Hachiko minggir dulu, sekarang saatnya nangisin Gohan!
Sepertinya banyak yang sepakat, film Thailand produksi GDH selalu masuk list tontonan wajib begitu rilis di bioskop. Lewat karakter universal, kisah yang lekat dengan kehidupan sehari-hari, ditambah gaya penceritaan yang delicate serta plot rapi, pengalaman menonton plus perasaan campur aduk akan terasa begitu film selesai. Setelah tahun 2024 kita dibikin menangis lewat hubungan cucu dan nenek di How to Make Millions before Grandma Dies, tahun ini, GDH merilis Gohan yang premisnya relate dengan banyak orang: memelihara dan merawat anjing liar.
Gohan dibuka dengan kisah sang anjing saat masih kecil dan sering ‘mangkal’ sambil bermain kantong plastik di depan minimarket. Karena satu kejadian, anjing ini diasuh dan diberi nama Gohan (yang berarti ‘nasi putih’ karena bulunya) oleh Hiro (Kitachima Yasushi), seorang insinyur yang sudah masuk masa pensiun. Bertahun-tahun berlalu, Gohan di usia dewasa bertemu dengan animal influencer Goong (Nopphand Boonyai) dan karyawannya yang baik hati, Namcha (Poe Mamhe Thar) yang memberi nama Brownie kepada Gohan. Lalu, di masa tua, Gohan bertemu Jaidee (Tontawan Tantivejakul) dan Pele (Jinjett Wattanasin), pasangan muda yang kemudian memberinya nama baru: Hima. Sepanjang masa hidup Gohan, ia mengalami banyak hal bersama para pemilik yang berbeda. Suka dan duka dilalui bersama, menjadikan hidup Gohan penuh cerita, mulai dari canda tawa sampai air mata.
Satu hal yang menarik dari Gohan, film ini diperankan tiga anjing berbeda dan digarap oleh tiga sutradara berbeda. Kisah Gohan kecil (diperankan puppy bernama Kori) disutradarai Chayanop Boonprakob. Gohan dewasa diperankan oleh Meechok dan disutradarai Nattawut Poonpiriya (Bad Genius). Sementara, Gohan tua diperankan oleh Hima dan kisahnya digarap oleh Atta Hemwadee. Meski begitu, sepanjang durasi 141 menit, plot film terasa ringan mengalir dan tidak ada cela. Penonton dibuat turut menyaksikan bagaimana setiap Gohan bertemu dengan orang berbeda, jenis cinta yang ia terima juga bermacam jenisnya. Ada cinta tanpa syarat dari seorang pemilik yang sudah tua dan tidak butuh apa-apa. Ada cinta yang melindungi dan bertahan bersama dari rasa takut dari seseorang yang baik hatinya. Ada juga cinta yang terasa seperti rumah, yang menjadi tempat beristirahat seutuhnya dari lelahnya dunia.

Cara ketiga sutradara mengambil hati penonton lewat shoot singkat dari ekspresi Gohan juga patut diacungi jempol. Tiap lirikan, dengusan, dan ekspresi Gohan di sepanjang film selalu ngena di hati. Membuat semua yang menonton, terutama yang memelihara anabul di rumah, ikut meleleh sambil tersenyum. Tidak cuma itu, konflik yang dibangun di setiap bagiannya juga dibuat dramatis, namun lagi-lagi amat mungkin terjadi di dunia nyata. Membuat penonton yang awalnya hanya berkaca-kaca, jadi menumpahkan banyak air mata. Sama seperti film GDH lainnya yang memiliki premis ringan namun meninggalkan ‘rasa’ yang dalam, Gohan juga sangat menguras emosi. Jangan lupa bawa tisu yang banyak karena akan sangat berguna untuk menampung air mata yang terus tumpah. Meski begitu, film ini juga tidak "sesadis" itu membuat kita menangis sesenggukan karena cukup banyak menyelipkan adegan segar yang membuat kita tertawa lepas.
Untuk yang masih maju-mundur atau takut terlalu sedih dan meninggalkan trauma mendalam seperti saat menonton Hachiko (2009), jangan khawatir. Seperti yang sudah diberi tahu oleh para cast di masa promosi Gohan, tidak ada adegan anjing mati di sini. Yang ada, hanyalah perasaan hangat tentang bagaimana kita para manusia yang bersedia mencintai dan merawat hewan dari kecil sampai dewasa dan tua. Tidak cuma itu, kita juga akan merasakan dari sudut pandang para hewan, terutama yang lahir dan besar sendirian, betapa damai dan berterima kasihnya mereka karena ada manusia yang mau mencintai dan merawat dengan sepenuh hati.
