Project Hail Mary: Perjalanan Indah dan Membahagiakan di Luar Angkasa

by Redaksi

Project Hail Mary: Perjalanan Indah dan Membahagiakan di Luar Angkasa
EDITOR'S RATING    

Amaze! Amaze! Amaze!

Saat novel Project Hail Mary (2021) karya Andi Weir diumumkan akan digarap menjadi film, banyak penikmat sci-fi yang antusias. Terbayang novel karya Weir sebelumnya The Martian (2011) saat dijadikan film (2015) dan mendapat sambutan hangat saat perilisan, hingga mengumpulkan $630 juta dari modal yang hanya $108 juta. Begitu trailer dan poster Project Hail Mary dirilis, semakin banyak yang menanti interaksi gemas dan hangat antara dua karakter utama: Grace sang peneliti dan Rocky si alien cerdas.

Ryland Grace (Ryan Gosling) terbangun dari koma di dalam pesawat luar angkasa. Mengalami amnesia, Grace berusaha mengingat segalanya satu-persatu sembari mempelajari kenyataan apa yang sedang dihadapi. Saat sempalan ingatan muncul secara acak, barulah Grace perlahan paham. Ia seorang guru mikrobiologi bergelar PhD yang mengajar di SMP. Ia juga satu-satunya manusia di dunia yang meneliti secara mendalam soal Petrova Line yang membentang dari Matahari ke Venus, serta ancaman mikroorganisme bernama astrophage terhadap keberadaan Matahari. Project Hail Mary dirancang dan ia ditarik masuk ke tim inti oleh Kapten Eva Stratt (Sandra Hüller). Dalam 30 tahun, astrophage akan ‘melahap’ Matahari, membuat seluruh bentangan Petrova Line membeku, termasuk Bumi dan seisinya. Berpacu dengan waktu, Grace harus mencari cara agar astrophage berhenti berkembang biak.

Di perjalanan, Grace dihadang pesawat luar angkasa milik alien. Tak disangka, pesawat super besar itu hanya berisi satu awak kapal, engineer alien berwujud batu yang diberi nama Rocky (suara diisi James Ortiz) oleh Grace. Habitat Rocky juga turut terancam astrophage. Berdua, setelah melalui proses adaptasi rumit namun lucu dan menggemaskan, Grace dan Rocky mencari cara untuk menyelamatkan koloni dan tempat tinggal masing-masing. Apakah Project Hail Mary akhirnya berhasil?


Project Hail Mary ditayangkan dalam total durasi 156 menit. Untungnya, waktu yang cukup lama ini dibayar lunas lewat cerita yang mantap dari awal hingga akhir. Film garapan duo sutradara Phil Lord dan Christopher Miller ini ditampilkan dalam format non-linear, namun tidak bikin pusing. Kudos untuk dialog yang ringan dan mudah dipahami hasil adaptasi sang penulis naskah Drew Goddard. Kita tidak perlu berkali-kali mengernyitkan dahi mencerna kalimat sulit dari para ilmuwan atau orang penting yang biasanya muncul dalam film sci-fi. Lelucon dan adegan komikal juga banyak ditampilkan, membuat keseluruhan film ini terasa semakin fun.

Berbeda dengan film genre sejenis, sebut saja Interstellar atau The Martian, Project Hail Mary tidak terasa depresif atau suram. Sinematografi, pencahayaan, sampai VFX terlihat menenangkan dan apik lewat dominasi warna cerah orange, merah, hijau, dan putih. Sisipan lagu familiar seperti ‘Wind of Change’ dari Scorpion, ‘Sign of the Times’ milik Harry Styles, dan ‘Two of Us’ milik The Beatles juga membuat kita ikut bernyanyi. Sementara, music score yang manis dan terkadang ‘usil’ karya Daniel Pemberton mengiringi setiap kejadian yang dialami Grace dan Rocky. 

Karena diadaptasi dari novel yang kuat dalam deskripsi, gambaran berbagai objek luar angkasa juga ditampilkan secara detail. Perlu diketahui, film ini digarap dengan lensa standar IMAX. Siap-siap dibuat ‘tenggelam’ dalam kapal yang menjelajah antariksa serta betapa besar dan heningnya luar angkasa. Sesekali, kamera berputar halus, membuat seolah kita ada di dalam pesawat, ikut melayang melawan gravitasi.


Gosling juga sangat pas dalam menggambarkan sosok Ryland Grace, guru SMP yang cenderung nerd dan cuek namun aslinya ceplas-ceplos dan berhati lembut. Sementara, Sandra Hüller mampu menampilkan Kapten Eva yang tegas, namun tetap manusiawi dan sesekali terlihat rapuh. Gerakan Rocky sang alien juga terasa smooth dan nyata, padahal wujud aslinya adalah boneka yang digerakkan beberapa orang, lalu dipoles dengan efek digital. Melihat interaksi Rocky rasanya seperti melihat anak kecil yang iseng dan serba ingin tahu, dengan level manja seperti kucing dan loyal seperti anjing. Setelah film selesai, dijamin kita semua akan jatuh hati pada sosoknya. 

Overall, Project Hail Mary bisa dibilang salah satu film terbaik tahun ini dengan segala aspek yang hampir sempurna. Terasa magis saat ditonton pertama kali dan tetap terasa indah saat ditonton kedua atau ketiga kali. Meski film ini memiliki rating 13+, tidak ada salahnya mengajak anak atau keponakan yang sudah memahami konsep luar angkasa untuk turut menyaksikan film ini di layar terbaik. Dijamin, akan ada banyak scene dan dialog yang membekas dalam waktu lama.