Omnibus seakan memang menjadi pilihan bagi para sineas untuk berkontribusi dalam dunia perfilman. Di tahun 2013 ini saja, kita sudah disuguhi beberapa kumpulan kisah yang digabung dalam satu film ini, sebut saja 3 Sum atau Recto Verso. Dan kini, hanya berjarak tiga bulan dari film adaptasi kumpulan tulisan karya Dewi Lestari tersebut, hadir kembali sebuah omnibus yang kembali digawangi sutradara perempuan. Mengambil judul Pintu Harmonika, omnibus yang terdiri dari tiga film pendek ini disutradarai oleh tiga sineas wanita. Mereka adalah Ilya Sigma, Luna Maya, dan Sigi Wimala.
Segmen pertama berkisah tentang hubungan ayah dan anak di sebuah ruko (rumah toko). Hubungan antara Rizal (17) dan Firdaus (41) sudah selayaknya sahabat dekat. Keduanya bahu-membahu dalam mengelola toko kelontong. Di luar pekerjaannya tersebut, Rizal ternyata cukup digandrungi siswi sekolahnya karena supel, berbadan kekar, dan keren. Ditambah lagi, pecinta Bruce Lee ini adalah selebriti dunia maya lewat blog dan Twitter-nya. Sayangnya, Rizal menjadi “orang lain” dalam blog-nya. Ia mengatakan bahwa sang ayah memiliki hobi travelling ke luar negeri dan dirinya diajak ke Angkor Wat oleh sang ayah. Intinya, ia tidak mau mengakui kondisi keluarganya pada dunia luar. Masalah timbul ketika ia jatuh cinta dengan Cynthia, siswi cantik nan idealis serta mandiri. Di satu sisi, ia berusaha menarik perhatian gadis pujaannya itu dengan kepopuleran dan pesonanya. Namun di sisi lain, ia terus-menerus menceritakan kebohongan mengenai keluarganya. Sanggupkah kebohongan itu bertahan?
Cerita berikutnya dibuka dengan Juni (14) dan Niko (40) yang sedang membuka rolling door rukonya bersama. Berbeda dengan Rizal, hubungan Juni dan Niko dingin. Juni tidak pernah merasa betah di rumah. Niko sang ayah hanya memikirkan pekerjaan. Adiknya Diba (8) bandel dan selalu membuat Juni risih. Sementara, ibunya, Ines (39) sama sekali tidak mau menerima keluhan Juni. Bisa dikatakan, Juni bukan siapa-siapa di rumah. Karena itu, ia melampiaskan semuanya di sekolah dengan mem-bully para adik kelas. Tapi hari itu, bullying Juni sudah kelewat batas. Ia membuat Manda, adik kelasnya, sampai jatuh tersungkur. Situasi kian memburuk ketika Juni tahu Manda adalah anak dari Kukuh, pelanggan setia Niko yang baru saja memesan 10 lusin baju dengan opsi tambahan 10 lagi jika kantornya menyetujui. Akhirnya, Juni diskors selama lima hari dan selama itu pula Juni harus mendekam di rumah bersama keluarganya, sesuatu yang amat dihindarinya. Juni kini tak bisa menghindar sehingga harus berhadapan dengan keluarganya dan usaha keluarganya yang terancam bangkrut.
Cerita terakhir ada di dalam ruko milik Imelda. Perempuan awal 30-an ini tinggal bersama David anaknya yang masih kelas 3 SD. Toko Imelda bisa dibilang cukup terkenal dengan kue malaikatnya. Strategi pemasaran lewat Facebook juga lumayan berjalan. Hanya saja pelanggannya berkurang jauh karena beberapa waktu terakhir ini, Imelda sudah tidak bisa membuatkan senyum pada setiap kue malaikat yang ia buat. Seperti kuenya, senyum seperti sudah hilang dari wajah Imelda. Ia lebih banyak melamun, seperti putus asa menjalani kehidupannya, atau kembali menonton permainan piano David, anak semata wayangnya. Imelda sendiri ingin terus menjadi ibu yang baik bagi David dengan segala rutinitasnya, tapi selalu terasa ada jarak dengan David. Semua makin membingungkan ketika Imelda sering mendengar suara-suara aneh di rooftop dan David mulai ketakutan karena itu. Imelda berusaha menjalani dan menyelesaikan semuanya, walaupun semuanya semakin seperti jalan buntu baginya.
Film yang diproduseri oleh salah satu sutradaranya, yaitu Luna Maya ini dibintangi oleh nama-nama yang sudah tidak asing lagi di dunia perfilman Indonesia. Sebut saja Barry Prima, Donny Damara, Inong, hingga Verdi Solaiman. Omnibus berdurasi 89 menit ini sendiri siap tayang pada 23 Mei 2013 mendatang di bioskop-bioskop Tanah Air. Jadi, kalau Jelata masih ingin melihat omnibus buatan sineas-sineas perempuan Indonesia, tonton Pintu Harmonika.
*Dokumentasi Malka Pictures, foto oleh Eriek Juragan