Bukan Yoko dan Bibi Lung, melainkan kisah Guo Jing dan Huang-Rong
Di Indonesia, kisah tentang Pemanah Rajawali atau Condor Heroes mungkin hanya dikenal para pencinta komik atau serial TV silat yang tumbuh besar di era 1980-1990-an. Masih ingat bagaimana hebohnya satu Indonesia saat serial The Return of the Condor Heroes muncul? Andy Lau dan Idy Chan tampil sebagai pasangan Yeung Gor (diadopsi ke dalam nama yang lebih mudah dilafalkan orang Indonesia menjadi Yoko) dan Bibi Lung. Soundtrack-nya yang dinyanyikan Yuni Shara pun melejit. Bahkan, Andy Lau sempat hadir di Indonesia untuk mempromosikan serial tersebut. Kini, hadir film terbaru yang kembali mengetengahkan sang pendekar dengan judul Legends of the Condor Heroes: The Gallants. Diangkat berdasarkan bab 34 hingga 40 dari novel The Legend of the Condor Heroes karya Jin Young yang naskahnya ditulis serta disutradarai oleh Tsui Hark.
Di tengah perang yang berkecamuk antara Bangsa Mongol dan Dinasti Jin, pemuda Guo Jing mencari Huang Rong, gadis yang dia temui saat sedang mengembara di Dataran Tengah untuk berguru dengan Tujuh gila dari Jiangnan. Namun, Huang Rong membawanya ke guru yang lebih baik, Pengemis Utara dari Lima Terhebat. Guo Jing pun belajar banyak banyak jurus hebat. Namun, suatu kejadian membuat Guo Jing marah besar dengan Huang Rong hingga menyebut bahwa ia tidak lagi ingin melihat wajah gadis itu untuk selamanya. Saat sadar bahwa yang terjadi hanya kesalahpahaman, Guo Jing menyesal dan mulai melakukan perjalanan untuk mencari Huang Rong hingga bertemu dan tinggal dengan bangsa Mongol. Sementara itu, Huang Rong sedang dikejar-kejar Racun Barat yang mengincar kitab silat miliknya. Konon, mereka yang menguasai kitab itu akan menjadi sangat kuat dan tidak terkalahkan. Berusaha kabur dari kejaran Racun Barat, Huang Rong ditolong Huajun, putri Genghis Khan, dan dibawa ke perkemahan untuk diselamatkan dari tembakan racun. Apakah pada akhirnya Guo Jing dan Huang Rong akan bersilang jalan dan berhasil bertemu kembali?

Seperti yang sudah disebut di atas, aslinya, kisah The Legend of the Condor Heroes adalah novel wuxia karya Jin Young dengan format trilogi. Yang paling terkenal di Indonesia adalah buku kedua, The Return of the Condor Heroes, dan dilanjutkan dengan buku ketiga The Heaven Sword and Dragon Saber atau yang adaptasi serialnya di sini berjudul To Liong To alias Pedang Pembunuh Naga. Di luar itu, mungkin tidak banyak yang kenal. Generasi sekarang mungkin juga tidak tahu bagaimana cerita-cerita silat ini menjadi teman pengantar tidur atau cerita yang dibahas ramai-ramai dengan teman di sekolah saat sedang mencapai puncak kepopulerannya di era 1980-1990an. Karena itu, wajar jika film ini sendiri memang tidak banyak peminatnya di Indonesia.
Durasinya sendiri memang cukup panjang, yaitu 2 jam 27 menit. Tidak hanya menghadirkan perang besar antara Mongol dan Dinasti Jin, ada juga pertarungan-pertarungan kecil namun seru antara karakter baik dan jahat. Selain adu ketangkasan dan kelihaian silat, mereka pun melakukan pertarungan tenaga dalam. Mengingatkan kita dengan film-film silat yang berjaya di eranya, namun tentu dengan koreografi serta efek yang sudah jauh lebih baik. Durasi yang panjang tersebut untungnya berhasil dikemas dengan cukup baik oleh Tsui Hark dengan menghadirkan banyak aksi dengan sesekali selipan drama di sana-sini. Kalau dihitung, mungkin dramanya hanya 30%, sementara pertarungan dan perang mendominasi sebanyak 70%. Timing-nya pun terasa pas. Tidak ada adegan drama yang berlama-lama. Ketika penonton hampir mulai merasa bosan, Tsui Hark dengan lihai memindahkan ke adegan aksi sehingga penonton diajak untuk fokus lagi.

Adegan aksinya pun bisa dibilang khas film-film silat dulu, namun dengan perkembangan zaman, spesial efek yang dihadirkan lebih terlihat nyata. Misalnya, adegan pertarungan Guo Jing dengan pemilik kalung ular atau saat melawan Racun Barat. Pusaran angin dan pusaran api yang berada di sekitar mereka tidak terlihat tempelan dan cukup menakjubkan. Meski begitu, dengan rating 13+, film ini memang tidak menghadirkan banyak kekerasan yang eksplisit sehingga cocok ditonton bersama keluarga, khususnya mereka yang suka kisah-kisah dunia persilatan.
Satu hal yang sebenarnya cukup mengganggu adalah cinta segitiga yang terjadi antara Guo Jing, Huang Rong, dan Huajun. Meski menjadi sumber drama dalam film ini, namun jika seandainya dihilangkan pun tidak akan memengaruhi jalannya cerita. Memang, durasi akan lebih pendek, namun kisahnya sendiri menjadi lebih fokus. Mungkin, karena keterbatasan durasi dan sektor mana yang harus dikedepankan sehingga cinta segitiganya pun terasa hanya sekadar tempelan, selingan di antara berkecamuknya perang besar.
Bagi mereka yang hafal dan tumbuh besar dengan nama-nama dalam dunia Condor Heroes, film Legends of the Condor Heroes: The Gallants jelas menjadi satu hiburan yang jangan sampai dilewatkan. Bagi penyuka aksi dan film-film wuxia, bertambah lagi satu tontonan wajib yang harus disaksikan.
