Butuh film yang membuat kalian merasa macho banget? Mad Max: Fury Road jelas jawabannya. Death metal, gurun, mobil super sangar, dan aksi memukau komplit ada di sini.

"MEDIOCRE!!!"
Setelah Avengers: Age of Ultron yang terasa hanya seperti pengulangan seri sebelumnya (atau formula film Marvel yang mulai membosankan), menyaksikan Mad Max: Fury Road seperti angin segar bagi saya. Berbanding terbalik padahal dengan lokasinya yang ber-setting di padang gurun nan gersang. Terus terang, Avengers memang bisa dibilang sebagai blockbuster yang menonjolkan kecanggihan visual efek, tapi itu semua bukannya membuat saya terhibur malah terasa melelahkan. Mad Max: Fury Road menjadi penawar itu semua dengan kisah yang straight to the point dan sangat macho. Kalau bahasa sekarang “lakik banget!”.
Tidak perlu bertele-tele, film langsung dibuka dengan pengejaran War Boys terhadap Max Rockatansky dan usaha Max melarikan diri dari Citadel. Namun, gagal sehingga ia dijadikan kantung darah untuk mensuplai War Boys yang butuh transfusi darah untuk meningkatkan kekuatan mereka. Selesai sekuens pembuka yang cukup beradrenalin tinggi, penonton diperkenalkan dengan sosok antagonis Immortan Joe yang penampilannya bak pimpinan geng motor dengan rambut putih dan topeng yang menutup setengah muka sekaligus berfungsi sebagai alat bantu pernapasannya. Immortan Joe mengirim Imperator Furiosa, jenderal perangnya, untuk mengirim bensin ke Gas Town dan Bullet Farm. Namun, di tengah jalan, Furiosa malah berkhianat dan melarikan diri dengan membawa para breeder terbaik untuk dibebaskan.

Jangan bayangkan aksi membosankan di tengah-tengah gurun yang gersang karena kita akan disuguhi dengan berbagai mobil yang bak besi loak, namun ternyata memiliki kekuatan tempur besar dan dilengkapi dengan berbagai senjata. Bukan estetika yang ingin ditonjolkan George Miller selaku sutradara di sini, melainkan keseraman dan fungsinya dalam perang di gurun. Tidak cukup hanya itu, karakternya pun menonjol dengan keanehan mereka sendiri. War Boys digambarkan cukup gahar dengan kepala plontos dan kulit putih pucat seperti kapur, Immortan Joe, hingga Furiosa yang mengingatkan saya dengan Sigourney Weaver di Alien. Mungkin, sosok yang bisa dibilang agak “kalem” adalah Max sendiri,(suaranya Hardy masih mengingatkan saya akan Bane-nya Nolan).
Walau film ini penuh dengan adrenalin, tapi para pemain wanitanya juga tidak bisa dikatakan hanya jadi pemanis. Theron yang menjadi Furiosa tampak kuat dan dingin, selama film. Para breeder yang cantik pun selama film punya keahlian dan ciri khas masing-masing, sayang akting mereka tidak terlalu menonjol. Entah kenapa Rosie Huntington sang breeder tercantik justru adegannya paling sedikit. Kredit lebih patut dilayangkan kepada Nicholas Hoult sebagai salah satu War Boy yang membantu Furiosa dan Max. Ia tampil bak remaja tanggung berandal berangasan yang bergabung dengan sebuah cult dan berusaha segala cara menarik perhatian sang pemimpin utama demi dapat masuk ke “surga(vallhala)” yang dijanjikan.

Saya agak sedikit terkejut mengetahui bahwa George Miller adalah orang yang sama dengan sutradara pembesut penguin pandai tap dance dalam Happy Feet. Dan, dia berhasil membuat film semacho ini?? HOLY COW! Meski berkadar aksi tinggi, namun penonton masih bisa tertawa melihat beberapa selipan humor. Salah satunya tentu adalah gitaris dengan amplifier satu mobil yang berfungsi sebagai pemberi semangat War Boys. Kalau kisah-kisah J.R.R Tolkien atau George R.R. Martin menyelipkan terompet sebagai tanda bahwa salah satu kubu akan menyerang, maka dengan pandainya Miller memasukkan musik Death Metal dengan menghadirkan secara langsung di layar dan menjadi bagian dari pasukan Immortan Joe alih-alih hanya direkam di studio.
Sebagai film musim panas, Mad Max: Fury Road berhasil menyajikan tontonan yang menghibur dan dijamin akan diperbincangkan bahkan setelah filmnya selesai. Untuk mereka yang suka menyaksikan film aksi beroktan tinggi, ini jelas jawabannya. Setelah menonton ini, mungkin saja (mungkin,ingat!) film pembuka musim panas tentang sekumpulan hero kemaren jadi terasa seperti film anak-anak.


"WITNESS!!"