Wreck-It Ralph

by abn

Wreck-It Ralph
EDITOR'S RATING    

Bagaimana jika ternyata para karakter video game ternyata memiliki 'kehidupannya' sendiri setelah game arcade (pusat permainan) tutup di malam harinya?Inilah visualisasi manis sisi gelap manusia.

Bagaimana jika ternyata para karakter video game ternyata memiliki 'kehidupannya' sendiri setelah game arcade (pusat permainan) tutup di malam harinya? Bagaimana jika mereka memiliki perasaan dan bisa berkeluh kesah? Hal inilah yang diangkat film animasi CGI arahan Rich Moore, Wreck-It Ralph.

Ralph (John C. Reilly) merupakan nama salah satu karakter permainan video di pusat permainan Litwak's Arcade. Malam hari di Litwak's Arcade tidaklah sama dengan tempat lainnya, di mana para karakter video game meninggalkan 'pekerjaan' mereka pada video game mereka, dan bisa bersosialisasi dengan karakter video game lainnya dengan mengunjungi console game satu sama lainnya. Namun sayangnya, layaknya kehidupan manusia, para penjahat di video game akan terus menerus dicap sebagai penjahat dan ditakuti oleh banyak karakter 'baik'. Hal inilah yang dikeluhkan oleh Ralph dari game Fix It Felix Jr. Ralph merasa, sebagai karakter jahat yang diprogram untuk bertugas menjadi penghancur gedung pada gamenya, dia selalu dijauhi banyak orang dan kesepian. Padahal Ralph sendiri sesungguhnya ingin berteman dengan orang lain (dan mendapatkan medali), dan pekerjaan yang dilakukannya hanyalah sebatas pekerjaan, bukan dirinya yang sesungguhnya. Pada ulang tahun ke-30 video gamenya, Ralph akhirnya datang ke sebuah pertemuan para penjahat (layaknya pertemuan mantan pecandu) setelah sebelumnya selalu menolak datang. Di sana Ralph menyampikan semua keluh kesahnya kepada para rekan-rekan penjahatnya. Namun, Ralph justru diperingatkan oleh rekan-rekannya agar jangan melawan program dan jangan menjadi seperti Turbo, karakter video game yang menyabotase game lain karena iri akan permainan video yang baru tersebut. Dan pada akhirnya, Ralph harus cukup puas saat mereka mengucapkan sumpah mereka yang berbunyi "I'm bad, and that's good. I will never be good, and that's not bad. There's no one I'd rather be than me"

Kembali ke console video gamenya, Ralph menemukan fakta ternyata Felix (Jack McBrayer), karakter protagonis di permainannya, sedang mengadakan pesta perayaan 30 tahun. Ralph yang merasa merupakan bagian dari permainan video tersebut, tentunya ingin menjadi bagian dari pesta perayaan tersebut. Diapun naik ke puncak gedung di mana Felix tinggal dan akhirnya diijinkan bergabung ke dalam pesta walau dengan penuh keengganan. Namun, berpuluh tahun diperlakukan sebagai orang buangan membuat Ralph marah malam itu, dan akhirnya menghancurkan pesta yang sedang berlangsung. Menjadi sasaran kemarahan para Nicelanders (penghuni komplek apartemen tersebut) Ralph akhirnya menyatakan bahwa dirinya pun bisa berbuat baik, dan akan mendapatkan medali (ya, medali) untuk ditunjukkan kepada para Nicelanders sebagai bukti sikap baiknya. Sebuah kesempatan tiba, Ralph akhirnya bisa mendapatkan sebuah medali melalui permainan yang bernama Hero's Duty di mana karakter komandan wanita yang hebat, Calhoun (Jane Lynch), 'bekerja'. Namun, ini menjadi awal masalah yang membawanya masuk ke dalam permainan Sugar Rush, pertemuannya dengan Vannelope si malfungsi yang mencoba mendapatkan posisinya kembali di Sugar Rush, dan sebuah konspirasi besar dunia video game di Litwak's Arcade.

Satu hal yang saya rasakan setelah selesai (atau bahkan saat menyaksikan) Wreck-It Ralph: Film ini memuat terlalu banyak hal, baik dari segi sub-plot, pesan yang ingin disampaikan, maupun karakter serta referensi ke banyak video game yang pernah ada; dan karena terlalu banyak hal inilah, saya menulis sinopsis sepanjang itu di atas. Tapi ternyata Moore tidak keteteran dalam menyampaikan semua hal yang tertuang dalam naskah yang ditulis oleh Phil Johnston dan Jennifer Lee. Moore yang memiliki ide cerita film ini, dengan lancar menuangkan semuanya tanpa harus membuat filmnya kewalahan akan beban yang ditanggungnya. Setiap sub-plot dituturkan dengan sabar dan terjalin dengan sub-plot lainnya secara rapi. Tak heran jika film ini terlihat siap akan apa yang harus dilakukannya, karena Wreck-It Ralph merupakan hasil dari pengembangan selama berpuluh tahun. Ide ceritanya sendiri berasal dari Rich Moore, Phil Johnston, dan Jim Reardon; namun Disney sendiri telah memiliki ide tentang kehidupan para karakter video game sejak tahun 1980an yang akan diberi judul High Score. Namun proyek ini tertunda, hingga kemudian hidup lagi pada dekade 90an dengan judul Joe Jump. Setelah tertunda lagi, baru pada dekade lalu, film ini mengalami perkembangan yang signifikan dengan menjadikan karakter Fix-It Felix Jr. sebagai tokoh utama, hingga akhirnya menjelma menjadi film Wreck-It Ralph ini.

Masuknya John Lasseter sebagai Disney Chief Creative Officer memang memberikan angin segar bagi divisi animasi Disney. Wreck-It Ralph memiliki jiwa yang hampir serupa dengan film-film keluaran dapur Pixar: Terasa bersubstansi dalam balutan visual yang luar biasa indah. Layaknya permainan Sugar Rush, Wreck-It Ralph terasa manis dalam tema dan visual, tapi tidak takut untuk masuk ke dalam teritori yang lebih gelap. Tema pengorbanan dan kematian demi orang yang kita sayangi memang terasa sedikit gelap bagi film yang menyasar anak-anak. Namun itulah keberanian film ini dalam menyindir kepada generasi penonton sekarang, bahwa sikap berkorban itu tampaknya sudah semakin hilang. Selain itu, Wreck-It Ralph pun menyindir secara halus sikap manusia yang merasa dirinya adalah individu yang baik, sehingga merasa berhak mencap orang lain sebagai orang yang lebih buruk dari mereka (baca: jahat). Wreck-It Ralph menyindir sikap gelap manusia ini melalui kelakuan para karakter 'jagoan' dan karakter protagonis video game-video game, terutama para Nicelanders. Para Nicelanders sendiri menjadi cerminan tentang manusia yang berusaha menegakkan kebaikan, namun tanpa disadari bersikap buruk untuk mencapainya. Saya sendiri selalu yakin, orang baik yang merasa dirinya orang baik adalah manusia yang berbahaya. Karena saat manusia merasa dirinya sudah menjadi individu yang baik, dia tidak akan sadar bahwa dia sedang melakukan perbuatan buruk. Dan itulah salah satu pesan yang ingin disampaikan oleh Wreck-It Ralph.

Wreck-It Ralph akan bersaing pada ajang Academy Awards ke-85 nanti pada kategori Best Animated Feature. Persaingannya cukup berat, karena kategori ini diisi juga oleh Brave yang merupakan saudara kandungnya; lalu ada pesaing dari DreamWorks: Madagascar 3 dan juga Legends of the Guardians yang akan segera tayang secara luas. Namun, untuk masuk slot lima atau tiga besar, tampaknya mampu dilakukan oleh Wreck-It Ralph; dan bukan tidak mungkin bahwa dengan formula juara, film ini bisa menjadi pemenang.

PS: Sebelum film diputar, terdapat film animasi pendek berjudul Paperman. Ulasannya bisa kalian baca di sini.

Artikel Terkait