Digger: Butuh Fokus Lebih karena Bukan Film Sejuta Umat

by Redaksi

Digger: Butuh Fokus Lebih karena Bukan Film Sejuta Umat
EDITOR'S RATING    

Saat dunia di ambang kehancuran, apa Tom Cruise kembali jadi penyelamatnya?

Digger mungkin adalah salah satu film Alejandro G. Iñárritu yang paling sulit untuk disukai. Bukan karena filmnya tidak punya sesuatu untuk ditawarkan, justru sebaliknya. Film ini menyimpan banyak lapisan yang baru terasa setelah berbagai twist-nya mulai terbuka. Masalahnya, untuk sampai ke sana, penonton harus melewati perjalanan yang panjang dan melelahkan. Ritmenya lambat, informasinya bagai sengaja ditahan-tahan, dan beberapa bagian seakan menguji sekuat apa kita tidak tertidur di dalam bioskop. Kita diminta bersabar sebelum paham ke mana semua itu bermuara.

Tom Cruise memainkan satu lagi peran eksentrik. Aktingnya bisa dbilang cukup bagus, tapi sulit menghilangkan kesan bahwa kita sedang melihat Cruise yang memainkan karakter aneh. Untungnya, masih banyak deretan aktor dan aktris berbakat yang membuat Digger tetap menarik untuk diikuti. Riz Ahmed, Emma D'Arcy, John Goodman, Sandra Hüller, dan sejumlah pemain lainnya memberikan warna sehingga dunia Digger terasa lebih hidup. Merekalah salah satu alasan penonton masih bisa bertahan saat narasinya mulai terasa terlalu lambat.

Menariknya, sebelum twist mulai dibongkar, Digger menghadirkan sesuatu yang sangat relevan dengan situasi sekarang: manusia terus mengejar kemajuan, tapi di satu sisi, perlahan menghancurkan tempat yang mereka tinggali. Bongkahan es raksasa yang menjadi bagian penting film ini seperti pengingat bahwa kiamat mungkin tidak perlu datang dari luar angkasa karena manusia sendiri cukup mampu menciptakannya. Keserakahan, kesombongan, dan obsesi terhadap kemajuan akhirnya menjadi senjata makan tuan.


Lalu, hadirlah twist demi twist yang membuat film ini perlahan berubah bentuk. Digger memang film yang menuntut penonton untuk bersabar sampai akhir. Jika berhasil melawan rasa kantuk, payoff yang diberikan akan memukau dan membuat berbagai potongan cerita sebelumnya terasa memiliki makna baru. Namun, semua kejutan tersebut tidak menjadikan film ini sebuah tontonan yang wajib disaksikan dalam format IMAX. Visualnya memang wah, tapi kekuatan utamanya justru berada pada ide, atmosfer, dan konstruksi narasinya. Alih-alih butuh disaksikan di layar besar, film ini butuh perhatian lebih penontonnya.

Pada akhirnya, Digger adalah film yang sangat jelas tidak dibuat untuk semua orang. Kalau kita berhasil melewati durasinya tanpa melirik jam atau tertidur, mungkin kita certified sinefil. Ada kepuasan saat akhirnya paham ke mana semua lapisan cerita ini bergerak. Tapi, sebagai pengalaman menonton secara keseluruhan, film ini terasa terlalu lambat dan terlalu berat. Justru karena sifatnya yang eksperimental dan tidak mudah dicerna, Digger lebih cocok menjadi film festival yang mengundang diskusi panjang daripada tontonan yang dipasarkan untuk penonton umum.