Perjuangan tanpa henti
WB Pictures tahun ini bisa dibilang cukup berjaya. Bagaimana tidak, tujuh film mereka berturut-turut mencatatkan pembukaan di atas $40 juta. Dimulai dari Minecraft Movie, Sinners, Final Destination Bloodlines, F1: The Movie, Superman, dan Weapons. Kini di bulan September, WB Pictures menghadirkan sebuah film yang jelas mengundang rasa penasaran orang lewat cerita dan deretan pemerannya. Disutradarai Paul Thomas Anderson (There Will Be Blood), One Battle After Another terinspirasi dari novel Vineland oleh Thomas Pynchon yang rilis 1990 dan menghadirkan jajaran cast yang cukup impresif, yaitu Leonardo DiCaprio, Sean Penn, Benicio del Toro, Regina Hall, Teyana Taylor, dan Chase Infiniti. Film ini pun juga berhasil mendapat review positif dari pemerhati film, seperti IGN, Collider, dan BBC yang memberikan nilai sempurna.
Bob Ferguson dan Perfidia Beverly Hills adalah bagian dari kelompok militan dengan nama French '75. "Kegiatan" mereka adalah membebaskan para imigran yang ditahan pihak berwajib dan menciptakan teror di bangunan-bangunan pemerintahan agar tuntutan mereka diperhatikan. Di tengah usaha revolusi tersebut, Bob dan Perfidia jatuh cinta dan memiliki anak. Namun, menjadi ibu bukanlah panggilan hati Perfidia sehingga ia memutuskan kembali turun ke jalan untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang tertindas. Sayangnya, hal ini menjadi pemicu bagi rentetan aksi yang akan dilakukan seorang perwira kejam, Col. Steven J. Lockjaw, 16 tahun kemudian.
Dari materi promosi, One Battle After Another bukan film yang mudah untuk ditebak arahnya. Yang jelas, kisahnya sempat menyinggung sedikit soal revolusi. Namun, saat ditonton secara penuh, revolusi bisa dibilang hanya sempalan. Di baliknya, ada kisah drama keluarga, pengkhianatan, dan perjuangan. Naskahnya bisa dibilang salah satu yang terbaik. Meski berdurasi 2 jam 41 menit, cerita tidak terasa bertele-tele, padat, dan tetap fokus. Banyak momen yang membuat penonton terus mengikuti jalannya cerita dan tidak menguap bosan. Film ini bisa dibilang tidak memiliki alur linear karena tidak ada konflik meledak-ledak yang menjadi puncak film untuk kemudian masuk ke bagian "penyelesaian". Bahkan, penutupnya pun terasa seperti bagian dari adegan yang bisa ditaruh di mana pun. Sektor musik juga menjadi juara di sini. Melodi sama yang terus diputar ulang di adegan-adegan penting akan terasa membekas, pun setelah kita keluar bioskop.

Tentu saja, yang patut dipuji adalah kepiawaian akting para pemerannya. Lupakan Leonardo DiCaprio yang di sini terlihat seperti bapak-bapak kikuk dan banyak omong. Sean Penn jelas aktor yang tepat dan luar biasa dalam menggambarkan sosok Col. Steven J. Lockjaw. Keras, sulit ditebak, dan pendendam. Karakter ini berhasil diperankan dengan baik oleh Penn. Bahkan, dengan kekuatan akting Penn, penonton seakan diyakinkan bahwa karakter Lockjaw terasa nyata. Chase Infiniti sebagai Willa Ferguson pun punya akting yang kuat sehingga kemunculannya jelas jadi salah satu screen time yang patut ditunggu. Benicio del Toro sebagai Sergio St. Carlos, guru karate Willa, pun juga salah satu karakter yang unik. Di tengah situasi menegangkan, kerusuhan, pengejaran polisi, hingga melarikan diri, Sergio tetap tenang. Ketenangan, gaya, dan ucapannya menjadi salah satu bagian yang mengundang tawa di film ini.
Sadar bahwa punya deretan pemain dengan kemampuan akting mumpuni, Anderson rupanya tidak ingin menyia-nyiakan itu. Nyaris 3/4 film, di-shot secara close up sehingga penonton bisa melihat bintik-bintik di wajah Willa, kerut-kerut lelah di wajah Bob, ekspresi santai pada Sergio, mau pun kerasnya dunia tentara di wajah Lockjaw. Shot close up ini juga berarti micro expression yang dihadirkan tidak akan luput dari mata penonton dan itu dibayar lunas oleh para pemainnya.
Kehadiran film dengan durasi panjang namun tidak terasa melelahkan memang jarang terjadi. Ditambah naskah yang kuat dan deretan cast yang berakting prima, rasanya One Battle After Another bisa dibilang akan menjadi lawan yang tangguh saat musim penghargaan dimulai nanti.
