Motor City: Pria Tidak Bercerita, tapi Musuh Langsung Binasa

by Redaksi

Motor City: Pria Tidak Bercerita, tapi Musuh Langsung Binasa
EDITOR'S RATING    

Dialog? Apa itu dialog?

Nama Alan Ritchson memang sedang menanjak akhir-akhir ini. Dalam setahun, proyek aktingnya bisa dibilang cukup banyak meski itu film-film kelas B. Di ranah televisi, ia kembali lewat Reacher musim keempat, lalu di layar lebar ada Motor City dan, beberapa bulan lagi, kita bisa menyaksikan Runner. Ritchson sepertinya tinggal butuh satu film besar lagi yang memajangnya menjadi pemeran utama untuk bisa menyamai popularitas Dwayne Johnson yang mulai terlihat berumur. Kembali ke Motor City, film ini sudah tayang sebulan lalu di Amerika. Tapi, sayangnya kurang mendapat sambutan hangat karena hanya meraih pendapatan $2,9 juta dari bujet $30 juta. Selain Ritchson, film ini juga dibintangi Ben Foster, Pablo Schreiber, Lionel Boyce, dan Shailene Woodley. 

Seorang eks napi John Miller dikisahkan berencana melamar kekasihnya, Sophia, perempuan yang ia tolong saat hampir disiksa oleh mantan pacarnya, seorang bos mafia, Reynolds. Kebahagiaan tersebut sayangnya hancur saat John dituduh memiliki narkoba dan ditahan 25 tahun penjara. Namun, itu semua hanya jebakan Reynolds yang membalas dendam karena John sudah merebut Sophia. Sadar bahwa apa yang ia alami karena perbuatan bos mafia itu, John pun berupaya melarikan diri dibantu kedua temannya. Niatnya menyelamatkan Sophia dan membuat Reynolds membayar untuk semua kejahatan yang ia lakukan. 

Sudah bisa ditebak, memakai Ritchson sebagai pemeran utama artinya bahwa film ini akan sarat adegan aksi. Mulai dari yang bersenjata hingga perkelahian tangan kosong. Salah satu adegan yang jangan dilewatkan adalah perkelahian di dalam lift. Dengan area yang terbatas, John harus melawan kepala polisi korup yang menjadi anak buah Reynolds. Siap-siap meringis karena pemakaian senjata tajam di sini sangat terang-terangan sehingga para penonton bisa ngilu melihatnya. 


Ceritanya sendiri tergolong klise: seseorang yang berusaha hidup tenang malah dijebak dan kekasihnya direbut sehingga, ujung-ujungnya, ia berniat balas dendam. Premis ini tentu sudah banyak diangkat dalam film-film sejenis, tentu yang membedakan adalah pengemasannya. Sadar bahwa plot yang diangkat cukup standar, Motor City berusaha menghadirkan sesuatu yang berbeda agar meninggalkan kesan bagi para penontonnya. Film ini sangat amat minim dialog. Secara keseluruhan, mungkin hanya 10 kalimat yang diucapkan sepanjang 103 menit durasinya. Bukan, ini bukan film bisu. Para karakternya berdialog, tapi ditimpa oleh score, soundtrack, bahkan alunan piano di dalam restoran. Namun, kalau dipikir-pikir, film tentang aksi balas dendam memang tidak butuh banyak dialog. Hanya lewat pandangan mata, gestur tubuh, atau tingkah-laku, penonton sudah bisa menangkap jalan cerita yang ingin disampaikan oleh naskahnya. Yang penonton cari, tentu bagaimana pembalasan itu akan dilakukan dan sebrutal apa. Untuk ini, Motor City sukses menyampaikan itu kepada para penikmatnya. 

Motor City mungkin punya kisah yang sudah cukup sering dijadikan plot di layar lebar, namun dengan cara penyampaiannya yang unik, film ini menghadirkan pengalaman menonton yang berbeda. Ritchson jelas "dewa"-nya untuk film-film aksi seperti ini.