Tidak ada alien yang memakan habis manusia di Mars.
Selama ini, Mars digambarkan sebagai planet yang kejam, brutal, dan keras. Keadaan itu tertuang melalui film-film yang juga mengikuti sifat planet tersebut. Namun, rupanya The Space Between Us berusaha untuk tidak terjebak dalam hal tersebut meskipun menjadikan Mars sebagai salah satu faktor penting dalam film ini.
Menilik dari materi promosi, baik itu poster maupun trailer, sudah terlihat bahwa film garapan Peter Chelsom (Serendipity) ini bukan ingin berfokus pada ekspedisi di Mars yang berakhir mengenaskan bagi seluruh timnya. Melainkan sebuah drama bagaimana seorang pemuda yang dilahirkan di Mars memutuskan kembali ke Bumi agar dapat bertemu dengan orangtuanya.
Tema ini jelas tidak biasa untuk sebuah film luar angkasa, namun memang berhasil memberikan nuansa yang baru. Sayangnya, cerita terasa berjalan lambat dan minim konflik selain usaha Gardner Elliot (Asa Butterfield) dengan kawan barunya, Tulsa (Britt Robertson), mencari keberadaan sang ayah dan pengejaran Nataniel Shepherd (Gary Oldman) serta Kendra Wyndham (Carla Gugino) terhadap Elliot.

Untungnya, interaksi antara Eliott dan Tulsa cukup menarik, terutama saat Eliott kaget atau terkagum-kagum dengan benda di Bumi yang belum pernah ia lihat atau rasakan. Bisa dibilang, The Space Between Us terasa berjalan datar hingga penghujung cerita yang seharusnya menjadi puncak konflik. Akting para pemainnya untunglah menyelamatkan itu semua.
Meski bercerita mengenai luar angkasa, namun perlu diingatkan lagi bahwa film ini tidak pamer efek spesial. Semua digunakan seperlunya untuk menggambarkan koloni manusia yang tinggal di Mars. Tidak ada penjelajahan penuh misteri ataupun makhluk aneh yang pada akhirnya memakan semua manusia tersebut. Semua berjalan normal dan apa adanya. Persis film ini.