Sebuah kisah cinta yang sederhana namun menyentuh dan menggugah.

Jika ada film yang begitu sederhana namun sangat menyentuh perasaan saya tahun ini, itu adalah Paperman. Paperman merupakan film animasi pendek yang disutradarai oleh John Kahrs. Memadukan cel animation dan CGI animation, Paperman bisa dikatakan sebagai sebuah pertanda bahwa film animasi gambaran tangan (cel-animation) masih memiliki tempat dan bisa berbicara banyak di tengah gempuran film animasi full CGI. Paperman sendiri diputar secara luas di depan film Wreck-It Ralph, salah satu animated feature rilisan Disney. Akan tetapi saya merasa harus membuat review terpisah untuk Paperman, karena film seluar biasa ini patut diberikan tempatnya sendiri.
Paperman berkisah mengenai pertemuan seorang pria (George) dan wanita (Meg), di mana pertemuan tersebut meninggalkan kesan yang mendalam bagi keduanya, terutama bagi si pria. Hal ini membuat si pria berusaha untuk mencari si wanita tersebut demi satu perkenalan. Simple dan ringan. Seringan pesawat kertas yang dilayangkan George (John Kahrs) untuk Meg (Kari Wahlgren). Namun sekali lagi saya katakan, sangat menyentuh dan menggugah.
Ya, Paperman memang lambang kesederhanaan, di mana jargon "less is more" benar-benar tercermin dalam setiap framenya. Selain menggunakan cel-animation, Paperman tersaji nyaris tanpa warna alias hitam putih. Hanya satu warna lain yang digunakan, yaitu merah. Paperman pun tanpa dialog. Suara yang keluar hanyalah suara keluh kesah para karakternya, kikik tawa, geraman rasa kesal, atau suara keresak kertas. Namun semua kesederhanaan tersebut justru menjadi sesuatu yang menyentuh, membuat kita tersenyum karena leluconnya terasa tulus, dan pada akhirnya memberikan perasaan menggugah yang sulit untuk dipadamkan. Hampir sepanjang durasi film ini, merinding menjalari tubuh saya, karena saya menyaksikan salah satu kisah cinta terbaik yang pernah saya saksikan. Dan jangan lupakan permainan bayangan yang dihadirkan di film ini yang membangun mood filmnya sendiri. Terlepas dari semua kelebihan tersebut, arahan John Kahrs, dan cerita oleh Clio Chiang serta Kendelle Hoyer; kekuatan Paperman ada pada music score oleh Christophe Beck. Musik yang modern bercampur dengan penggunaan orkestra terasa menyatu dengan jiwa filmnya walau kontradiktif dengan setting Paperman yang retro; musik yang mengiringi pencarian George akan Meg.
Saat ini, Paperman telah masuk daftar 10 besar calon nominator Oscar untuk kategori Short Film - Animated. Dan saya rasa Paperman memang pantas untuk itu, bahkan untuk nominasi dan menang sekalipun. Paperman adalah salah satu simbol kebangkitan (dan kebertahanan) cel-animation yang semakin ditinggalkan oleh banyak film maker. Dan di balik kesederhanaannya, Paperman adalah film yang mampu berbicara lebih banyak dibanding banyak film lain (bahkan feature film) yang berbicara tentang cinta.
