Henry's First Dates: Cinta adalah Muscle Memory yang Kita Lakukan Setiap Hari

by Redaksi

Henry's First Dates: Cinta adalah Muscle Memory yang Kita Lakukan Setiap Hari
EDITOR'S RATING    

Adaptasi 50 First Dates dengan ciri khas Tailan

Jika Tailan kerap hadir dengan film-film yang sarat ide kreatif, kali ini, mereka mencoba menghadirkan versi Tailan dari film komedi romantis yang dibintangi Adam Sandler dan Drew Barrymore, 50 First Dates. Adaptasi yang mengambil judul Henry's First Dates ini adalah adaptasi ketiga setelah 50 First Kisses (versi Jepang) dan 50 First Dates (versi Korea Selatan). Disutradarai Mez Tharatorn, deretan pemerannya adalah Nadech Kugimiya (Death Whisperer) dan Nicha Yontararak yang tergabung dalam girl group I-dle asal Korea Selatan. 

Seperti versi originalnya, film ini mengisahkan seseorang yang mengalami kecelakaan dan terus mengulang hari yang sama di dalam pikirannya. Namun, ada twist tersendiri: gender swap. Jika di 50 First Dates, Lucy (Barrymore) yang mengalami retrogade amnesia, maka di sini kebalikannya. Sejak kecelakaan yang terjadi saat menolong seekor kapibara, Henry terus-menerus mengulang hari di ingatannya, yaitu hari ultah sang ayah. Bukan hanya diulang 1-2 minggu, tapi situasi ini sudah terjadi selama 365 hari alias setahun penuh. Ayah, adiknya, dan sang bibi ikut berperan mengulang hari itu agar kondisi otak Henry tidak rusak. Namun, rutinitas itu berubah saat ia bertemu gadis manis bernama Lucy, seorang staf survei rute wisata balon udara. Sadar bahwa Henry mengalami amnesia yang membuatnya terus mengulang hari yang sama di otaknya, Lucy membuat rencana untuk membuat memori baru setiap hari dengan mengajaknya bepergian ke berbagai tempat di Phuket. Apakah ini bisa membuat ingatan Henry pulih? Lalu, bagaimana dengan keluarganya yang mati-matian berupaya menjaga Henry selama ini?

Keputusan untuk mengadaptasi sebuah film yang sudah rilis ke dalam versi lokal memang susah-susah gampang. Gampang karena ceritanya sudah dikenal dan tentu mudah menarik calon penonton, terutama bagi mereka yang sudah menyaksikan film originalnya dan suka. Tapi, di sisi lain, adaptasi lokal ini juga punya kerumitan tersendiri. Pembuatnya dituntut untuk tidak "menjiplak" mentah-mentah materi asli dan harus kreatif memasukkan unsur lokal agar tetap memiliki ciri khas tersendiri dan terasa dekat dengan penonton di negaranya. Di sinilah, keberhasilan Tharatorn (sebagai sutradara dan penulis naskah) dalam meramu kisah yang sudah dikenal banyak orang menjadi sesuatu yang baru. 


Lewat gender swap, film ini sudah berhasil terlepas dari materi asli, tanpa menghilangkan esensi yang ingin disampaikan. Dengan menjadikan Henry sebagai pihak yang amnesia, penonton dibawa ke situasi yang baru, terutama interaksi hangatnya dengan ayah, adiknya Noon, dan bibinya. Di balik rasa sedih karena melihat Henry yang tidak ingat apa-apa begitu hari berganti, ada berbagai usaha jungkir-balik yang mengundang tawa, tapi juga bikin tersentuh. 

Seperti halnya Korea Selatan, Tailan memang jago dalam urusan komedi. Banyak momen yang akan membuat kita tertawa. Bahkan, ada satu saat ketika ingatan Henry akan Lucy samar-samar muncul dan ia berusaha menggali hal itu dari ayah, Noon, dan bibinya, namun yang terjadi adalah sederet kelucuan tanpa henti. Bukan komedi slapstick ala Adam Sandler, tapi lelucon khas Tailan yang pandai memanfaatkan situasi. Hebatnya, momen ini muncul setelah sebelumnya penonton diberikan adegan sedih yang dijamin bikin kita menangis atau setidaknya menitikkan air mata. 

Untuk urusan cerita, Tailan sukses membawa hal baru dalam adaptasi ini. Kesamaannya mungkin hanya 50% dan sisanya adalah cerita baru yang ditambahkan. Hal-hal simpel, seperti balon udara, video yang Henry rekam setiap hari agar tidak lupa kejadian sehari sebelumnya, hingga pertemuan kembali di ladang bunga menjadi sentuhan yang terasa manis, tanpa melupakan ciri khas Tailan. Ini membuat siapa pun yang sudah menonton 50 First Dates akan mendapat sudut pandang dan cerita baru lewat adaptasi ini. 

Jadi, untuk kalian para penyuka romcom, khususnya film-film Tailan, jelas Henry's First Date jangan sampai terlewat. Film ini mengajarkan bahwa cinta itu memang adalah sebuah "muscle memory" yang harus dibangun dan diciptakan setiap hari. 

Artikel Terkait