Werewolves: Saat Serbuan Serigala Jadi-Jadian Masuk Agenda Tahunan

by Redaksi

Werewolves: Saat Serbuan Serigala Jadi-Jadian Masuk Agenda Tahunan
EDITOR'S RATING    

Resident Evil + The Purge + bulan purnama = Werewolves

Mencari materi fresh yang bisa menarik minat penonton mungkin bisa dibilang sudah menjadi hal yang sulit di Hollywood sana. Film-film sekarang umumnya adalah remake, reboot, adaptasi, atau pun versi live action dari animasi. Tidak sedikit pula yang terinspirasi dari film lain untuk kemudian diolah menjadi sesuatu yang baru. Dan, Werewolves termasuk ke dalam kategori tersebut. Deretan cast-nya di-lead oleh Frank Grillo yang lebih banyak main di film-film aksi kelas B setelah mencuri perhatian sebagai Brock Rumlow/Crossbones di Captain America: The Winter Soldier

Mengambil masa sekarang, fenomena Supermoon entah bagaimana membuat jutaan orang di seluruh dunia berubah menjadi werewolves alias serigala jadi-jadian. Meski hanya berlangsung semalam, namun perubahan itu menimbulkan kekacauan dan banyak orang yang terbunuh karenanya. Wesley Marshall, mantan tentara yang kini bekerja di laboratorium, berusaha keras mencari penangkal perubahan ini, sekaligus memastikan bahwa keluarganya selamat dari serangan serigala ganas yang siap memangsa siapa pun tersebut.

Berbeda dari film-film lain yang mengetengahkan serigala jadi-jadian dengan memakai Inggris kuno dan hutan sebagai latarnya, Werewolves mengambil latar belakang era modern dan di kota. Efek spesial yang diperlihatkan saat manusia berubah menjadi werewolf pun cukup mengerikan dan gamblang. Untuk menggambarkan kebuasan mereka, beberapa adegan memperlihatkan daging robek dan darah mengucur dengan sangat eksplisit. Sebuah keputusan yang bisa dibilang tepat karena sulit menggambarkan betapa buasnya mereka jika film ini minus darah. 


Menariknya, perjalanan Marshall dari laboratorium menuju rumah keluarganya akan mengingatkan kita dengan film-film Resident Evil. Saat kota sudah dikuasai makhluk ganas, karakter utama harus bermain kucing-kucingan agar bisa selamat dari kejaran mereka. Tidak hanya itu, peristiwa Supermoon yang terjadi membuat semua orang bersiap-siap dengan membarikade rumah, membuat jebakan, hingga menyiapkan amunisi akan mengingatkan kita dengan film yang juga dibintangi Grillo, The Purge. Premisnya hampir mirip: saat kekacauan merajalela, orang-orang harus bertahan dengan segala cara demi selamat. Membunuh atau dibunuh.

Film seperti ini memang tidak butuh aktor kelas A, seperti Tom Cruise. Bujet tentu lebih tepat jika dialihkan ke spesial efek yang sanggup bikin ngeri penonton. Deretan cast-nya cukup memakai pemain yang mukanya familiar, tapi bukan lead actor/actress. Misalnya, Katrina Law (berperan sebagai Nyssa Al-Ghul di serial Arrow), Ilfenesh Hadera (film Baywatch), James Kyson (sebagai Ando di serial Heroes), hingga Lou Diamond Phillips. 


Sayangnya, film ini menyisakan satu pertanyaan besar yang sudah menggantung di benak penonton sejak menit pertama: asal-usul kemunculan werewolves. Bagaimana jutaan orang bisa berubah menjadi serigala beringas? Viruskah, mutasi, atau gen? Bagaimana fenomena Supermoon bisa memengaruhi kondisi tersebut? Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang tidak berubah? Memang tidak bisa atau tidak punya gen serigala? Sayangnya, alih-alih menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, film lebih berfokus pada aksi semata. Entah jika di kemudian hari ada sekuel, apakah hal ini akan dibahas.

Bagi para penyuka film monster yang suka memburu manusia, Werewolves jelas pilihan yang tepat. Brutal, adalah kata yang pas untuk menggambarkan film ini. Namun, jangan harapkan kedalaman karakter atau pengembangan cerita karena Werewolves jelas dibuat untuk memuaskan dahaga para pencinta film aksi dengan serigala jadi-jadian sebagai villain-nya.


Artikel Terkait