Film yang manis untuk Lebaran!
Lebaran tahun lalu, perfilman Indonesia dibuat meriah lewat rilisnya Jumbo di layar bioskop. Film animasi garapan Ryan Adriandhy ini berhasil menduduki peringkat dua sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa, dengan total lebih dari 10.2 juta penonton. Lebaran tahun ini, Visinema bersama Ryan Adriandhy kembali merilis film. Kali ini, mengambil format live-action, adaptasi dari buku Na Willa karya penulis dan musisi Reda Gaudiamo yang sudah naik cetak berkali-kali.
Film Na Willa mengisahkan keseharian anak berusia 5 tahun bernama Na Willa (Luisa Adreena) yang tinggal di rumah sudut gang bersama Mak (Irma Rihi), Pak (Junior Liem), dan Mbok (Mbok Tun). Willa punya 3 teman yang setiap hari mengajaknya bermain yaitu Farida (Freya Mikhayla), Dul (Azamy Syauqi), dan Bud (Ibrahim Arsenio). Ayah Willa jarang pulang karena bekerja di kapal sehingga keseharian Willa hanya diwarnai oleh teman-temannya, Mbok, Mak, dan seekor anak ayam yang dibeli di pasar. Suatu hari, Willa dihadapkan dengan kenyataan bahwa teman-temannya mulai masuk sekolah. Willa yang kesepian pun mengambil keputusan besar, yaitu ikut bersekolah. Tanpa Willa sangka, kehidupan di luar sangat berbeda dengan apa yang selama ini ia alami di lingkungan rumah.
Bagi pembaca bukunya, versi live-action ini bisa dibilang sangat memenuhi ekspektasi. Keputusan bagus dari Ryan Adriandhy, selaku sutradara dan penulis naskah, yang menggarap film ini full lewat POV dan narasi anak-anak. Rasanya, jadi seperti mendengar dongeng sebelum tidur atau membaca buku dalam versi hidup. Bahkan, dari prolog saja, kita langsung bisa merasa dibawa ke dalam dunia Na Willa. Mulai dari suasana di rumah dan bermacam perabot di dalamnya hingga keadaan sekitar rumah yang ramai orang lewat. Bahkan, kemunculan karakter dewasa pun selalu disorot dari sudut pandang Na Willa.

Satu lagi yang langsung menarik perhatian adalah visual keseluruhan film Na Willa yang dibuat cerah, namun tidak mencolok. Ditambah animasi yang dimunculkan di sana-sini, seperti mewakili pancaindera dan imajinasi anak-anak saat melihat dan merasakan banyak hal. Warna putih, merah tua, oranye kekuningan, dan corak bunga sangat mendominasi. Semua dimunculkan seimbang dan nyaman di mata sehingga sampai film selesai pun meninggalkan memori lewat warnanya yang khas.
Mulai dari wardrobe, pemilihan properti, sampai bentuk bangunan dan segala detail sudut Surabaya dengan langitnya yang bersih di era '60-an sebagai latar juga ikut mendukung nuansa cheerful khas anak-anak di sepanjang film. Lagu “Oh Hesty” dari Lilis Suryani terus terngiang di telinga, membuat kita secara tidak sadar ikut melantunkan lagunya begitu film selesai diputar. Ditambah lagi, seperti film Visinema lain, Na Willa juga mempersembahkan soundtrack original. Kali ini berjudul “Sikilku Iso Muni” (Kakiku Bisa Berbunyi) yang dinyanyikan Luisa Adreena dan Azamy Syauqi.
Na Willa juga berhasil membangkitkan lagi memori lewat kejadian yang biasa terjadi antara orang tua dan anak. Soal hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan serta akibatnya, atau situasi dan percakapan orang dewasa yang kadang secara tidak sengaja kita dengar dan amati saat masih kecil. Hal sederhana dan remeh, namun membekas di memori kita sebagai anak, jadi terasa memorable begitu divisualisasikan dalam format layar lebar.

Isu soal pendidikan, perbedaan agama dan ras, pola pengasuhan, sampai pernikahan juga dibahas dengan apik dan polos. Tidak berlebihan, tidak dibuat preachy. Semua terasa pure karena disampaikan lewat POV anak kecil yang murni memandang besarnya dunia lewat matanya sendiri. Namun, tetap menggelitik dan nyelekit di hati saat terdengar, terutama di kalangan penonton dewasa.
Soal akting, para aktris dan aktor cilik di Na Willa juga bisa dibilang sukses menghidupkan karakter yang ada dalam buku. Semua ceriwis, luwes dalam berdialog dan beradegan, serta yang pasti, menggemaskan. Luisa Adreena sebagai Na Willa, Freya Mikhayla sebagai Farida yang cadel, Azami Syauqi sebagai Dul yang berambut ikal, dan Ibrahim Arsenio sebagai Bud yang selalu ingusan. Chemistry mereka dengan karakter dewasa juga sangat natural, rasanya seperti melihat anak kecil yang main dan mampir mengobrol dengan orang dewasa.
Overall, Na Willa jelas bisa menjadi film yang fun untuk ditonton bareng keluarga. Tidak ada emosi yang diluapkan berlebihan, keceriaan yang ditampilkan juga menyenangkan untuk diikuti sampai akhir. Banyak adegan, dialog, dan bagian yang bisa dijadikan bahan diskusi mendalam bersama keluarga, terutama anak atau keponakan. Ditambah lagi, karena film ini diadaptasi dari buku seri Na Willa, dipastikan akan ada lanjutan film Na Willa lain di masa depan.
