Clayface: Orang Jahat Terlahir dari Orang Baik yang Tersakiti

by Redaksi

Clayface: Orang Jahat Terlahir dari Orang Baik yang Tersakiti
EDITOR'S RATING    

Saat dunia terasa tidak adil, Matt Hagen melawan dengan caranya sendiri

Hollywood tidak akan pernah kehabisan ide. Setelah mengangkat kisah superhero, mereka tidak melupakan para villain-nya. Begitu pula yang dilakukan oleh DC Studios. Setelah dwilogi Joker dan serial Penguin, kini satu lagi penjahat Batman yang diangkat menjadi film tersendiri: Clayface. Meski sosoknya tidak se-ikonik Joker, Penguin, atau Poison Ivy, tapi Clayface jelas memiliki tempat tersendiri di hati para penikmat komik Batman. DC Studios juga yakin bahwa karakter ini akan mendapat perhatian yang cukup besar saat diberikan filmnya sendiri dan bukan tidak mungkin para penggemar akan menyuarakan harapan mereka untuk melihatnya bersanding dengan The Batman yang diperankan Robert Pattinson.

Matt Hagen adalah seorang aktor muda yang sedang naik daun. Akting mumpuni dan wajah tampan membuat ia digadang-gadang memiliki masa depan yang cerah. Namun, ulahnya yang menggoda pacar bos mafia Markos Szabo di sebuah klub malam berakhir buruk. Mukanya disayat-sayat hingga tak berbentuk, bahkan operasi plastik sebanyak apa pun tidak dapat menyelamatkannya. Saat membaca sebuah artikel mengenai partikel nano yang bisa memperbaiki sel kulit, Hagen tertarik dan menemui Caitlyn Corr untuk mengajukan diri sebagai kelinci percobaan. Apa pun rela ia lakukan demi mendapatkan muka lamanya kembali. Meski di awal eksperimen Corr terlihat berhasil, namun seiring berjalannya waktu, terjadi perubahan pada diri Hagen. Tidak hanya fisik, tapi perlahan mengubah sikap dan sifatnya juga menjadi tidak terkendali. 

Menyaksikan Clayface akan membawa penonton ke pengalaman yang berbeda. Bukan drama emosional ala Joker atau aksi yang seru ala Venom dan Kraven. Jangan harapkan itu. Clayface justru mengingatkan kita pada film saat karakter utama mendapatkan "kesempatan kedua" dalam hidupnya dan memanfaatkan hal itu untuk balas dendam, yaitu The Crow. Di sini, Hagen yang mukanya rusak dan terpaksa memakai topeng agar tidak menjadi cemoohan atau ditatap orang-orang, mendapat kesempatan kedua dalam bentuk partikel nano yang sedang dikembangkan Corr. Putus asa membuatnya tidak peduli pada efek samping, yang penting muka dan hidupnya kembali ke keadaannya dulu. 


Mengategorikan Clayface ke dalam genre body horror juga bisa saja. Beberapa hal yang dilakukan oleh Hagen saat dirinya mengalami perubahan tubuh mengesankan self-inflicted harm (melukai diri sendiri). Salah satu contoh yang sudah muncul di trailernya, dan ternyata itu baru seujung kuku saja, adalah saat kelopak atas dan kelopak bawah matanya menyatu sehingga ia memutuskan untuk memakai cara ekstrim, yaitu dengan mengguntingnya. Masih ada lagi adegan yang akan membuat kita  meringis dan ngilu saat menontonnya. Namun, semua dilakukan bukan untuk tujuan gore atau menyiksa penonton, melainkan akibat dari perbuatanya untuk kembali ke kondisi semula. 

Jelas, Tom Rhys Harries adalah sosok yang mencuri perhatian di film ini. Ia sukses menghadirkan penampilan dari seorang bintang film flamboyan terkenal hingga akhirnya berubah total karena kemampuan yang ia dapatkan dari partikel nano. Selain akting Harries yang memikat, Clayface juga merupakan salah satu film dengan adegan pembunuhan paling kreatif yang ada. Tonton sendiri untuk tahu apa itu. 

Pada akhirnya, meskipun penonton mendukung dan bersorak saat Hagen berhasil membalaskan dendamnya, namun sutradara James Watkins serta penulis naskah Mike Flanagan dan Hossein Amini seakan mengingatkan lagi bahwa biar bagaimana pun Hagen tetaplah seorang villain. Ini mengingatkan kita dengan ungkapan "Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti", maka Clayface terlahir dari Hagen yang dikhianati orang terdekat, hukum, dan dunia. Ia pun memilih cara ekstrim untuk membalas semuanya.