Saat harus berurusan dengan perempuan tua perfeksionis, bagaimana rasanya?
Harriet Lauler (Shirley MacLaine) punya segalanya. Dia kaya, cerdas, punya selera musik yang baik, pensiunan yang bahagia. Eh, tunggu, benarkah itu? Dalam The Last Word, Lauler adalah seorang pendiri perusahaan iklan ternama, namun dibuang begitu saja oleh rekan kerjanya karena perbedaan cara kepemimpinan.
Harriet adalah perempuan tua berusia 81 tahun yang “terbuang”. Ia sosok yang perfeksionis dan menganggap dirinya selalu bisa melakukan berbagai hal lebih baik dari yang lain. Dia hidup sendiri dalam rumah besarnya. Meski memiliki asisten rumah tangga dan tukang kebun, pada akhirnya hanya hasil kerjanya yang membuatnya puas.
Pada akhirnya, ia merasa bosan dengan kehidupannya. Saat itulah ia memiliki ide gila, yaitu mencari penulis yang bisa menulis obituari untuknya. Pilihannya jatuh kepada Anne Sherman (Amanda Seyfried). Namun, menulis obituari untuk orang seperti Harriet bukanlah hal mudah. Kenyataannya, hampir tak ada hal baik dari Harriet yang bisa ditulis dalam obituarinya.
Di situlah film ini dimulai. Harriet menjadi perempuan
tua yang tak peduli kepada pendapat orang-orang di sekitarnya karena dia merasa
bisa mengatur segalanya sesuai keinginannya. Bahkan, dalam perjalanannya, Anne
menemukan bahwa Harriet sama sekali bukan sosok perempuan tua yang menyebalkan.
Harriet memang punya standar yang tinggi untuk dirinya, namun dia selalu
berhasil mencapai semuanya berkat hal itu, tanpa bantuan orang lain.

Harriet yang perfeksionis bertemu dengan Anne yang selalu jujur mengungkapkan apa yang ada di pikirannya benar-benar paduan yang menarik untuk film ini. Ditambah lagi, ada Brenda (AnnJewel Lee Dixon) yang bisa mengocok perut dengan tingkahnya yang menggemaskan. Sang sutradara, Mark Pellington, memang tak salah memilih pemain.
Terlepas dari kisahnya yang mungkin klise, dengan akhir yang sangat mudah ditebak (Harriet mengiinginkan obituari, apalagi yang kalian harapkan terjadi dalam film?), MacLaine telah berhasil membuat penonton simpati dengan karakternya yang sebetulnya menyebalkan. Amanda juga bisa mengimbangi dengan menjadi Anne yang blak-blakan dan pada akhirnya bisa melihat kebaikan hati Harriet.
The Last Word adalah drama komedi yang cukup menggemaskan (terima kasih kepada MacLaine). Namun, alurnya sangat lambat dan cukup membosankan di tengah sampai akhir. Film ini hanya mengikuti Harriet sehingga lupa bahwa keberadaan Anne sebagai sang penulis obituari juga cukup penting. Pada akhirnya, Anne hanya menjadi seorang wartawan yang kelihatannya bekerja dengan terpaksa yang biasa menulis obituari standar.
Sebenarnya,
ide tentang perempuan tua perfeksionis yang ingin menulis obituarinya sendiri
cukup brilian. Sayangnya, hal ini tak diimbangi dengan penggarapan matang. Ditambah
lagi, kenyataan bahwa ada seseorang yang kehilangan pekerjaannya karena seorang
perempuan tua mau bekerja untuk hobi tanpa dibayar, sebenarnya sudah terlalu jauh dari kenyataan.

The Last Word bisa menjadi film yang bermakna jika fokus menggodok sudut pandang Anna dan orang-orang sekitarnya terhadap Harriet. Cara Harriet memandang orang-orang di sekitarnya memang unik tapi jika film ini adalah tentang Harriet, maka melihat sudut pandang Anna terhadap kliennya ini bisa menjadi sangat penting. Anna sampai sepertiga film masih terlihat tak begitu peduli pada Harriet dan tiba-tiba saja peduli setelah perjalanan singkat mereka menemui Elizabeth (Anne Heche). Hal ini meninggalkan kesan lambat dan membosankan hampir di sepanjang film.
Namun, The Last Word adalah drama yang cukup menyenangkan berkat berbagai komedi sarkastis di dalamnya. Siapa sangka, ternyata seorang perempuan tua yang tak meninggalkan kesan baik di hati hampir setiap orang yang dikenalnya, ternyata bisa begitu berkesan di hati Anne dan Brenda, dua gadis yang belum lama dikenalnya. Mungkin memang benar, tak kenal maka tak sayang.