Bridge of Spies adalah film kerjasama keempat dari Spielberg dan Hanks yang diangkat dari kisah nyata di era Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet. Baca review aksi Bela Negara dari Tom Hanks disini!

Sutradara : Steven Spielberg
Penulis Naskah : Matt Charman, Ethan Coen, Joel Coen
Pemeran : Tom Hanks, Mark Rylance, Amy Ryan, Alan Alda, Austin Stowell
Era Perang Dingin adalah era yang sangat mencekam bagi kubu NATO dan Uni Soviet. Terjadi cukup panjang, sejak 1947 - 1997, perang ini menumbuhkan banyak prasangka dan teror, membuat 'komunis' jadi sebuah kata yang bisa membangkitkan amarah yang masif, sampai sekarang.
Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya saat mendengar 'Bridge of Spies'. Pertama, Spielberg kembali di kursi penyutradaraan setelah Lincoln di tahun 2012. Kedua, ini adalah duet kerjasama keempat Spielberg dan Hanks dalam feature film. Ketiga, ada nama Coen Brothers sebagai penulis naskah mendampingi Charman. Dan yang terakhir, tentu saja karena ada faktor Tom Hanks sebagai pemeran utamanya.
James Donovan (Hanks) awalnya adalah pengacara asuransi yang mendapat tugas pro bono untuk membela seorang terduga mata-mata Soviet, Rudolf Abel (Rylance). Posisi yang tidak menguntungkan, membuatnya jadi orang yang paling dibenci kedua, setelah Abel sendiri. Keamanan keluarga terancam dan reputasinya hancur oleh praduga orang-orang yang membenci komunis, namun sebagai warga AS yang baik, ia tentu berusaha sekeras mungkin untuk membela kliennya. Adel divonis bersalah, namun Donovan berhasil meyakinkan hakim untuk membiarkan Adel hidup.

Babak baru dimulai kemudian dimulai ketika seorang mata-mata AS, Francis Gary Powers (Stowell) tertangkap. Donovan diminta untuk menjadi negosiator tak resmi pemerintahan. Tujuannya jelas, Donovan diminta untuk memuluskan rencana pertukaran Abel dengan Powers. Jerman Timur kemudian malah memperumit keadaan dengan menangkap Frederic Pryor, mahasiswa hipster yang belajar ekonomi Soviet di era Perang Dingin.
Bisakah Donovan mengusahakan negosiasi dan mengembalikan Powers dan Pryor kembali ke tanah air tercinta?
Di awal, Bridge of Spies sekilas mengingatkan saya akan '12 Angry Man'. Emosi dan kemarahan masif yang harus dihadapi Donovan terasa relate dengan yang saat ini sedang kita alami. Bukan masalah apakah Adel benar seorang mata-mata, karena prasangka selalu mengikuti. Ditambah lagi dengan dialog dengan dry comedy dan humanis khas Coen Brothers, membuat paruh pertama film ini cukup menegangkan.
Lalu beralih ke bagian kedua, dimana kejadian negosiasi selama 5 tahun ini dibuat sesingkat mungkin oleh Spielberg. Jika di awal kita dibuat simpatik, bagian kedua inilah yang menjadi bridging yang mencekam. Menyaksikan Hanks berupaya menukar sandera sama serunya sama pertandingan Piala Presiden kemarin. Walau kontinuiti cerita masih terasa kurang rapat, terutama bagi penonton yang kurang familiar dengan konteks Perang Dingin yang ada.

Bridge of Spies jadi setangguh ini karena didukung oleh Hanks di garda terdepan. Hanks kembali membuktikan bahwa karakter Donovan memang diciptakan hanya untuknya : family man, lovable, humoris, sekaligus patriotik. Sebuah performa yang mengingatkan saya akan perannya di Saving Private Ryan. Rylance sebagai Abel pun tampil bersahaja, menimbulkan selipan humor dari karakternya yang mata-mata sejati.
Durasi 2 jam 21 menit dijamin tak akan terasa lama. Bridge of Spies adalah film politic thriller yang dibuat oleh orang yang tahu benar cara membangun tensi dan emosi penonton. Menyaksikan Hanks kembali di zona nyamannya, sama menenangkannya dengan semangkuk indomie hangat. Sebuah kisah drama penuh pergulatan moralitas dan prinsip kemanusiaan.
Percaya deh, Bridge of Spies pasti akan ada di dalam nominasi Oscar nanti. Filmnya nasionalis dan patriotis khas Amerika, in a good way. Sekaligus pengingat buat kita semua, bahwasanya ini adalah contoh Bela Negara yang sesungguhnya. Mestinya Menhan bikin nobar massal biar menginspirasi kita semua.