Dibawa penasaran di awal, berakhir dengan kekesalan.
Kisah tentang polisi muda yang bekerja sama dengan pembunuh serial pernah diangkat dalam film Silence of the Lambs. Diadaptasi dari novel karya Thomas Harris, film ini berhasil menyabet Oscar untuk kategori Best Picture, Best Director, Best Actor, Best Actress, dan Best Adapted Screenplay. Menonton Mindcage akan mengingatkan kita pada itu, tapi bagaimana dari segi kualitas?
Berkisah tentang perburuan yang dilakukan dua polisi terhadap sesosok pembunuh yang modus operandinya meniru Sang Seniman, pembunuh serial yang mengawetkan korbannya dan menghias mereka seperti patung dewi nan megah. Demi mencari peniru ini, para polisi terpaksa bekerja sama dengan Sang Seniman yang saat ini sedang dipenjara. Apakah kedua polisi ini berhasil mengungkap siapa sosok peniru ini?
Selama tiga perempat awal cerita, kita diajak menebak siapa si peniru ini. Apa dia salah satu polisi? Atau pengagum Sang Seniman yang mengirim surat selama dia dipenjara? Petunjuk demi petunjuk dikumpulkan Detektif Mary Kelly dan Jake Doyle demi membongkar sosok pembunuh ini. Sesekali, Mary datang untuk meminta bantuan Sang Seniman dengan menunjukkan foto-foto korban. Berharap ada petunjuk yang bisa diberikan.

Dengan durasi yang tergolong cepat untuk ukuran film thriller, memasuki pertengahan film, pace cerita terasa melambat. Alih-alih menghadirkan kucing-kucingan antara polisi dan pembunuh, kita hanya disajikan pergumulan batin yang dialami Mary saat menemui Sang Seniman di penjara. Tidak ada ketegangan dan urgensi saat korban satu per satu berjatuhan.
Setelah sibuk menebak-nebak, pada akhirnya, penonton disuguhi twist. Namun, bukannya memukau, malah = terkesan dipaksakan. Merusak semua rasa penasaran yang sudah dibangun dari awal. Andaikata penulis mencari twist yang lebih masuk akal, film ini mungkin masih tetap menarik hingga akhir.
