
Siti. Sebuah judul yang singkat, padat, jelas, dan tidak ambisius dalam usaha mereka menarik penonton. Sesuai dengan judulnya, film ini memang menggambarkan mengenai sosok seorang wanita Jawa bernama Siti yang harus bekerja sebagai teman bernyanyi di sebuah tempat karaoke murahan pinggir jalan.
Setelah sempat diputar di berbagai festival dan acara-acara nonton bareng gerilya yang diselenggarakan dari satu tempat ke tempat lain, Siti sontak mengundang perhatian publik ketika berhasil meraih penghargaan tertinggi insan perfilman Indonesia, Piala Citra, di tahun 2015 sebagai Film Terbaik setelah sebelumnya juga berhasil meraih piala di kategori Penata Musik Terbaik dan Penulis Skenario Asli Terbaik. Piala Citra ini sendiri sekaligus melengkapi deretan penghargaan yang telah diraih film yang disutradarai oleh Eddie Cahyono ini, di antaranya Singapore International Film Festival 2014, 19th Toronto Reel Asian International Film Festival 2015, dan 9th Warsaw Five Flavours Film Festival 2015.
Meskipun diproduksi dengan dana rendah, yaitu Rp150 juta, namun film yang diproduseri oleh Ifa Isfansyah (Pendekar Tongkat Emas) dan melakukan syuting hanya selama enam hari di sekitar Pantai Parangtritis, Yogyakarta ini mendapat berbagai respon positif. Dan kini, setelah hanya “bergerilya”, Siti akan ditayangkan di jaringan bioskop XXI dan CGV blitz mulai 28 Januari 2016. Jangan sampai terlewat menyaksikannya, Jelata.

Siti. Gadis muda asal Yogyakarta ini tinggal di sebuah rumah sederhana bersama dengan suaminya, Bagus; putra semata wayang mereka, Bagas; dan ibu mertuanya Darmi. Pekerjaan sehari-hari Siti adalah berjualan peyek jingking di pantai pada siang hari dan dilanjutkan dengan menjadi pemandu karaoke di tempat karaoke ilegal bersama teman-temannya. Hidup Siti yang miskin semakin dipersulit dengan aksi tutup mulut Bagus yang menolak berbicara setelah Siti bekerja sebagai pemandu karaoke. Hal ini tentu saja membuat Siti kesal dan marah hingga suatu hari ia bertemu dengan polisi muda bernama Gatot. Gatot sendiri menyatakan ketertarikannya kepada Siti dan bersedia menunggu sampai Siti berpisah dengan suaminya. Akankah gadis muda ini menerima pinangan Gatot ataukah tetap dengan sabar di samping Bagus sampai sang suami mau berbicara lagi padanya?
