Anda dijamin akan muntah pelangi dan merasa hangat luar dalam menonton film yang bertemakan spiritualitas ini.
Sutradara: Ang Lee
Pemain: Suraj Sharma, Irrfan Khan
Durasi: 127 min
Patel: All of life is an act of letting go but what hurts the most is not taking a moment to say goodbye.
Terdampar di sekoci, Pi Patel (Suraj Sharma) harus mendapati dirinya bersama Richard Parker, seekor macan Bengal yang ganas, Orange Juice, Orang utan, seekor Zebra dan Hyena. Berhasilkan Pi selamat?
Ang Lee menghadirkan sebuah kisah spiritual mengenai perjalanan seorang manusia dalam sebuah tragedi, khususnya tenggelamnya kapal Tsimtsum yang dinaiki Pi dan keluarganya. Pi sendiri berasal dari Pondicherry, India dan besar di keluarga yang memiliki kebun binatang. Pi adalah anak cerdas dan ia mencoba ketiga agama, Islam, Kristen dan Hindu untuk mencari Tuhan.
Karena mengurus kebun binatang mahal, maka keluarganya memutuskan menjual binatang itu ke Kanada dan memulai hidup baru disana. Malang tak dapat ditolak, kapal yang mereka tumpangi karam dan Pi harus menghabiskan sisa waktu di sekoci.

Pembaca bukunya sudah paham kemana arah filmnya dan Lee sebagai sutradara kawakan dengan pas berhasil menerjemahkan semangat bukunya ke dalam film. Pemilihan Suraj Sharma sebagai Pi juga tepat sebab dengan memilih aktor baru, maka penonton seolah benar- benar melihat Pi di sekoci itu.
Kemajuan teknologi-lah yang membuat adaptasi buku laris karangan Yann Martel dan menjadi favorit Barack Obama ini bisa difilmkan. Semua binatang di sekoci Pi adalah CGI dan tim produksi membangun tanki air 74 m x 30 m dengan kedalaman 3 m untuk mensimulasikan laut bagi Suraj Sharma dan kru.
Medium 3D yang digunakan sangat maksimal, tidak banyak benda dilemparkan ke dalam tapi penonton bisa merasakan depth-of-field yang bagus serta warna-warna lembut. Anda akan muntah pelangi menyaksikan indahnya adegan demi adegan. Tidak mengherankan jika AMPAS sudah memasukkan film ini dalam daftar bakal calon nominasi efek terbaik di ajang Oscar tahun depan.
Dengan bujet US$165 juta ini pertaruhan besar bagi Fox sebab film bercita rasa internasional ini (bahkan kru nya campuran India, Taiwan dan Amerika Serikat) tampaknya akan sulit untuk sukses secara finansial di Amerika Serikat. Padahal dari segi isi, filmnya sangat universal. Tapi resiko seperti ini perlu diambil sebab tidak banyak film mengangkat tema spiritualitas yang filmnya sederhana tapi memiliki makna yang dalam.
Anda tidak perlu merasakan bagaimana rasanya terdampar di perahu, tapi Anda bisa mendapatkan saripati filmnya yakni bagaimana iman bisa membuat seseorang menjadi kuat. Di sisi lain Anda juga bisa berpendapat bahwa film ini adalah alegori bagaimana seseorang memproses realitas yang ada di sekelilingnya.
Ini adalah kisah mengenai bagaimana bercerita memiliki kekuatan untuk menyembuhkan dan memahami keadaan sekitar karena layaknya Pi, kita semua juga hidup dalam ketidak pastian dan membutuhkan pegangan.