Para pemburu topan ini tidak akan berhenti
Pada masanya, film-film tentang bencana alam menjadi tontonan favorit semua orang. Kita seakan diingatkan bahwa alam yang selama ini kita manfaatkan (kadang dengan semena-mena), bisa membalasnya berkali-kali lipat. Di tahun 2024 ini, sebuah film bencana dalam skala kecil kembali muncul. Twisters merupakan sekuel yang berdiri terpisah dari film originalnya, Twister (tanpa 's') dengan dihiasi deretan pemeran Daisy Edgar-Jones, Glen Powell, Anthony Ramos, dan David Corensweth.
Kate, seorang pemburu topan, terpaksa merelakan kehilangan ketiga temannya tersapu angin topan saat sedang melakukan penelitian. Hal ini menimbulkan luka mendalam dan membuat Kate pindah ke New York untuk meninggalkan kenangan menyedihkan tersebut. Namun, karena sebuah alasan, Kate akhirnya kembali ke Oklahoma untuk membantu kawan lamanya, Javi, berburu topan. Di sini, ia bertemu Tyler Owens, bintang media sosial yang berburu topan demi konten. Di saat musim badai semakin meningkat, Kate, Tyler Owens, dan semua yang terlibat tidak hanya berburu, tapi juga berusaha untuk menyelamatkan diri dari terjangan topan yang berskala besar.
Twisters masih sama seperti film pendahulunya, yaitu tentang pemburu topan. Kali ini, sebagai pengganti mendiang Bill Paxton dan Helen Hunt, dipilihlah dua cast yang cukup menjual untuk anak muda, yaitu Daisy Edgar-Jones (When the Crawdads Sing) dan Glen Powell (Top Gun: Maverick) yang sedang naik daun. Bagi generasi milenial yang dulu menyaksikan Twister, Edgar-Jones dan Powell jelas tidak bisa menyamai Paxton dan Hunt di layar lebar. Meski begitu, chemistry yang mereka hadirkan tetap menarik.

Dari segi tema cerita, nyaris tidak ada perubahan yang berarti. Masih tentang pemburu topan yang mengejar angin demi mendapatkan data, diselipi dengan persaingan dan kehancuran yang terjadi di pemukiman lokal. Menariknya, tidak seperti film yang dulu, Twisters kali ini lebih memperlihatkan kota-kota yang rusak akibat terjangan topan dan juga usaha para warganya untuk bertahan hidup. Ini jelas berbeda dari Twister (1996) yang lebih berfokus pada usaha berburu angin. Namun, keduanya sama-sama seru untuk ditonton.
Yang terasa kurang, mungkin dari segi sinematografi dan efek. Di beberapa bagian, terutama kalau kita duduk di kursi IMAX yang cukup depan, gambar filmnya terkadang buram. Bukan buram yang tidak bisa ditonton, tapi buram yang cukup mengganggu meski masih termaafkan. Itu tidak hanya terjadi pada aerial shoot, tapi juga adegan saat mereka duduk diam. Entah apa yang dipikirkan sang sutradara Lee Isaac Chung saat mensyuting film ini. Satu lagi yang mungkin terasa biasa saja adalah efek topannya. Pada masanya, film-film bencana alam pernah berjaya, Misalnya, The Day After Tomorrow dan 2012 atau yang terbaru Moonfall dan San Andreas. Mereka semua punya ciri yang sama, yaitu efek spesial megah yang menggambarkan besarnya bencana yang terjadi. Hal inilah yang terasa kurang pada Twisters karena efek yang dihadirkan akan terasa biasa saja dibandingkan film-film itu.
Terlepas dari segala kekurangannya, Twisters tetaplah sebuah film bencana yang ringan dan bisa dinikmati siapa pun. Tidak hanya itu, kita juga seakan "disentil" untuk hati-hati dalam "menantang" alam karena tidak semua hal bisa kita taklukkan. Twisters adalah film yang bisa memukau Gen Z yang baru pertama kali menonton film bencana atau melepas rindu para generasi Milenial terhadap film-film sejenis.
