Moonfall: Film Bencana Berlandaskan Teori Konspirasi

by Dwi Retno Kusuma Wardhany

Moonfall: Film Bencana Berlandaskan Teori Konspirasi
EDITOR'S RATING    

Bulan bukan lagi bisa ngomong, tapi juga akan jatuh!

Saat mendengar nama Roland Emmerich, tentunya para penikmat film akan terbayang adegan kehancuran bumi. Itu wajar karena sutradara yang satu ini memang identik dengan film-film bencana Dua yang paling terkenal di antaranya adalah 2012 dan The Day After Tomorrow. Tapi, kedua film ini tidak ada apa-apanya dibandingkan Moonfall. Sebuah bencana bercampur teori konspirasi dan twist luar biasa. Tergantung kita tipe penonton seperti apa, film ini bisa membuat kita terkesima atau malah kesal saat menontonnya. 

Premis Moonfall bisa dibilang cukup klise. Seorang yang bukan siapa-siapa menemukan fakta mencengangkan yang bagi dunia dianggap sebagai lelucon. Ini mirip dengan film yang belum lama ini rilis di Netflix, Don’t Look Up. Yang membedakan, tentu arah eksekusinya saja. Bagi penggemar film-film khas Emmerich, tentu tahu bahwa di dalam semua kekacauan itu nantinya akan ada seseorang, entah siapa, yang maju dan muncul sebagai penyelamat dunia, ditambah bumbu-bumbu drama keluarga yang biasa saja. Jika di 2012 peran itu jatuh pada John Cusack, kini Patrick Wilsonlah yang akan menyelamatkan Bumi.


Dari awal hingga 2/3 film, Moonfall terasa seperti film bencana khas Emmerich pada umumnya. Tidak ada hal baru yang ditawarkan hingga menjelang akhir sebuah pembelokan cerita membuat penonton takjub, tertawa, mendengus, bahkan memaki melihat adegan yang ditampilkan. Bagaimana tidak, film ini seperti biasa menjadikan sebuah teori konspirasi di dunia nyata sebagai landasan untuk penyebab terjadinya bencana. Saat unsur konspirasi itu ditambah dengan science fiction ala Michael Bay, penonton hanya bisa pasrah menerima konsep yang mindblowing ini.

Tidak perlu rasanya kita membahas bagaimana akting pemain di film ini. Halle Berry dan Wilson sepertinya menerima pekerjaan ini bukan untuk bersaing di Academy Award. Begitu juga dengan pemain lainnya yang kebanyakan kurang terkenal dan mudah dilupakan. Menyaksikan karya Emmerich adalah untuk melihat bagaimana ia melampiaskan cita-citanya untuk menghancurkan dunia, bukan siapa pemain utamanya.


Menonton film-film Emmerich adalah sebuah eskapisme. Film besutannya ditonton orang untuk bisa bersantai dan menyegarkan kepala yang penat karena banyaknya masalah saat ini. Tidak ada gunanya kalau kita menonton film ini untuk menganalisis alurnya karena malah menambah pusing kepala. Just sit back and enjoy the annihilation.