The Boy: Film Horor Lintas Genre

by dr. kawe

The Boy: Film Horor Lintas Genre
EDITOR'S RATING    

Dibuka dengan premis film horor, di akhir kisah genrenya malah berubah menjadi thriller. Sayang, cerita yang terlalu membosankan malah membuat tensi yang meningkat jadi turun dan pada akhirnya antiklimaks.

Seorang perempuan cantik asal Amerika bernama Greta menjawab panggilan untuk mengasuh seorang bocah di Inggris. Kepergiannya sendiri sekaligus untuk kabur dari mantan kekasihnya Cole yang senang melakukan kekerasan terhadapnya. Sesampainya di rumah keluarga Heelshire, ia berkenalan dengan Malcolm, seorang tukang pesan-antar barang yang bertugas mengirim bahan makanan ke rumah Heelshire. Baru hendak berbincang, obrolan mereka disela Mrs. Heelshire yang mengajak Greta untuk menemui putranya. Betapa terkejutnya perempuan ini saat mengetahui bahwa bocah yang dimaksud ternyata adalah boneka berwujud anak laki-laki. Namun, dengan bayaran tinggi dan masa lalu yang ingin dihindari, Greta memutuskan untuk bertahan di rumah itu meskipun terjadi banyak keanehan. Ada cerita apakah di balik boneka tersebut? Dan, benarkah Brahms, si boneka, bisa hidup?

Jika ada ungkapan “jangan nilai film dari trailer-nya”, maka hal ini bisa diaplikasikan untuk The Boy. Dari materi promosinya, saya sudah langsung terbersit “wah, semacam Annabelle nih kayaknya”. Pun begitu saat menonton, ½ awal film ini memperlihatkan rentetan adegan yang bisa dibilang “menyesatkan” karena tipikal film-film horor sejenis. Suara-suara aneh rumah besar yang gelap dan misterius, sebuah boneka menyeramkan, dan mimpi buruk. Jelata yang sudah sering menyaksikan film horor juga pasti bisa dengan mudah menebak arah film ini jika hanya berpegang pada paruh awal cerita. Namun, saat memasuki adegan saat Greta melakukan eksperimen dan bukannya takut, tapi malah takjub, genre film ini mulai berpindah hingga akhirnya menjadi sebuah thriller di 15 menit terakhir.

Mencoba memberikan twist yang tidak terduga di akhir kisah sayangnya tidak menutupi kelemahan naskah yang terasa bertele-tele dan dragging. Membuat penonton yang sudah bosan bisa jadi tidak terlalu kaget dengan kenyataan mengenai Brahms yang disajikan. Beberapa pertanyaan yang tidak terjawab pun terasa mengganggu hingga lampu bioskop dinyalakan, seperti kenapa Brahms memiliki sifat yang disebut oleh pasangan Heelshire ‘aneh’ tersebut? Apakah Brahms memang benar anak kandung ataukah anak angkat mengingat kalau dilihat dari foto atau lukisan seperti kakek-nenek dengan cucu daripada orangtua dengan anak. Tidak adanya penjelasan mengenai apa yang terjadi sebenarnya dengan teman bermain Brahms saat berusia delapan tahun serta nasib para nanny Brahms sebelum Greta juga menimbulkan tanda tanya besar yang sayangnya tidak terjawab sampai film usai.

Alih-alih berusaha memberikan jawaban yang mungkin akan membuat paruh akhir film diisi dengan dialog-dialog panjang, ... selaku sutradara lebih fokus membangun aksi yang mau tidak mau mengingatkan kita pada Jason Voorhees. Meskipun tidak se-bloody Halloween ataupun Texas Chainsaw Massacre, toh film ini tetap dikategorikan 17+ oleh LSF. Hiburan yang cukup menarik...hanya kalau Jelata sedang punya banyak waktu luang, tidak ada film bagus lain, dan terlalu bosan untuk diam di rumah. 

Artikel Terkait