Sisu: Road to Revenge - Perjalanan Penuh Cobaan Demi ke Kampung Halaman

by Redaksi

Sisu: Road to Revenge - Perjalanan Penuh Cobaan Demi ke Kampung Halaman
EDITOR'S RATING    

Jangan halangi dia untuk pulang

Sisu: Road to Revenge merupakan sekuel dari Sisu yang rilis pada 2022 lalu. Meski pendapatan box office film pertamanya tidak bisa dibilang meledak, namun ulasannya sangat positif. Di Rotten Tomatoes, Sisu mendapat nilai 94% fresh. Kini, di tahun 2025 ini, berselang tiga tahun kemudian, lanjutannya kembali hadir dengan embel-embel subjudul Road to Revenge. Dari materi trailernya sendiri dan juga judulnya yang sudah terpampang jelas, film ini akan menghadirkan kisah balas dendam yang brutal dan penuh darah. Jorma Tommila, aktor asal Finlandia, kembali berperan sebagai Aatami Korpi, mantan tentara Finlandia yang bisu. Memerankan karakter antagonis adalah Stephen Lang yang mungkin dikenal publik lewat Don't Breathe.

Aatami Korpi adalah tentara asal Finlandia yang berniat kembali ke rumahnya pasca perang. Namun, setiba di Karelia (daerah Finlandia yang dikuasai Uni Soviet), ia hanya mendapati sebuah rumah kosong, tanpa istri dan kedua anaknya. Attami pun memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Finlandia dan membangun rumahnya lagi di sana. Namun, perjalanan Aatami tentu saja tidak mulus. Ada Yeagor Dragunov, pria yang membunuh keluarga Aatami dan kini diutus membereskan Aatami sebelum bisa menyeberang ke Finlandia. Maka, dimulailah perjalanan pulang kampung terberat yang dialami Aatami dengan berbagai halangan dan rintangan menghadang. 

Sisu: Road to Revenge bukan film yang penuh basa-basi. Dialognya sedikit dan lebih mengedepankan aksi. Namun, bukan berarti penonton jadi buta sama sekali dengan yang terjadi. Kita akan diberikan sedikit gambaran mengenai situasi pada tahun 1946, setelah Perang Dunia II berakhir. Mengenai karakter Aatami Korpi pun, penonton hanya tahu lewat ucapan seorang tentara Uni Soviet yang membebaskan Yeagor dari penjara guna memburu Aatami, bahwa dia adalah mantan komando Finlandia yang sudah membantai ratusan Tentara Merah dan dijuluki Sang Legenda karena tidak bisa mati. 

Terbagi dalam tujuh babak, Sisu: Road to Revenge tidak memberi ruang bagi penonton untuk santai. Tensi terus naik. Mulai dari sergapan biasa, serbuan motor, hingga serangan udara dengan pesawat pemburu. Penonton jadi paham bahwa Aatami jelas bukan sosok yang bisa dianggap remeh. Reputasinya sebagai Sang Legenda pun tergambar melalui tindakan-tindakannya yang kadang di luar logika, namun memberikan efek puas bagi para penonton yang mendukungnya. Aksi-aksi di Sisu: Road to Revenge terkadang kurang masuk akal dan bikin kita bertanya-tanya: apa benar di dunia nyata itu bisa dilakukan? Namun, setidak masuk akal pun, apa yang disajikan tetap bisa menghibur dan membuat kita menggeleng-geleng.


Dua aktor yang jelas mencuri perhatian adalah Tommila sebagai Aatami dan Lang sebagai Yeagor. Masing-masing memperlihatkan akting yang berbeda dari karakter lawannya, namun sama-sama bagus. Meski Tommila tidak mengucapkan dialog satupun, namun sorot matanya sudah berbicara, baik itu saat sedih, kesal, murka, atau pun lega. Lain lagi dengan Lang yang sukses menghidupkan karakter Yeagor yang kejam, membuat penonton ikut gregetan dan akhirnya bersorak di akhir film. Selain terkenal lewat perannya sebagai kakek buta dalam Don't Breathe, ia juga menjadi kolonel kejam Miles Quaritch dalam dua film Avatar karya James Cameron dan yang akan tayang Desember mendatang, Avatar: Fire and Ash

Perlu diingat, Sisu: Road to Revenge bukanlah film untuk mereka yang bermental lemah. Pembalasan dendam Aatami brutal, tanpa pandang bulu, dan penuh darah. Siapa pun akan ia lawan dan terjang jika mereka menghalangi perjalanannya. Jadi, bersiaplah untuk melihat potongan tubuh beterbangan, darah muncrat, koyakan daging, dan masih banyak lagi. Semua itu ditutup dengan ending yang "gila" dan dijamin akan membuat penonton bersorak senang.

Bagi pencinta film-film aksi keras ala First Blood atau Mad Max: Fury Road, Sisu: Road to Revenge jelas sebuah tontonan yang tidak boleh dilewatkan. Semua yang Aatami lakukan demi kembali ke kampung halaman seakan menggambarkan bahwa 'pulang' menjadi sesuatu yang memang harus diperjuangkan, seberat apa pun. 


Artikel Terkait