Terlalu banyak efek CGI membuat komedinya jadi basi.

Mendengar nama Stephen Chow (Kungfu Hustle), orang-orang sudah pasti membayangkan sebuah film lucu dengan komedi slapstick tingkat tinggi, tapi berhasil membuat banyak adegan yang memorable. Kali ini, sang dewa komedi asal Tiongkok ini kembali menelurkan sebuah karya berjudul Journey to the West: The Demons Strike Back. Film ini adalah lanjutan dari Journey to the West: Conquering The Demons yang juga ditulis dan diproduseri oleh Chow. Hanya saja, untuk film kedua ini, Chow tidak duduk di posisi sutradara. Dirinya digantikan oleh Tsui Hark (Once Upon A Time In China).
Film ini menceritakan perjalanan lanjutan biksu Tang Seng dalam mencari kitab suci. Yah, kita semua sudah tahu tujuan akhir perjalanan empat sekawan ini. Namun, di film Journey to the West ini, sepertinya pencarian kitab suci tidak begitu penting, yang ditonjolkan adalah perjalanan Biksu Tang yang selalu bertemu dengan siluman, mulai dari yang cantik dan seksi hingga yang buruk sekali. Penceritaan terasa dinomorduakan karena film ini lebih menonjolkan kekonyolan yang kadang terlalu berlebihan. Untuk beberapa adegan memang sangat lucu, tetapi tidak sedikit juga yang menimbulkan senyum miris.

Yang paling mengganggu dari film ini adalah penggunaan efek CGI yang sangat berlebihan. Memang, kadang CGI yang digunakan membantu efek yang diinginkan, tetapi untuk adegan slapstick dengan komedi yang harusnya natural, dibalut dengan CGI yang berlebih jadinya malah tidak lucu. Hampir semua adegan akhir pertarungan adalah CGI. Aktor tampaknya tidak perlu bersusah payah untuk akting, cukup mengisi suara saja. Sayang sekali, padahal film ini bisa menjadi kolosal yang apik dengan pertarungan yang seru. Lupakan akting, cerita, serta editing karena itu tampaknya tidak terlalu penting di film ini.
Sedih rasanya melihat hasil akhir film ini, Chow seperti hilang sentuhan. Komedinya banyak mengulang dari lawakan-lawakan di film-film lain hanya eksekusinya saja yang berbeda. Film pertamanya yang sukses sepertinya membuat Chow yakin dengan film kedua ini. Sayangnya, hasilnya jauh dari kata memuaskan. Di tangga box office Tiongkok sendiri, film ini memang berhasil untung besar, tetapi lebih karena efek gimmick yang dihasilkan saat menyaksikannya dalam versi 4DX atau 3D.