Satu lagi adaptasi romance yang berhasil dari Korsel
Dari sekian banyak formula film romance, satu yang masih laris sampai saat ini adalah yang bertema missed chances alias kasih tak sampai. Dulu saling suka dan selalu bersama, namun karena terbentur satu atau banyak hal, hubungan indah jadi terpaksa karam. Ibaratnya, cinta yang tepat di waktu yang tidak tepat. Begitu film selesai, dijamin rasa bittersweet dan sesak di hati akan tertinggal lama di hati penonton. Tahun ini, Korea Selatan menghadirkan Once We Were Us, romance adaptasi film Tiongkok Us and Them (2018) yang bisa dinilai berhasil dalam total admission dan juga penceritaan. Rilis tepat di hari terakhir 2025, Once We Were Us kini sudah ditonton lebih dari 2.4 juta orang, tertinggi di genre romance sejak tujuh tahun lalu.
Once We Were Us mengisahkan Eun Ho (Koo Kyo Hwan) dan Jeong Won (Mun Ka Young) yang kembali bertemu di usia dewasa. Dulu, di usia 20-an, saat masih duduk di bangku kuliah, keduanya menemukan kenyamanan antara satu sama lain. Eun Ho, pemuda desa yang ambisius, ingin merantau dan membangun perusahaan startup untuk mengembangkan game buatannya. Sementara, Jeong Won yang tumbuh besar di panti asuhan, ingin menjadi arsitek, lalu punya rumah sendiri dengan halaman luas di Seoul. Bersama, keduanya bersahabat dalam suka dan duka. Jatuh bangun memberi support dalam keterbatasan, dan lalu.. jatuh cinta. Masa sulit di era krisis ekonomi dan kebahagiaan lewat hal kecil mereka jalani berdua, sampai pada akhirnya realita membenturkan Eun Ho dan Jeong Won. Perpisahan pun terjadi, membuat pertemuan di usia dewasa jadi episode pahit yang mendewasakan diri masing-masing.
Disutradarai Kim Do Young, aktris yang banting setir menjadi sutradara dan sukses meraih piala Best New Director di Baeksang Arts Awards lewat film ‘kontroversial’ Kim Ji Young: Born 1982, Once We Were Us bisa dibilang film romance yang genuine namun penuh realita. Ditambah lagi, film ini menghadirkan Koo Kyo Hwan dalam ‘skin’ baru, setelah sebelumnya berkali-kali muncul di proyek crime thriller serta film arthouse. Dipasangkan dengan Mun Ka Young yang punya pembawaan elegan dan stylish, lengkap sudah. Sepanjang durasi 114 menit, mata dimanjakan dengan kemampuan akting yang delicate, detail dalam ekspresi, dan juga color grading yang memukau.

Yang patut di-highlight dari film ini adalah gaya penceritaan yang tak biasa. Masa lalu yang penuh kenangan digambarkan dengan full color, sementara masa sekarang (present day) ditampilkan dalam format hitam putih. Keputusan ini membuat pengalaman menonton Once We Were Us jadi terasa lebih menyentuh dan puitis. Tidak ada yang diburu-buru, rasa pedihnya bisa langsung terasa. Adegan emosionalnya pun tidak memaksa penonton untuk mengeluarkan air mata. Justru dari dialog yang keluar, terutama di masa dewasa, setiap kalimat yang meluncur bisa membuat hati penonton ikut porak-poranda.
Keputusan untuk memilih Koo Kyo Hwan dan Mun Ka Young sebagai pemeran utama juga tepat. Keduanya bisa mengisi gap antara kisah cinta di masa kuliah hingga reuni tak terduga di usia dewasa. Tidak perlu perubahan gaya atau make up yang drastis, Koo Kyo Hwan dan Mun Ka Young bisa menampilkan sisi apa adanya sesuai karakter yang mereka bawa. Jika dicari kekurangannya, mungkin penggambaran masa lalu saat keduanya masih struggle dalam hidup sehari-hari. Dibandingkan dengan film versi original, masa sulit keduanya kurang terlihat nelangsa. Ruang kamar yang apa adanya masih terlihat artsy dengan beberapa hiasan etnik di sana-sini. Beberapa wardrobe pun masih terlihat baru dan kurang lusuh.
Overall, Once We Were Us bisa jadi tontonan yang indah dan menyakitkan dalam waktu bersamaan. Pengemasan yang dewasa dengan ending masuk akal justru jadi kekuatan besar di film ini. Tak perlu menjual mimpi, apalagi kisah cinta yang too good to be true. Pada dasarnya, sepenggal kisah yang dialami Eun Ho dan Jeong Won banyak dialami orang lain. Closure-nya yang jelas justru membuat kita lega, dan bisa jadi penyemangat siapa pun yang masih berjuang dalam perasaan serupa. Karena bagaimanapun juga, kisah cinta di masa lalu tidak sepatutnya dikenang sambil bersedih hati. Itu justru pengalaman berharga yang bisa memperkaya hidup kita.
