Jurassic World Rebirth: Sekuel yang Kehilangan Auman T-Rex

by Redaksi

Jurassic World Rebirth: Sekuel yang Kehilangan Auman T-Rex
EDITOR'S RATING    

Terlalu banyak kebetulan di film ini

Jurassic World Rebirth tiba sebagai upaya lain untuk menghidupkan kembali franchise dinosaurus yang ikonik. Sayangnya, film ini terasa seperti sekuel yang benar-benar tidak penting. Dengan plot yang tipis, narasi yang mengandalkan terlalu banyak kebetulan, dan deretan karakter stereotip, Rebirth gagal menawarkan alasan kuat mengapa ia harus ada. Alih-alih menyajikan sesuatu yang baru dan segar, film ini justru terjebak dalam pengulangan formula lama dari film-film sebelumnya, memberikan sensasi dejavu yang membosankan tanpa daya tarik yang berarti.

Salah satu kelemahan signifikan film ini terletak pada pengembangan karakter dan interaksi antarpemain. Chemistry antarpemeran utama terasa sangat lemah dan kering, membuat hubungan mereka kurang meyakinkan dan sulit bagi penonton untuk berinvestasi secara emosional. Kehadiran banyak karakter yang tidak penting semakin memperkeruh narasi, mengalihkan fokus tanpa memberikan kontribusi berarti pada alur cerita. Bahkan, pilihan casting untuk peran utama seperti yang dimainkan oleh Scarlett Johansson terasa kurang tepat; meskipun Johansson adalah aktris berbakat, ia tidak berhasil memancarkan aura sebagai karakter sentral yang kuat dan karismatik, membuat penonton sulit terhubung dengannya sebagai pahlawan yang bisa diandalkan.

Selain masalah karakter, Jurassic World Rebirth juga memiliki durasi yang terlalu panjang dan pace cerita yang lambat. Banyak segmen terasa bertele-tele dan kurang padat, menyebabkan penonton merasa bosan di tengah-tengah rentetan adegan yang seharusnya memacu adrenalin. Ketegangan yang diharapkan dari pertemuan manusia dengan predator purba tidak terbangun dengan baik, dan momen-momen kritis terasa hambar tanpa dampak emosional yang kuat. Baru terasa mulai seru tiba-tiba adegannya selesai. Selain itu banyak pemilihan gambar yang tidak masuk logika, seperti karakter yang bengong tidak melihat apa-apa padahal gambar selanjutnya memperlihatkan kalau dinosaurusnya sebesar tebing.


Puncak kekecewaan terletak pada penggambaran dinosaurus itu sendiri. Makhluk-makhluk purba yang seharusnya menjadi bintang utama dalam franchise ini gagal memberikan efek kejut atau ketakutan. Dinosaurus dalam Rebirth tidak lagi seram dan mengancam, seolah-olah mereka hanya menjadi latar belakang visual tanpa bobot. Kengerian dan keagungan yang dulu identik dengan Tyrannosaurus Rex atau Velociraptor kini telah pudar, digantikan oleh visual yang tampak biasa saja dan kurang memberikan impact yang signifikan. Dinosaurusnya banyak tapi tidak ada yang ikonik. Bahkan dino raksasa yang di awal digadang-gadang bakal buas, ternyata cuma segitu saja

Melihat berbagai kelemahan fundamental yang ada, Jurassic World Rebirth tampaknya menjadi penanda bahwa franchise ini perlu istirahat. Tidak ada urgensi untuk sekuel lebih lanjut dalam waktu dekat. Akan jauh lebih bijaksana jika studio melakukan cooling down dan kemudian mempertimbangkan reboot total, dengan visi yang segar, cerita yang orisinal, dan karakter yang lebih kuat. Hanya dengan pendekatan demikian, franchise Jurassic dapat berharap untuk menemukan kembali kejayaannya dan menghadirkan pengalaman sinematik yang benar-benar mendebarkan bagi penggemarnya.