Membangun kebun bunga di samping kamp konsentrasi? Hanya Nazi yang terpikirkan hal ini.
Dari deretan film rilisan 2023 yang tahun ini wara-wiri di ajang penghargaan dan menyabet piala, The Zone of Interest hadir dengan daya tarik tersendiri. Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Martin Amis (2014), film Inggris dengan dialog full bahasa Jerman keluaran A24 ini berhasil mengangkat kejamnya pasukan Hitler dari perspektif berbeda. Cukup ditampilkan secara subtle tanpa memperlihatkan darah, namun aftertaste pahit yang dirasakan penonton terus terbawa sampai pulang ke rumah.
The Zone of Interest mengangkat cerita keseharian komandan Nazi Rudolf Höss (diperankan Christian Friedel) beserta sang istri Hedwig (Sandra Hüller) dan lima anak mereka. Demi kenyamanan keluarga, Rudolf dan Hedwig menata rumah tersebut seindah dan senyaman mungkin. Ada taman luas berumput yang dihiasi banyak bunga, tumbuhan sayuran dan buah, pergola dan gazebo, kolam renang, sampai area luas untuk berjemur ketika matahari sedang terik. Bedanya dengan hunian lain, rumah mereka berbatasan langsung dengan lokasi pembantaian ratusan ribu manusia. Ya, keluarga ini tinggal di rumah dinas yang bersebelahan dengan kamp konsentrasi Auschwitz.
Di sepanjang film, kita disuguhkan dengan keseharian keluarga Höss yang seada-adanya. Mulai dari pagi hari, sampai malam ketika lampu rumah dimatikan. Namun, di sinilah letak kekuatan The Zone of Interest. Semua hal biasa itu ditampilkan secara santai, namun kontras dengan hal yang terjadi di luar pagar. Kepiawaian duo sutradara Jonathan Glazer dan produser James Wilson, sinematografi hasil tangan dingin Lukasz Zal, serta ciamiknya Johnnie Burn dalam mengolah sound teracik dengan sempurna.

Saat film menyuguhkan keluarga yang mengurus urusannya sendiri, mata kita juga menangkap kilau cahaya dan asap pembakaran manusia dari kamp konsentrasi. Kita juga menyadari keberadaan abu dan sisa kerangka di kebun bunga serta aliran sungai nan indah, namun telinga terus mendengar sayup suara jeritan, teriakan, dan tembakan tanpa henti. Perlahan, perilaku yang diperlihatkan keluarga Höss ini membuat kita merasa tidak nyaman.
Jika ada satu hal yang terasa kurang, keberadaan Sandra Hüller tidak terlalu dieksplor di sini. Ia ‘hanya’ ditampilkan sebagai istri yang menjalani hidup biasa tanpa karakter menonjol, sesekali menunjukkan gesturnya yang tegas dan cara berjalan yang kaku. Akan tetapi, hal itu juga semakin menegaskan bahwa The Zone of Interest memang ingin menunjukkan kontrasnya atmosfer film, bukan kepiawaian para aktor dalam menyuguhkan emosi yang menggebu-gebu.
Jeda adegan berupa layar sunyi nan gelap, biru tua, atau merah terang jelas membuat hati gelisah. Ditambah, kemunculan gadis kecil dalam gambar negatif hitam putih yang diam-diam menyelipkan buah di tempat kerja paksa memunculkan rasa berdebar sekaligus takut.

Semua yang kita tangkap lewat mata berbanding terbalik dengan apa yang kita dengar dan rasakan. Setiap karakter memperlihatkan kemarahan, kegelisahan, dan rasa tertekan yang berbeda-beda. Bahkan hingga film berakhir dan credit title bergulir, teror dari suara music score yang diputar terus menusuk telinga. Menggambarkan kenyamanan yang diperlihatkan sepanjang durasi 1 jam 45 menit sejatinya adalah kebahagiaan semu.
Berhubung film ini memiliki rating PG-13, ada bagusnya mengajak anak atau keponakan untuk ikut menyaksikan The Zone of Interest kemudian menjadikan kisahnya sebagai bahan diskusi saat perjalanan pulang. Karena sejatinya, film ini mengangkat kejadian nyata yang seharusnya tidak lagi terulang selama-lamanya. The Zone of Interest bisa ditonton di XXI, CGV, dan Cinepolis mulai 6 Maret 2024.
