Kekerasan terhadap perempuan seperti sebuah cerita yang tidak ada ujungnya. Terjadi di mana-mana, mulai dari kota besar sampai desa atau kampung terpencil sekali pun. Sebuah film karya Jeremias Nyangoen mengangkat tentang problematika ini di daerah Rote, Nusa Tenggara Timur, dengan mengetengahkan kehidupan seorang ibu dan dua anak putrinya, Women from Rote Island.
Orpa adalah seorang ibu yang baru ditinggal mati suaminya, Abram. Namun, ia menolak jenazah sang suami dikubur karena masih menunggu Martha, anak pertamanya, kembali dari bekerja di Malaysia. Saat kembali, kondisi Martha terlihat berbeda. Ia kerap menjerit-jerit sendiri, meneriakkan sebuah nama. Namun, karena ini hanya muncul sesekali, keluarganya hanya menganggap angin lalu.
Suatu hari, Martha, yang sedang bermain ke tepi pantai sendirian didatangi seorang pemuda lokal, Ezra. Berdalih ingin membantu Martha menyelamatkan anak burung yang jatuh, Ezra membawa Martha ke bagian pantai yang terpencil dan berusaha memperkosanya. Berhasil kabur berkat pertolongan si adik, Bertha, Martha yang marah pun menusuk Ezra dan membakar rumah Kobis saat Ezra sedang meminta pertolongan ke sana. Agar tidak membahayakan warga, Martha pun dipasung. Namun, pelecehan rupanya tidak berhenti sampai di situ.

Melalui film Women from Rote Island ini, sutradara ingin memperlihatkan bahwa pelecehan dan kekerasan pada perempuan itu tidak memandang tempat. Mulai dari daerah yang penuh gedung bertingkat hingga pulau dengan dataran hijau yang luas, hal itu mungkin dan bisa saja terjadi. Menyedihkannya, wanita-wanita di pulau ini tidak punya wadah untuk berbicara apalagi melawan. Mereka hanya bisa tunduk pada ketentuan adat.
Tidak hanya itu, kita juga diperlihatkan pada kenyataan pahit bahwa kebanyakan pelaku pelecehan dan kekerasan pada perempuan berasal dari lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga. Merasa ada kesempatan, pelaku pun melakukan perbuatan tersebut. Kebanyakan korban juga jarang melapor karena tidak berani akibat diancam atau malah tidak dipercaya anggota keluarga yang lain. Hal ini tentu memperumit situasi yang terjadi.
Selain perempuan, laki-laki pun juga bisa menjadi korban kekerasan dan pelecehan. Hal itu umumnya dialami oleh anak-anak dengan pelaku orang dewasa yang dekat dengan mereka. Lewat sogokan, hadiah, atau janji, si pelaku merasa bisa bebas melakukan tindakan asusila kepada korban. Meski jarang diangkat, nyatanya fakta ini memang benar-benar terjadi di masyarakat kita.
Perjuangan untuk memberantas kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan memang masih panjang. Melalui Women from Rote Island, Jeremias Nyangoen berharap masyarakat akan sadar dan tidak menutup mata dari fakta ini. Rencananya, Women from Rote Island akan ditayangkan secara luas di bioskop. Tunggu informasi lebih lanjut mengenai tanggal mainnya.