Jika bujet kurang, setidaknya perkuat di segi cerita
Satu lagi novel tentang remaja dengan kekuatan khusus dijadikan film layar lebar. The Darkest Minds mengambil judul yang sama dengan novel yang ditulis oleh Alexandra Bracken. Novel ini terbit di saat genre remaja dengan kekuatan atau situasi khusus sedang ramai dijadikan film, seperti Divergent, Maze Runner, dan The Hunger Games. Tapi, setelah itu tampaknya hanya The Hunger Games yang berhasil menuai keuntungan. Sisanya terseok-seok, bahkan gagal dilanjutkan karena sekuel yang tidak sesuai ekspektasi. The Darkest Minds tampaknya tidak belajar dari keadaan. Dengan cerita yang biasa saja, aktris pemain yang kurang terkenal, dan spesial efek yang murah, film ini dengan mudah terjun bebas dari segi finansial dan juga kritik.
Secara cerita tidak ada yang spesial dari The Darkest Minds, formulanya sama dengan yang lain. Ada suatu kejadian khusus melanda dunia, pemerintah punya agenda rahasia, dan ada seorang anak yang terlahir menjadi pahlawan. Tentu nantinya anak ajaib ini akan menjadi pemimpin yang membebaskan kaumnya. Setidaknya, dari premis yang biasa ini ada sesuatu yang bisa membuat penonton tertarik dengan kisahnya, tapi hal ini tidak terjadi pada The Darkest Minds. Latar cerita lemah dalam penggambaran, efek dari penyakit yang di film dinyatakan membuat anak-anak meninggal, kecuali yang punya kemampuan, kurang tergali. Setting cerita terlalu sempit, tidak tampak efeknya pada keadaan sekitar, namun bisa saja mereka beralasan karena ingin lebih fokus pada karakternya, benarkah?

Karakterisasi di film ini juga sangat lemah. Ruby Daly, sang terpilih yang diperankan Amandla Stenberg, sama sekali tidak menampakkan karakter seorang yang “berbeda”. Pun dengan karakter lainnya. Semuanya tampak biasa saja. Tidak ada emosi pribadi yang terpancar dari tiap karakter. Karakter utama lainnya yang digambarkan lari dari kamp penampungan anak-anak berkemampuan tampak terlalu nyaman di dunia yang katanya kacau. Semuanya terlalu biasa, mereka sudah terlalu biasa dengan kekuatan masing-masing sehingga konfliknya menjadi dangkal. Where is the wild side, man? Remaja dengan emosi yang masih labil kemudian mendapat kekuatan yang menakjubkan, seharusnya dunia sudah kacau. Tapi, mungkin semua anak-anak di film ini adalah anak baik-baik dan patuh pada orang tua.
Lalu, muncullah sang penjahat utama Clancy Gray (Patrick Gibson), dibandingkan dengan penjahat yang biasanya ingin menguasai dunia dengan kekuatannya, Clancy tidak lebih seperti anak kutu buku yang baru coba-coba bolos kelas, Tidak menakutkan, tidak tampak berbahaya, lebih seperti anak orang kaya yang sudah punya segalanya lalu bosan dan mencoba menguasai dunia, Ada yang salah dengan Casting Director film ini, entah kenapa semua aktor yang terpilih untuk bermain di film ini tidak ada yang bisa menghidupkan karakternya, atau memang karakter mereka di buku sedatar itu. Film ini juga minim konflik, baik yang umum maupun yang personal antarkarakter. Kalau pun ada maka tidak meninggalkan bekas pada ingatan penonton.
Mungkin memang sudah saatnya genre young adult dengan dunia fantasi ini mundur dahulu sementara. Setidaknya, hingga ditemukan materi yang lebih menarik atau pendanaan yang lebih mumpuni. Dunia fantasi butuh set produksi yang mahal dan kebanyakan menggunakan CGI, maka pasti butuh aktor yang lebih baik untuk bisa menghidupkan karakter di dunia CGI tersebut dan biasanya mereka tidak murah. Premis The Darkest Minds tidak jelek, ceritanya punya potensi menarik. Mungkin dengan tambahan pendalaman cerita serta bujet produksi yang lebih besar hasilnya akan lebih baik.
