R.I.P.D. : "Bangkit Kembali dari Kematian...atau Tidak."

by Chewbacca

R.I.P.D. :
EDITOR'S RATING    

Mengejutkan, kontributor kami bahkan memberikan titel "Film Terburuk Tahun Ini'! Seburuk apakah duet Bridges - Reynolds yang diangkat dari komik ini?

Ada momen bodoh dimana agent Men In Black, diperankan oleh Tommy Lee Jones, menenangkan partner amatirannya (Will Smith) selagi mereka mengemudikan mobil terbalik di atap terowongan lalu lintas dengan kecepatan sekitar 1000 mil/jam. Tentu saja Smith kaget dengan kegilaan itu. Adegan ini lucu karena sang sutradara Barry Sonnenfeld dan para timnya mengerti betul akan penempatan dan tempo komedi.

R.I.P.D. mencoba mengulangi formula yang dulunya dipakai Men In Black. Sayangnya, apa yang tadinya berpotensi menjadi film pop dengan special effect yang keren ini malah dihancurkan dengan tempo komedi yang dengan sok asiknya diarahkan oleh Robert Schwentke. Duo Jeff Bridges dan Ryan Reynolds berperan menjadi dua polisi yang sudah tewas dan kini bekerja di kantor polisi di dunia akhirat. Mereka punya kualitas chemistry sebagai buddy cops yang menawan. Sayangnya, mereka dipaksa untuk memberikan warna yang lebih ke dialog yang tidak mungkin Howard Hawks sendiri pun pernah tulis seumur hidupnya.

Ryan Reynolds kurang lebih hanya mencoba menjadi sekedar Ryan Reynolds. Dia adalah seorang polisi sok keren yang akhirnya dibunuh oleh partner-nya sendiri (Kevin Bacon). Reynolds pun pergi menuju dunia akhirat dan menemukan bahwa dia direkrut kembali menjadi polisi anggota R.I.P.D. (Rest In Peace Department). Dia dipasangkan dengan Rooster Cogburn, eh... maksud saya itu Jeff Bridges. Keduanya pun ditugaskan bekerja di bumi kembali. Tentunya dengan rupa yang berbeda. Reynolds itu yang membosankan, sedangkan Bridges supermodelnya.

Dan mengenai originalitas? Mungkin sensasinya sama seperti seseorang yang pertama kalinya mengalami malam pertama pernikahan. Dalam kata lain, bukan hal baru lagi. Tidak ada hal baru disini. Mungkin bukan masalah besar jika film ini menghibur. Sayangnya tidak. Malahan, RIPD terkesan hampa. Visual effectnya pun separah efek awan di Poltergeist dan tidak ada satupun adegan aksinya yang menghibur. Oh, tidak lupa dengan bunyi gaduhnya yang semakin memperparah adegannya yang kosong. Mungkin RIPD akan menjadi flop terbesar tahun ini, jika bukan dekade ini.

Untungnya, Kevin Bacon terlihat bersenang-senang dengan peran antagonisnya. Hal sebaliknya berlaku pada Reynolds yang sudah memuakkan setelah dua puluh menit pertama berlalu. Dia gagal menciptakan ciri khas dalam karakternya. Begitu juga dengan peran pendukung lainnya. Satu-satunya penyelamat hanyalah Jeff Bridges. Tampaknya dia sadar bahwa dari awal film ini tidak akan terlihat bagus. Tapi untungnya hal itu tidak menghentikannya menjadi jagoan berkarikatur. Hanya performanya sendiri yang menghibur untuk disaksikan, dan begitu banyak nafas kehidupan dia berikan ke dalam kehampaan RIPD. Malahan, setelah dua puluh menit berlalu, saya sendiri berhenti fokus ke dalam plotnya dan mulai memusatkan perhatian kepada banyak hal-hal kecil yang Bridges bawakan. Dia dibekali dengan berbagai ekspresi wajah yang lucu dan dengan sukses mampu menyampaikan semua dialog terbaik film ini. Namun tetap saja RIPD itu film terjelek yang pernah saya tonton. Dan itu sangat disayangkan, karena performanya patut disaksikan disini. Mungkin kita cukup menyewa home videonya dan langsung fast-forwarding ke semua porsi adegannya?

Arahan yang diberikan Robert Schwenke ini pun terlalu amatiran untuk film seperti ini. Layaknya seorang yang kebingungan ketika pertama kalinya diberikan gadget mutakhir. Dibekali dengan cerita special effect comedy, harusnya RIPD bisa melebihi film-film sejenis Gremlins, Beetlejuice, Ghostbusters, ataupun The Mask. Screenplay nya sendiri seperti mencontek banyak dari Men In Black yang tentu saja hasilnya gagal total. Well, mungkin kualitasnya setara dengan Men In Black 2. Dan tentu kalian mengerti maksud saya.

 

Artikel Terkait