Beauty & The Best: Film Putih Abu-Abu Tanpa Ambisi Apapun

by dr. kawe

Beauty & The Best: Film Putih Abu-Abu Tanpa Ambisi Apapun
EDITOR'S RATING    

Film yang menyorot dinamika kehidupan SMA bisa dibilang mulai langka di layar lebar lokal. MD Pictures menghadirkannya kembali dalam Beauty & The Best yang diadaptasi dari novel Luna Torashyngu.

Masa SMA adalah salah satu masa yang penuh cerita. Dan bisa dibilang menarik untuk dituangkan ke dalam bentuk gambar bergerak. Sebut saja Ada Apa dengan Cinta, Eiffel I’m in Love, Me versus High Heels, dan masih banyak lagi kisah sejenis. Namun, bisa dibilang menginjak tahun 2010 hingga sekarang, tidak banyak film Indonesia yang murni mengangkat kisah SMA dan dinamikanya tanpa ada embel-embel horor ataupun menyisipkan sedikit tema kontroversial. Dan kini, mungkin hadir salah satu film remaja yang mengangkat dunia putih abu-abu dengan cara yang ringan dan fun.

Ira (Andania Suri) adalah siswi SMA yang juga menjadi seorang model di salah satu majalah remaja. Suatu hari, nilai Ira lebih tinggi dari Kelly (Chelsea Shania), anak terpintar di sekolah. Kelly tentu saja geram dan menuduh Ira mencontek hingga berujung pada tantangan kepada Ira untuk mengalahkan nilai-nilai Kelly saat UAS mendatang. Jika Ira kalah, ia harus lari keliling lapangan dan jika Kelly kalah ia harus menjadi asisten Ira selama gadis ini melakukan pemotretan. Di tengah rasa pesimis orang-orang sekitar terhadap kemampuannya, Ira memutuskan meminta bantuan Aldo (Maxime Bouttier), salah satu anak pintar yang penyendiri. Aldo yang awalnya menolak akhirnya luluh juga dengan permintaan Ira untuk mengajarinya, tetapi dengan satu syarat: Ira harus menjauhi modeling. Sanggupkah gadis ini berhenti berkarir di dunia yang dicintainya? Dan, apakah nilai-nilainya bisa mengalahkan Kelly?

Sejujurnya, saat memasuki bioskop untuk menyaksikan film ini, saya berusaha mengeset ekspektasi serendah mungkin. Film remaja terakhir yang saya tonton tidak memiliki kualitas yang cukup untuk membuat saya peduli dengan nasib tokohnya. Tapi di luar dugaan, film ini terasa ringan dan enak untuk diikuti tanpa terlalu berambisi membuat tokoh-tokohnya terlihat seperti baru belajar mengutip kata-kata bijak filsuf dunia.

Bagian yang menarik tentunya saat melihat Andania Suri sebagai Ira berakting. Aktingnya terlihat natural dan tidak dibuat-buat. Begitu juga interaksi dengan gengnya. Bahkan, salah  satunya, Akina Fathia (memerankan Olia) berhasil menjadi scene stealer setiap kali muncul. Suasananya pun bisa dibilang agak berbeda karena mengangkat kota Bandung sebagai latar belakang kisah, meskipun tidak terlalu memperlihatkan ciri khas kota ini. Berbeda dengan Jingga misalnya yang para pemerannya menggunakan bahasa Sunda, naik angkutan umum, dan beberapa kegiatan yang mungkin akan membuat Jelata yang pernah tinggal di Bandung merasa kangen.

Naskah pun tidak dibuat terlalu berlebihan dengan memasukkan banyak konflik karena memang hanya berfokus pada tema persaingan antara Ira dan Kelly saja. Dialognya, seperti yang sudah saya katakana di atas, mengalir apa adanya layaknya anak remaja biasa tanpa ada pretensi untuk mengutip pujangga-pujangga terkenal. 

Sayangnya, akting Andania kurang dapat diimbangi oleh Maxime Bouttier yang justru terlihat kaku dan seperti membaca naskah. Chelsea Shania sendiri meskipun aktingnya masih lebih baik daripada Maxime, tapi masih tetap kalah oleh Andania. Tidak hanya itu, salah satu kekurangan MD yang agaknya tidak pernah menjadi pelajaran bagi mereka adalah shot-shot aerial buram yang terus-terusan diperlihatkan. Dalam Talak 3, mereka pernah melakukan hal yang sama dan mereka juga mengulang hal ini di Beauty and the Best. MD seharusnya lebih berkaca pada sesama rumah produksi yang bisa dikatakan berinvestasi lebih untuk aerial shot, Soraya Intercine Films. Tidak hanya berhasil menyajikan aerial shot yang jernih, metode pengambilan gambar ini pun membuat filmnya terkesan mewah.

Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada pada Beauty and the Best, ini adalah salah satu film remaja yang menarik untuk diikuti tanpa ada ambisi apapun dan merupakan debut penyutradaraan yang menjanjikan dari seorang Andri Sofyansyah. 

Artikel Terkait