Dengan begitu banyak nama besar yang terlibat dalam film ini, apakah Mother's Day akan menjadi sajian yang menarik banyak kalangan?

Hari Ibu termasuk satu hari istimewa sedunia yang dirayakan hampir semua orang, tidak peduli di mana dan bagaimana keadaan dan ‘wujud’ si Ibu. Setiap anak berlomba-lomba membuat prakarya, surat cinta, bahkan sengaja bangun lebih pagi untuk membuat sarapan spesial untuk Ibu. Akan tetapi, pernahkan terpikir bagaimana Hari Ibu bagi para ibu itu sendiri? Apakah mereka excited menyambut Mothers Day, atau justru pusing dan stress ketika menyadari keseharian mereka jauh dari figur Ibu yang serba manis dan sempurna? Garry Marshall yang telah sukses mengangkat cerita manis dengan cast ‘keroyokan’ dalam film Valentine’s Day (2010) dan New Year’s Eve (2011) kini kembali mengangkat film dengan gaya serupa dalam tema Hari Ibu. Meski sudah mulai menuai kritik sama seperti dua ‘saudara’ tuanya, akankah film ini tetap menjadi box office menyusul film-film Marshall terdahulu?
Mothers Day secara garis besar berkisah tentang 5 keluarga; empat keluarga dengan perempuan sebagai sentral dan satu keluarga dengan single dad sebagai sorotan utama. Sandy (Jennifer Aniston), single mom dua anak yang dianggap aneh karena masih berhubungan super baik dengan si mantan suami; Jesse (Kate Hudson) yang diam-diam sudah menikah, punya anak, namun menganggap ibunya sebagai ‘musuh’ abadi; Bradley (Jason Sudeikis) yang masih berkabung karena ditinggal istri dan harus merawat dua anak perempuan yang beranjak remaja; Miranda (Julia Roberts) yang memilih untuk menjadi perempuan berhati dingin yang total dalam karir; serta Kristin (Britt Robertson) seorang mamah muda yang bolak-balik dilamar si pacar namun bolak-balik pula ia terus menolak karena alasan pribadi. Semua tokoh tinggal di lingkungan yang sama, saling berhubungan satu sama lain, dan diceritakan dengan alur yang semanis mungkin dari awal hingga akhir.

Garry Marshall telah dikenal sebagai pencetak film box office bergenre romantic comedy dan sebelum menggarap film ini, ia dan Julia Roberts sudah pernah bekerja sama dalam Pretty Woman (1990) dan Runaway Bride (1999). Dengan cerita berlatar masyarakat urban kelas menengah atas, kali ini Marshall mengangkat peliknya relasi ibu-anak dengan ragam usia yang berbeda-beda. Tim storyline pun mencoba mengangkat beberapa isu masyarakat urban yang sudah dianggap lazim di beberapa kalangan masyarakat namun masih terasa aneh bagi kalangan orang tua yang terbiasa hidup strict penuh aturan.
Film berdurasi 118 menit ini ingin mengangkat kisah ibu dari berbagai sudut pandang. Semua serba heboh, pusing, ribet, tapi dengan warna cerah khas musim panas yang meriah. Hadirnya Jennifer Aniston, Julia Roberts, dan Kate Hudson sebagai tokoh-tokoh utama sepertinya memang sengaja untuk menarik penonton. Akting dari para aktris yang sudah bolak-balik di layar lebar Hollywood itu memang bagus namun tidak terasa istimewa dan meninggalkan kesan yang spesial. Ada beberapa adegan yang semestinya bisa terasa ‘nyelekit’ tetapi karena dialog dan ekspresi yang biasa, efeknya pun jadi terasa datar-datar saja. Proses editing yang sedikit ‘ajaib’ juga lumayan mengagetkan sehingga ada adegan yang sudah bisa membangun emosi, tiba-tiba beralih ke adegan tokoh lain dengan feel yang sama sekali beda. Antiklimaks.
Overall, Mothers Day ini memang jenis film yang seru untuk ditonton sebagai hiburan dan mengisi waktu luang. Akting ribet ala Jennifer Aniston akan tetap terasa cute sampai kapanpun, senyum manis Julia Roberts pastinya bisa membuat hari Jelata jadi lebih bersemangat, dan dua aktor dalam film ini juga lumayan membuat mata Jelata yang tadinya ngantuk jadi lumayan segar. Di tengah gempuran Captain America: Civil War dan Ada Apa Dengan Cinta 2, mungkin film ini bisa dijadikan penyegaran buat Jelata. Toh namanya juga film, tujuan utamanya kan memang untuk hiburan. Happy International Mothers Day and enjoy!
