Kartini Siap Tayang April 2016, Peran Pejuang Wanita yang Sebenarnya akan Diungkap

by Ireuna


 
April selalu diingat sebagai hari lahir sesosok perempuan Jawa yang semasa 25 tahun hidupnya berada dalam kungkungan tradisi, namun selalu mengungkapkan pemikirannya akan kemodernan dalam surat-suratnya. Ya, 21 April yang merupakan hari lahir Raden Ajeng Kartini dirayakan setiap tahun oleh seluruh bangsa Indonesia sebagai Hari Peringatan akan perjuangan Kartini mengangkat berbagai persoalan perihal emansipasi perempuan. Namun, pendapat berbeda justru hadir dari pemikiran Hanung Bramantyo dan Robert Ronny dari Legacy Pictures. 
 
Setelah pembuatan film Soekarno, muncul keinginan Hanung mengangkat karakter Kartini dalam sebuah film. Namun, sejarah film lama Kartini karya Sjumandjaja (1984) yang tidak begitu sukses di pasaran membuat niat Hanung sedikit terhambat karena banyak pihak menolak memproduseri proyek ini. Pertemuannya dengan Robert Ronny yang juga merupakan seorang sutradara menghasilkan titik temu. Bagi Robert, pemikiran Kartini soal pendidikan sejalan dengan pemikirannya. Karena itulah, ia sepakat memproduseri film yang akan digarap oleh Hanung ini.
 
Saat ini, Hanung dan tim, termasuk Dirmawan Hatta, penulis skenario, sedang dalam tahap riset besar-besaran. Tidak tanggung-tanggung, ia bahkan mengundang Hadi Priyanto, Kabag Humas Setda Jepara yang juga periset dan penulis buku Kartini, Pembaharu Peradaban, untuk menyamakan informasi serta persepsi akan karakter Kartini yang akan diangkat dalam filmnya ini. Hadi juga merupakan perwakilan yang ditunjuk oleh pihak keluarga Kartini yang berharap bahwa film ini akan lebih banyak menunjukkan kebenaran sosok Kartini sebenarnya yang tidak diungkap di film terdahulu.
 
 
Agaknya, film Kartini garapan Hanung ini akan lebih banyak mengangkat sisi lain Kartini yang tidak pernah diungkapkan oleh guru-guru di sekolah. Di film ini, akan ditunjukkan sisi lain Kartini yang membuatnya layak disebut sebagai pahlawan sehingga hari lahirnya selalu diperingati seluruh bangsa Indonesia setiap tahun. Ia memang tidak berjuang dalam perang seperti Cut Nyak Dien atau Dewi Sartika. Tapi, ia berjuang melawan tradisi yang mengungkungnya, yang membuatnya harus berhenti sekolah karena dipingit pada usia 12 tahun. Kartini tidak melawan tradisi dengan menghardik ayahnya. Ia justru tidak berdaya dalam sistem masyarakat Jawa yang sudah dibuat. Tapi, di tengah penerimaannya terhadap sistem yang suda ada, ia memberontak melalui pemikirannya dalam surat-suratnya. 
 
Ketika ditanya terkait pemilihan aktris Dian Satrowardoyo yang akan memerankan karakter Kartini, Hanung mengatakan bahwa ia ingin menghadirkan sosok Kartini yang lincah. Kartini dipanggil Trinil oleh ayahnya karena selalu bertanya, seperti burung kecil yang selalu berkicau. Menurut Hanung, Dian cukup mewakili sosok Kartini yang seperti itu. “Dian harus menjadi seorang yang lincah, penuh semangat, sebagaimana yang kita lihat dalam diri Cinta (karakter Dian dalam film Ada Apa dengan Cinta?)”.  Produksi film Kartini direncanakan akan dimulai pada Desember 2015 ini. Selain riset, saat ini proses casting juga sudah dimulai untuk para pemeran utama. 
 

Artikel Terkait