Satu lagi film adaptasi dari game yang punya banyak potensi untuk digali tetapi tak ada aksi.

"We work in the dark to serve the light. We are assassins"- Callum Lynch.
Assassin’s Creed mencoba untuk tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh film adaptasi game sebelumnya. Mereka melakukan produksi yang serius dengan mengapit Michael Fassbender dan Marion Cotillard untuk bergabung. Dua artis yang tentunya tidak akan mau bergabung dalam proyek yang tidak punya nilai jual. Kolaborasi keduanya bisa dibilang cukup solid dalam film ini. Memang mereka tidak butuh kemampuan akting super hebat untuk memerankan Callum Lynch dan Sophia Rikkin tetapi di film ini keduanya mampu tampil maksimal terutama Fassbender.
Mengambil masa dua periode waktu masa sekarang dan tahun 1445 dimana Callum Lynch memasuki ingatan leluhurnya Aguilar untuk menemukan apel suci yang menjadi kunci kebebasan berpikir manusia. Secara cerita film ini tidak memiliki struktur yang rumit kita hanya diajak untuk melihat apa yang dilakukan Aguilar di masa lalu melalui Callum Lynch yang terikat pada alat super canggih buatan Sophia. Tidak ada intrik, penyusupan, adu strategi atau apapun yang biasanya kita lihat pada film-film tentang oganisasi rahasia. Sayangnya adegan aksi yang diharapkan pun sangat kurang.

Film ini memiliki pembangunan cerita yang sangat baik dan detail dimana kita akan melihat tahapan yang di dapat Lynch sebelum akhirnya ia menjadi assassin. Namun yang membuat film ini jadi caci maki adalah tidak adanya klimak penyelesaian akhir dari apa yang sedang terjadi. Penonton dibuat seolah-olah sedang menyaksikan prolog yang panjang lalu dimana kita merasa film ini akan memasuki hal yang penting tiba-tiba film selesai. Meninggalkan penonton dengan rasa tanggung yang amat sangat. Aksi assassin yang ditunggu-tunggu akan terjadi ternyata hanya aksi sekali lewat yang bahkan tidak pantas menjadi akhir. Seperti menonton film panjang yang dibagi dua bagian dimana bagian keduanya mungkin takkan perah ada.
Kentara sekali akhiran yang menggantung ini adalah petunjuk jika cerita akan berlanjut pada sekuel dari Assassin’s Creed, tetapi perlu diingat jika penonton kecewa dan hasil pemasukan minim maka tak akan ada film-film selanjutnya. Padahal film ini sangat punya potensi menjadi film adaptasi game pertama yang bisa memuaskan dahaga penggemar. Namun film arahan Justin Kurzel (Macbeth) ini tidak sepenuhnya mengecewakan, diluar bagian akhir itu film ini mempunyai kecepatan bertutur yang enak, musik yang pas terutama yang muncul saat credit tittle.
Saya sangat berharap sekali jika film ini memperoleh hasil yang bagus dalam pemasukan sehingga part 2 film ini benar-benar terwujud dan kita bisa menyaksikan aksi assassin secara maksimal. Bagi penggemar game Assassin’s Creed mungkin film ini akan memuaskan kalian dan menantikan kelanjutannya tapi untuk penonton awam rasanya bakal lebih banyak yang mencaci.