Dear You: Kisah Perjuangan Manis dari Generasi Perintis

by Redaksi

Dear You: Kisah Perjuangan Manis dari Generasi Perintis
EDITOR'S RATING    

Kerasnya perjuangan dan cinta lewat lembaran surat

Di masa lalu, bertukar kabar lewat surat kawat (telegram) dan mengirim uang untuk keluarga selalu jadi momen penting yang ditunggu. Satu kalimat dalam selembar kertas bisa jadi kabar baik yang menenangkan hati. Kiriman uang juga menjadi lambang kesetiaan dan penyemangat untuk terus berjuang bersama. Di era Perang Saudara dan pasca Perang Dunia 2, ratusan ribu imigran Tiongkok yang bekerja di Asia Tenggara mengirim qiaopi (gabungan iantara surat pribadi dan bukti atau kiriman uang yang dikirimkan oleh warga Tionghoa perantauan kepada keluarga mereka di kampung halaman) secara rutin untuk keluarga. Dari abad ke-19 sampai ke-20, Qiaopi jadi catatan sejarah atas perjuangan hidup warga untuk menghidupi keluarga secara layak, dan mengangkat derajat negara dari keterpurukan. Benang merah inilah yang diangkat oleh Lang Hongchun sebagai sutradara dan penulis naskah dalam membuat Dear You, sleeper hit rilisan April 2026 yang mengejutkan box office Tiongkok. Lewat modal 14 juta Yen, film ini berhasil meraup 1.9 miliar Yen di sepanjang penayangan.

Di masa kini, Sogriu (Wu Shaoqing) hidup tenang di kota bersama anak dan cucunya. Saat ulang tahun Sogriu ke-80, sang cucu Hiou Ui (Zheng Runqi) memutuskan ingin mencari Den Bagsheng (Wang Yantong), kakeknya yang menetap di Thailand. Kabarnya, Den Bagsheng telah lama menikah lagi, menjadi miliarder, dan punya banyak yayasan pendidikan. Berbekal alamat lama dari tumpukan Qiaopi yang ia curi dari sang nenek, Hiou Ui malah menemukan fakta baru yang mengejutkan sekaligus mengiris hati. Tentang kisah hidup dan perjuangan Den Bagsheng di perantauan, cintanya yang besar terhadap Sogriu dan anak-anak, serta hadirnya sosok wanita bersahaja bernama Zia Lamgi (Li Sitong) yang berperan besar bagi keluarganya.

Mengangkat cerita keluarga yang cenderung personal dengan benang merah qiaopi, menjadi daya tarik Dear You. Lang Hongchun sebagai sutradara dan penulis naskah mampu memberi kesan nostalgia yang kuat, terutama dari segi artistik. Pencahayaan dan tata kota yang mengingatkan kita pada film Tiongkok di akhir 80-an dan tahun 90-an. Semua serba sederhana, dengan bangunan dominasi kayu, serta makanan yang disajikan apa adanya. Penggunaan dialek khas juga jadi keunikan tersendiri, membuat penonton yang terbiasa dengan film Mandarin sedikit tergelitik untuk memperhatikan dialog lebih detail. 


Suasana pasca perang yang serba prihatin juga diperlihatkan secara terang-terangan di sini. Kehidupan warga Tiongkok yang hidup pas-pasan di perantauan serta susahnya akses pendidikan ditunjukkan dengan gamblang. Den Bagsheng dan Zia Lamgi sebagai sosok muda yang penuh semangat harus mengajarkan baca tulis secara diam-diam ke anak-anak di tengah larangan untuk mengenyam pendidikan. 

Cara sutradara dalam menghadirkan konflik juga sangat believable. Sederhana jika dialami di masa kini, namun menyesakkan jika terjadi di masa lalu. Betapa sebuah kesalahpahaman bisa terjadi selama puluhan tahun hanya karena sehelai surat yang tidak sampai. Uniknya, di dalam film ini ada satu lagu berbahasa Melayu yang diperdengarkan dari awal hingga akhir, mengiringi kisah manis di lembaran surat Den Bhagseng dan Songriu. Lirik lagu yang penuh makna benar-benar jadi gambaran indahnya masa lalu, bertukar kabar dengan keluarga, serta betapa berharganya sebuah surat yang berisi cinta.

Secara keseluruhan, Dear You merupakan film yang hangat dan penuh nostalgia. Tipe film yang cocok ditonton bersama orang tua, yang dulu selalu tegar menjalani hidup meski banyak kesulitan. Dengan konflik getir yang sangat personal, membuat kita menghargai perjuangan generasi perintis saat dulu membangun keluarga di tengah keterbatasan yang ada.  


Artikel Terkait