Begini jadinya saat alien mendarat di pesisir Korea.
Dari sekian banyak jajaran filmmaker Korea Selatan, nama Na Hong Jin sudah memiliki daya tarik tersendiri. 3 film terdahulunya (The Chaser, The Yellow Sea, The Wailing) sukses meninggalkan review beragam dan kesan mendalam, membuat banyak sinefil menunggu karya selanjutnya dari sang sutradara. Tahun ini, Hope akhirnya rilis setelah melalui proses produksi sejak 2023. Film ke-4 ini kembali mempertemukan sang sutradara dengan aktor Hwang Jung Min yang sebelumnya berperan di The Wailing. Film yang kabarnya beranggaran paling besar se-Korea Selatan ini juga semakin mencuri perhatian karena menggandeng pasutri Alicia Vikander dan Michael Fassbender dalam jajaran cast.
Dibuka lewat adegan ditemukannya seekor sapi besar yang mati di tengah jalan, membuat polisi setempat Bum Seok (Hwang Jung Min) terheran-heran. Si pelapor, Sung Ki (Jo In Sung) beserta kawanannya yang berprofesi sebagai pemburu, merasa aneh karena luka cabik yang ada di tubuh sapi itu sangat besar. Mengira ada serangan harimau buas dari perbukitan, Bum Seok melapor ke atasan sambil bergegas memperingatkan warga Hope Port (yang rata-rata lansia) untuk waspada. Sayangnya, di sepanjang perjalanan, Bum Seok dan Sung Ki justru menemukan kenyataan yang lebih tak masuk akal. Hampir seluruh warga dan ternak tewas dalam keadaan mengerikan. Desa dan pasar hancur berantakan, sementara mobil, motor, hingga traktor musnah tak berbentuk. Tidak hanya itu, di dalam hutan pun, banyak manusia dan hewan yang tewas. Ternyata, ada sekelompok makhluk aneh dengan ukuran sangat besar, mengamuk dan menghancurkan seluruh kota.
Misterius, menegangkan, dan mencengangkan. Sepertinya tiga kata ini cocok untuk menggambarkan Hope di 30 menit pertama. Cara Na Hong Jin membangun plot dari awal benar-benar membuat penonton merasakan kengerian sama seperti yang dirasakan Bum Seok, Sung Ki, dan warga Hope Port. Semua kekacauan ditampilkan tanpa aba-aba. Manusia dilempar, bangunan ditabrak, alat transportasi dihancurkan dengan begitu mudah. Setiap kehancuran di dalam desa ditampilkan dengan akurat dan presisi. Di bagian ini, departemen artistik sungguh patut diacungi jempol. Bangunan kantor, pasar, jalanan, area pesisir, rumah warga, sampai warung dibuat rusak dengan detail berbeda. Mayat tersangkut di plafon, hewan besar terjepit di tempat tidak lazim. Rasanya seperti melihat isi rumah yang diacak-acak oleh maling di siang bolong.

Menggandeng sinematografer Hong Kyung Pyo (The Wailing, Parasite, Harbin) juga pilihan yang tepat. Angle kamera dinamis berkejaran dengan sang monster, konsisten menyorot dengan cepat dari eye-level. Membuat penonton terus menunggu kapan, bagaimana, dan dari sudut mana makhluk ini muncul? Seberapa besar ukurannya sampai damage level-nya bisa sebegitu dahsyat? Butuh waktu cukup lama untuk menanti momen ini sehingga mungkin bisa memantik rasa bosan. Namun, begitu monsternya muncul satu per satu, daya tarik film ini kembali terasa kuat.
Satu yang ‘menyelamatkan’ momen kejar-kejaran di sepanjang film ini adalah detail akting Hwang Jung Min yang mencuri perhatian. Terbiasa tampil penuh wibawa di banyak filmnya, di sini Hwang Jung Min hadir sebagai sosok polisi desa yang sok keras namun aslinya penakut dan tidak tegaan. Gestur, langkah kaki, dan detail gerak tubuhnya sungguh mampu mengocok perut, ditambah lagi ocehannya yang seperti meracau. Comedic timing-nya pas, tidak membuat film ini jadi ‘banyak omong’ seperti film Korea kebanyakan. Kolaborasinya dengan polwan Sung Ae (Jung Ho Yeon) dalam menghadapi monster juga seru, meski kemunculan Sung Ae dan bagaimana dia bisa punya banyak senjata lumayan meninggalkan pertanyaan besar.

Aksi Jo In Sung sebagai pemburu yang mencari monster di dalam hutan juga tak kalah mengagumkan. Pembawaannya yang cool namun cermat dalam perhitungan dipastikan membuat banyak penggemar meleleh. Adegan ikonik dalam hutan yang dimunculkan di teaser? Ini masih belum ada apa-apanya dibanding keseluruhan penampilannya di sepanjang film. Terhitung, ada 3 adegan Jo In Sung yang dipastikan bikin satu bioskop menjerit, tercengang, dan bersorak riuh.
Overall, Hope memang layak ditunggu penayangannya. Meski terdapat plot hole dan kurang memberi latar konflik kuat sehingga menyisakan tanda tanya di beberapa bagian, film ini sungguh menghibur lewat sinematografi yang fantastis. Jika ada kesempatan, silakan tonton dalam format IMAX.
