salah satu film paling ditunggu tahun 2014. Bukan karya terbaik Christopher Nolan. Tapi jelas, film ini memiliki misi dan ambisinya tersendiri.
Sutradara : Christopher Nolan
Penulis Naskah : Jonathan Nolan, Christopher Nolan
Pemeran : Matthew McConaughey, Anne Hathaway, Jessica Chastain, Michael Caine, Bill Irwin, Ellen Burstyn
Christopher Nolan dikenal di jalur film blockbuster melalui film Batman Begins yang ia sutradarai pada tahun 2005. Sebelumnya ia sudah dikenal di dunia film independen melalui Memento yang menggunakan gaya penceritaan yang unik. Namun filmnya di tahun 2010, Inception-lah yang benar-benar menunjukkan kapabilitas Nolan sebagai seorang auteur yang mampu meramu visi, kompleksitas ide, dengan visual effects yang luar biasa dan adegan aksi yang tertata apik. Inception terbukti menjadi sebuah karya yang luar biasa. Dipuji kritikus dan meraup USD 825 juta dari pemutarannya di seluruh dunia; Inception merupakan pembuktian bahwa sebuah film blockbuster bisa menjadi sebuah film yang berisi, tidak melecehkan kecerdasan penontonnya, namun mampu meraup pendapatan yang besar. Hal inilah yang membuat film terbarunya Interstellar banyak dinanti penggemar genre sci-fi dan juga penggemar sutradara pendiam ini.
Di masa depan yang tidak terlalu jauh, Bumi sedang sekarat. Planet ini sudah tidak mampu lagi memberikan daya dukung kehidupan, dimana semua tanaman pangan mati akibat hawar. Hal ini masih ditambah dengan badai debu yang menjadi kejadian rutin di bumi. Seorang mantan pilot dan insinyur bernama Cooper (Matthew McConaughey) diminta NASA yang kini merupakan organisasi bawah tanah untuk menerbangkan pesawat ulang alik demi sebuah misi menemukan dunia baru melalui sebuah wormhole yang ditemukan berada di dekat Saturnus. Cooper akan menerbangkan sekelompok ilmuwan, Amelia Brand (Anne Hathaway), Doyle (Wes Bentley), dan Romilly (David Gyasi). Masuk ke kegelapan dan teritori yang tidak mereka ketahui, pencarian dunia baru ini tentunya bukan misi yang mudah. Dan pertanyaannya, saat dunia baru itu sudah ditemukan, bagaimana cara mereka menyelamatkan penduduk bumi?
Interstellar bermula dari ide fisikawan Kip Thorne dan produser Lynda Obst, yang keduanya pernah bekerjasama di film Contact yang kebetulan dibintang Matthew McConaughey. Proyek ini dijual ke Paramount dan akhirnya jatuh ke tangan Steven Spielberg yang kemudian mengontak Jonah Nolan untuk mengerjakan naskah film ini. Jonah Nolan mengerjakan naskah awal Interstellar selama 4 tahun. Namun Spielberg akhirnya mundur, dan Jonah menawarkan naskah ini kepada sang kakak, Chris yang mengambilnya dan melengkapi naskah yang sudah ditulis adiknya dengan kisahnya sendiri. Premis Interstellar sebetulnya sangat sederhana. Namun kehadiran Kip Thorne sebagai konsultan membuat Interstellar menjadi spesial, karena Thorne sebagai konsultan memungkinkan Nolan menghadirkan visualisasi luar angkasa seakurat mungkin, termasuk visualisasi wormhole dan blackhole.
Benturan
Kehadiran Thorne sebagai konsultan film ini hanya mempertebal tinta bahwa Interstellar merupakan film Nolan yang paling ambisius. Namun ambisi itu ternyata menemui beberapa benturan, antara lain di sisi naskah serta musik. Secara naratif, jika kita membagi Interstellar dalam 3 babak (dalam running time yang hampir 3 jam), maka benturan itu sangat terasa di babak ke-2. Sepertiga bagian awal film menjadi fondasi yang bagus bagi Interstellar. Akan tetapi Interstellar baru benar-benar dimulai pada babak ke-2 dimana para penjelajah kita akhirnya meninggalkan bumi. Di sinilah craftmanship Nolan mulai unjuk gigi. Namun sayangnya, di saat kemampuan Nolan dalam menyajikan visual yang indah mulai tampak, seperti saya sebut di awal paragraf, babak ke-2 ini terasa tidak seimbang dan sedikit tersesat dilihat dari segi narasi. Terlihat ada masalah kecepatan alur di sini dimana babak ini terasa sebagai sebuah bagian yang ditarik terlalu panjang. Hal ini masih ditambah dengan beberapa scene dialog yang terasa tidak berbobot dan dipaksa sentimentalitasnya. Beberapa adegan pun terasa tanpa darah karena keputusan Nolan untuk tidak memasukkan music score dari Hans Zimmer ke dalam beberapa adegan tersebut. Untungnya hal ini tertolong dengan beberapa adegan lain di babak ini yang terbukti mampu membuat penonton menahan nafas.
Lalu, ada music score dari Hans Zimmer. Musik yang ia komposisikan secara keseluruhan untuk Interstellar (yang salah satunya digunakan untuk musik Teaser trailer) tidaklah buruk. Namun kecenderungan Zimmer dalam menggunakan organ terasa berlebihan dan jika tidak disesuaikan levelnya di ruang bioskop, justru akan menjadi sesuatu yang mengganggu. Jujur saja, ini menjadi gangguan yang kurang mengenakkan di saat musik tersebut digunakan pada bagian-bagian tertentu.
Kekurangan-kekurangan tadi, yang sangat terasa, untungnya dapat ditutupi secara sempurna oleh babak ke-3 yang hampir menjelma menjadi sebuah segmen semi-thriller di awal bagiannya. Keahlian Nolan sebagai seorang storyteller cerdas sangat terlihat di sini. Kemampuannya dalam memanipulasi pikiran penontonnya dengan memanipulasi ruang dan waktu di dalam film sangat luar biasa. Di babak ke-3 ini semua emosi bercampur menjadi satu dengan jargon-jargon fisika dan sci-fi, juga dengan visualisasi yang unik dan indah. Jika di atas saya menyebut bahwa ini adalah film Nolan yang paling ambisius, saya juga berani menyebutkan ini adalah film Nolan yang paling emosional. Terlepas beberapa bagian yang terasa dipaksakan, Interstellar adalah pengocok emosi yang mumpuni. Seharusnya memang kita tidak boleh heran, karena Interstellar sejak semula dimaksudkan Nolan sebagai sebuah kisah antara ayah dan anak yang dibalut sebuah space opera. Itulah jantung dari film ini yang sesungguhnya.
Matthew McConaughey, yang tahun lalu memenangkan Oscar, bisa jadi akan mendapatkan nominasi Oscar keduanya dari film ini. Begitupun Jessica Chastain yang memerankan karakter Murph dewasa. Ia tampil sangat solid dalam setiap kesempatan. Bahkan dapat dikatakan, semua pelakon yang berakting di film ini berakting di atas rata-rata. Hal ini sendiri membuat saya heran dengan orang yang menyebut bahwa Nolan adalah sutradara yang tidak mampu menggali potensi aktornya (minus Heath Ledger). Omong kosong. Di Interstellar, kemampuan Nolan sebagai seorang Actor's Director sangat terlihat, sebuah hal yang diakui oleh Matthew McConaughey dan Anne Hathaway.
Kolaborator Baru
Sudah bukan rahasia lagi bahwa Nolan sangat suka menggunakan jasa seseorang secara berulang, baik jasa dari aktor dan aktris atau tim produksi. Sebut saja nama Michael Caine yang sudah 6 kali bekerjasama dengannya, lalu Anne Hathaway, Hans Zimmer (score), Nathan Crowley (Production Designer), Lee Smith (Editor), dan Andrew Lockley (Visual Effects Supervisor). Namun Interstellar menandakan kali pertama Nolan menggunakan jasa Hoyte Van Hoytema sebagai cinematographer, karena kolaborator lamanya, Wally Pfister kini menapaki karir sebagai sutradara. Van Hoytema mulai dikenal namanya saat menjadi cinematographer Let The Right One In. Ia mulai mnapaki karir sebagai cinematographer high profile setelah ia bertugas mengkomposisikan gambar di film The Fighter. Namun melalui Tinker Tailor Soldier Spy-lah ia benar-benarangkat nama; sementara Her menjadi pembuktian kemampuan Van Hoytema dalam menghadirkan atmosfer kisah melalui hasil bidik kameranya. Tak heran, Nolan memilihnya untuk menggantikan Pfister.
Melihat hasil kerja Van Hoytema di Interstellar, bukan tidak mungkin ia akan menjadi kolaborator tetap Nolan di masa depan. Van Hoytema menangkap visi Nolan dan menterjemahkan ke dalam bahasa gambar dengan indah. Komparasi terhadap kerja Van Hoytema dengan cinematographer Emmanuelle Lubezki tampaknya tidak dapat dihindari, mengingat Lubezki tahun lalu memenangkan Oscar atas hasil bidiknya untuk film bersetting luar angkasa, Gravity. Namun bagi saya, hasil kerja Van Hoytema lebih impresif, mengingat betapa minimnya CGI yang digunakan sebagai visual effects di film ini. Kemampuan Van Hoytema dalam mengatur kamera dan menggunakannya dalam adegan-adegan aksi dengan practical effects, membuat adegan tersebut terasa lebih nyata. Dan ingat, Nolan dan dirinya yang menempelkan sebuah kamera IMAX ke depan sebuah pesawat Lear Jet untuk mengambil adegan di Islandia. Terdapat beberapa repetisi teknis penggunaan kamera. Namun hal ini justru menambah kekaguman saya terhadap Van Hoytema.
Homage
Berbicara Interstellar sulit untuk melepaskannya dari 2001: A Space Odyssey. Nolan yang merupakan penggemar utama film arahan Stanley Kubrick ini, sejak awal memang sudah menyatakan betapa besar pengaruh 2001: A Space Odyssey terhadap karyanya ini. Memang banyak yang mengatakan 2001: A Space Odyssey sebagai sumber inspirasi bagi film-film bersetting luar angkasa. Namun di Interstellar, inspirasi itu sangat terlihat dan menjelma dalam bentuk homage. Monolith yang terlihat dalam bentuk robot TARS, CASE, KIPP serta yang paling jelas, pada bentuk televisi. Lalu ada gunung-gunung terbalik, lorong waktu, bahkan hingga pesawat penjelajah; semua merupakan homage Nolan terhadap 2001: A Space Odyssey. Selain itu, walau secara naratif 2001: A Space Odyssey dan Interstellar sulit untuk dibandingkan (2001 bagaikan sebuah lukisan abstrak), akan tetapi keduanya mengusung semangat yang sama tentang kebertahanan manusia dan kemampuan manusia dalam mendorong batasan.
Selain 2001: A Space Odyssey, terlihat juga inspirasi yang jelas diambil dari The Right Stuff (Cooper!) dan juga film anime Jepang Voices of a Distant Star. Namun disadari atau tidak baik oleh Nolan atau penontonnya, menurut Dominick Mayer dari Consequence of Sound, Interstellar merupakan sebuah homage untuk George Melies. Dan setelah menyaksikannya secara langsung, saya mengamini pendapat tersebut. Homage itu datang dari penggunaan practical effects yang sangat banyak di film ini (Melies adalah salah satu pengadopsi awal visual effects dengan menggunakan teknik practical effects) hingga homage terhadap pemikiran bahwa film adalah sebuah alat dalam merealisasikan sebuah mimpi. Layaknya A Trip to the Moon bagi Melies, Interstellar adalah sebuah passion project, kendaraan penuh mimpi bagi Nolan menuju luar angkasa; yang ia realisasikan dengan bantuan practical effects.
Interstellar adalah sebuah perwujudan mimpi ambisius Nolan. Film ini memang tidak sempurna. Namun terlalu banyak hal untuk disukai dari film ini. Mulai dari keindahan visualisasi luar angkasa, sinematografi, setting, properti, homage, ketegangan aksi, twist, akting para pelakonnya hingga ide mengenai bagaimana Nolan mengejar kesempurnaan itu sendiri. Interstellar adalah bukti kekuatan mimpi dari seorang sutradara yang memiliki visi dan ambisi.





