By Any Means: Duet Polisi dan Hitman Membongkar Kasus Sensitif

by Redaksi

By Any Means: Duet Polisi dan Hitman Membongkar Kasus Sensitif
EDITOR'S RATING    

Kerja sama tidak terduga demi membongkar pembunuhan

Aktor Yahya Abdul-Mateen II bisa dibilang sedang naik daun. Setelah tampil sebagai tokoh penjahat Black Manta di dua film Aquaman, ia mencuri perhatian lewat serial Watchmen (2019) sebagai Doctor Manhattan dan serial Wonder Man (2026) sebagai Simon Williams atau Wonder Man yang membuatnya dinominasikan Primetime Emmy Award. Kemampuannya bermain di film aksi maupun drama membuat orang menyandingkannya dengan Denzel Washington. Kini, ia beradu akting dengan Mark Wahlberg dalam sebuah film yang berdasarkan kisah nyata, By Any Means

Situasi Mississippi tahun 1960-an bisa dibilang tidak menguntungkan bagi kulit hitam. Rasisme masih banyak terjadi. Meskipun Amerika mulai bergeser menjadi negara yang lebih demokratis, namun masih ada orang-orang yang membenci kulit hitam. Salah satu yang menjadi sasaran kebencian adalah Vernon Dahmer, seorang pemimpin gerakan hak-hak sipil. Saat Dahmer ditemukan mati di rumahnya, Wayne Strider, satu di antara sedikit agen kulit hitam di FBI, ditugaskan untuk menyelidikinya. Namun, ia tidak sendirian karena ada Gregory Scarpa yang membantunya, seorang pembunuh bayaran mafia yang menjadi informan FBI. 

Film ini mengangkat ketegangan antarras dengan berlatar di Mississippi tahun '60-an. Hal ini bukan tanpa sebab karena Mississippi merupakan salah satu negara bagian Amerika yang sangat kuat isu rasisme dan segregasi rasial di tahun tersebut. Selain itu, Mississippi merupakan salah satu pusat Gerakan Hak-Hak Sipil dan terkenal karena pembunuhan tiga pekerja hak-hak sipil, yang juga dipaparkan di awal film, yaitu James Chaney, Andrew Goodman, dan Michael Schwerner. Karakter Scarpa-lah yang berhasil menemukan jenazah ketiganya. 


By Any Means sendiri mengetengahkan salah satu kejadian penting di Mississippi pada 1966, yaitu terbunuhnya Dahmer, seorang tokoh  yang giat menyuarakan hak kulit hitam untuk ikut memberikan suara dalam pemilihan di Amerika. Fokus filmnya adalah usaha Strider dan Scarpa menemukan para pelakunya yang mereka yakini berasal dari kelompok anti-kulit hitam Ku Klux Klan. Interaksi antara dua orang berbeda pandangan dan profesi jelas menjadi salah satu faktor yang menarik di film ini. Strider yang bukan agen lapangan dan taat dengan peraturan berhadapan dengan Scarpa yang cuek dan percaya bahwa semua hal bisa diselesaikan dengan kekerasan.  Gesekan di antara keduanya bisa membuat penonton terbelah: mau taat hukum tapi penyelidikan tidak berjalan atau memakai kekerasan yang sudah jelas melanggar hukum tapi membuahkan hasil?

Meskipun premisnya adalah penyelidikan, namun By Any Means tidak memakai formula film-film detektif pada umumnya. Kita sudah tahu siapa pelakunya, tinggal mengikuti perjalanan Scarpa dan Strider dalam mengungkap nama-namanya. Tidak ada momen-momen menyusun petunjuk atau menebak-nebak. Semua dilakukan dengan kekerasan dan penuh kecurigaan. Bisa dibilang, By Any Means berhasil membawa kita membayangkan bagaimana waspadanya orang-orang kulit hitam pada era itu, terutama mereka yang vokal pada hak-hak sipil.