikan 5 stereotype yang umum ditemukan di sekolah : jocks, princess, nerd, criminal, dan basket case di film Breakfast Club. Lima tipe ini kemudian menjadi sebuah formulasi umum yang lazim ditemukan di berbagai teen flicks. Di 10 Things I Hate About You, Julia Stiles menjadi Kat, basket case dengan adik seorang princess dan dikejar-kejar oleh Heath Ledger yang kriminal. Di Mean Girls, Lindsay Lohan adalah seorang nerd yang berusaha blending dengan geng Plastics yang super populer. Jonah Hill dan Michael Cera menjadi dua geek yang cacat sosial. Easy A menampilkan Emma Stone, seorang cool rebel yang sengaja bertingkah seperti gosip yang menimpanya.
 
Ketika suara Bianca Piper (Whitman) mulai berbicara kepada penonton, ia menjelaskan bahwa aturan 5 stereotype ini sudah tidak berlaku. Seorang jocks bisa ketagihan game online, princess mudah tergantung dengan obat anti depresan, dan nerds kini menjadi penguasa dunia. Penonton kemudian diperkenalkan oleh Jess (Samuels) dan Casey (Santos), kedua sahabat Bianca yang cantik dan populer. Bianca sendiri naksir Toby Tucker (Eversman) namun tak bisa ngobrol dengan lancar. Wesley (Ammel), tetangga sekaligus cowok paling populer di sekolah lalu menyebut Bianca sebagai DUFF (Designated Ugly Fat Friend) yang paling tidak menarik dibanding teman-teman sekaligus jadi penjaga gerbang yang approachable. Tak terima menghadapi kenyataan, Bianca memutuskan persahabatannya dengan Jess dan Casey, lalu berusaha mengubah dirinya dari label DUFF dengan bantuan Wesley. Madison (Thorn), tipikal queen bee yang tidak suka dengan kedekatan Bianca dengan Wesley, menggunakan caranya sendiri untuk menjatuhkan Bianca. 
 
Sebagai film komedi remaja, The Duff tampil layaknya sepiring chicken caesar salad di musim panas : ringan, menyegarkan, sekaligus mengenyangkan. Filmography Sandel mungkin belum sepanjang daftar mantan Taylor Swift, tapi bersama dengan Cagan, mereka berhasil mengeksekusi serta menerapkan tema 'DUFF' ke dalam landasan cerita sekaligus jadi highlight film. Dengan selipan yang menarik, Sandel dan Cagan memberikan insight pengaruh media sosial ke dalam cara remaja masa kini berinteraksi. Seperti penggunaan hashtags sebagai label dan cara remaja mendefinisikan diri mereka atau pertengkaran Bianca dengan Casey dan Jess yang melibatkan saling unfriend, unfollow, dan blocked
 
 
Tapi yang paling utama, The Duff jadi sangat menyenangkan untuk ditonton karena Mae Whitman. Sama seperti Bianca yang selama ini menjadi 'DUFF', Whitman pun bersinar di peran utama pertamanya. Whitman mungkin tahu persis apa rasanya jadi supporting cast yang hanya muncul sesekali, so she's not wasting her time. Dengan timing komedi yang tepat dan ekspresi wajahnya, Bianca berjaya dengan karakternya yang witty dan adorable.  The Duff pun bisa menyempilkan subplot hubungan Bianca dengan ibunya, seorang motivator yang terinspirasi dari serial The Simpson tanpa menggangu kontinuitas cerita. Si hipster pecinta film horror cult ini juga dapat menghadirkan chemistry yang tepat dengan Ammel yang menjadi Wesley. Di tangan mereka berdua, interaksi karakter Bianca dan Wesley yang berbeda bagai langit dan bumi jadi terasa alami dan sewajarnya remaja. 
 
Sayangnya, selain Whitman dan Ammel, pemeran pendukung lainnya tampil kurang meyakinkan. Ken Jeong sebagai Mr. Arthur sayangnya tidak bisa tampil sebagai tutor yang menginspirasi seperti Tina Fey (Mean Girls) atau Thomas Hadden Church (Easy A). Karakter Jess dan Casey yang dikisahkan sebagai sahabat Bianca pun kurang dieksplor, padahal mereka berdua jadi penggerak cerita. Gak tahu ya, mungkin karena kedigdayaan Bianca, karakter Jess dan Casey hanya jadi sempilan visual belaka, persis seperti pajangan. Enak dilihat, dipegang jangan. 
 
 
Sisi minus lain dari The Duff ada pada bagian paruh akhir. Setelah berjalan dengan begitu tajam dan ringkas, The Duff malah terjerumus ke arah 'menceramahi' penonton mengenai self-esteem dan label yang ada pada tokoh-tokohnya. Padahal, tanpa penjelasan yang terlalu bluntly ini pun The Duff sudah memberikan resolusi karakter utamanya.
 
Pada akhirnya, menyaksikan The Duff membuat saya teringat akan karya-karya teenlit karangan Meg Cabot : karakter utama yang keren namun punya masalah kepercayaan diri yang rendah, karakter utama pria yang awalnya disetting untuk jadi minor, kejadian yang membuat karakter utama mempermalukan dirinya sendiri, hingga aktualisasi diri. Toh pada akhirnya, film remaja yang bagus bukan sekedar mengenai 5 stereotype belaka, tapi dapat membuat penonton peduli dan mengingat asam-manisnya masa SMA. Karakter Bianca mungkin bukan tipe karakter yang terlihat cantik menawan, namun berhasil membuat kita untuk related dan peduli dengan apa yang ia alami.
 
Seperti kata Chrisye memang, tiada kisah kasih paling indah selain kisah kasih di sekolah.

Artikel Terkait