Tidak hanya dari segi dialog, tapi naskahnya juga terlihat bingung.
Di minggu kedua tahun 2020, kita kembali
disuguhi film horor. Setelah Rasuk 2 yang
dibintangi Nikita Willy, kini ada Surat
Dari Kematian yang menghadirkan Carissa Perusset (Antologi Rasa), Endy Arfian (Pengabdi
Setan), dan Jerome Kurnia (Bumi
Manusia) sebagai pemeran
utamanya. Kisahnya seputar kehadiran sebuah surat kaleng yang meneror
orang-orang tertentu.
Kinan (Carissa) dan Zein (Endy) adalah dua teman di
sebuah universitas di Yogyakarta. Suatu hari, beredar kabar bahwa ada surat
kaleng yang meminta subjeknya melakukan sesuatu atau mereka akan mati. Kinan
dan Zein yang penasaran mendatangi lokasi hilangnya salah satu penerima surat
dan berusaha mencari petunjuk apa yang terjadi sebenarnya. Namun, mereka juga
harus waspada karena bukan tidak mungkin mereka juga akan menerima surat
tersebut jika terlalu jauh ikut campur.
Diadaptasi dari kisah Wattpad, karya Hestu Saputra
terasa lemah dari segi naskah, dialog, dan penceritaan. Adegan pembukanya yang
cukup membuat deg-degan ternyata tidak ada hubungannya dengan kisah utama
hingga film berakhir. Membuat kita bertanya-tanya, untuk apa adegan itu ada
jika tidak ada kaitannya dengan keseluruhan cerita? Menambah durasi mungkin?

Dari adegan pembuka tersebut, penonton langsung diajak
melihat teror yang dialami salah satu mahasiswa yang mendapat kiriman surat.
Anehnya, penempatan surat terkadang di luar logika sehingga, menurut kami,
berpotensi tidak sampai ke pengirim yang dituju. Contoh, surat dibiarkan
mengapung di atas danau yang dilewati salah satu karakter yang sedang olahraga.
Hal ini cukup berisiko mengingat karakter bisa saja lewat tanpa menoleh ke
danau, rute ini bukan rute yang sering dilalui, dan kertas yang basah bisa
hancur dan tenggelam oleh air.
Dialog-dialog yang dihadirkan Evelyn Afnilia selaku penulis
naskah pun tidak banyak membantu. Terlalu banyak dan tidak memberi jeda untuk
membuat penonton berpikir dan mencerna. Apalagi dengan cara bicara Carissa
dengan suara seraknya membuat dialog yang banyak dan berbelit itu kadang tak
terdengar. Hal ini diperparah dengan penampakan hantu yang tidak seram. Meski
cukup efektif sebagai jumping scare, namun
musik yang terlalu ramai dan muncul di setiap adegan menurunkan efek seram dan
terasa mengganggu. Kita mungkin kesal saat lampu bioskop menyala dan tahu bahwa
hantu-hantu yang muncul tidak ada hubungannya dengan jalan cerita utama.
Tidak mudah memang memindahkan buku ke bentuk visual.
Apa yang dibayangkan orang-orang belum tentu bisa diterjemahkan dengan baik
oleh penulis naskah mau pun sutradara. Sayang sekali, Surat Dari Kematian termasuk ke dalam deretan film itu meski
ceritanya cukup berpotensi.
