Setelah merilis dua film sebelumnya dalam campuran animasi dan live action, kini Smurfs: The Lost Village dibuat sepenuhnya dalam bentuk animasi. Apakah mampu meningkatkan filmnya dari segi kualitas?
Smurfs: The Lost Village adalah sebuah penceritaan ulang dari Sony Pictures Animation dalam bentuk animasi. Ini merupakan keputusan yang sangat tepat untuk membawa kisah komik berdasarkan karya Peyo ini menjadi lebih substansial untuk dinikmati segala umur, terutama anak-anak. Sebelumnya, Sony juga sudah menelurkan The Smurf (2011) dan The Smurf 2 (2013) hasil besutan Raja Gosnell dalam gabungan antara animasi komputer dan live-action yang sayangnya mengecewakan dari segi kualitas. Apakah Smurfs: The Lost Village ini sebagus yang di harapkan?
Petualangan berawal saat Smurfette (Demi Lovato) mengetahui rencana jahat dari musuh abadi mereka, si penyihir Gargamel (Rain Wilson) yang ingin menangkap seluruh kawanan smurf yang ada di perkampungan antah-berantah. Dikawal oleh tiga smurf pria Hefty (Joe Manganiello), Clumsy (Jack McBrayer), dan Brainy (Danny Pudi), jadilah mereka empat smurf sekawan berangkat untuk memperingatkan para smurf yang ada di perkampungan tersebut. Poin lebih pantas diberikan untuk si kucing Azrael dan si vulture Harold yang benar-benar konyol dan jago melawak (spin off please).
Jelas sekali sang sutradara Kelly Asbury (Shrek 2) dibantu dengan Stacey Herman dan Pamela Ribon (Moana) selaku writer dan co- writer naskahnya ingin mengangkat isu feminis yang begitu kental di sini, tapi sayang hal tersebut tidak tersampaikan dengan baik dan berimbang. Alih-alih mau kelihatan “girl power”, tapi terlihat ngoyo dan terlalu banyak mengeluh. Memang sah-sah saja menyematkan isu feminis dalam media apa pun, tapi apa yang dilakukan oleh Pamela Ribon di Moana begitu jauh berbeda. Di Moana, isu feminis begitu bersahaja dan membumi tanpa harus terlihat menggebu-gebu, tapi cukup tersirat kuat.
Terlepas dari isu feminisnya, kualitas gambar animasinya boleh dikatakan cerah, tapi tidak ada yang begitu istimewa (hei, animasi model beginian itu sudah banyak). Detail setiap karakter smurf-nya yang sangat menggemaskan dan detail latar belakang yang penuh warna mungkin membuat anak-anak suka, tapi bagi orang dewasa akan sangat terasa membosankan. Musiknya juga sungguh jauh dari harapan untuk dibilang bagus. Kalau boleh dibandingkan dengan Trolls produksi Dreamworks Animation, film ini jauh di bawah kualitasnya. Sayang sekali Kelly Asbury belum bisa membawa kisah smurf yang legendaris ini menjadi lebih baik, sama halnya seperti dua film sebelumnya.
