The King’s Warden: Sejarah Pahit Raja Muda dan Pengawal di Pengasingan

by Redaksi

The King’s Warden: Sejarah Pahit Raja Muda dan Pengawal di Pengasingan
EDITOR'S RATING    

Film Korea Selatan wajib tonton tahun ini!

Dulu, di tahun 1455, ada kejadian besar di Joseon (sekarang Korea Selatan). Raja Danjong yang saat itu berusia 14 tahun dilengserkan oleh pamannya sendiri dalam aksi kudeta. Danjong dianggap masih terlalu muda sebagai raja sehingga semua bawahan dan orang kepercayaannya dilenyapkan. Danjong lalu diasingkan, dihapus gelarnya menjadi Pangeran Nosan, dan wafat di tahun 1457 dalam usia 16 tahun. Kisah hidupnya hampir tidak tertulis dalam sejarah karena semua sudah dibakar habis. Kini, di tahun 2026, namanya justru dikenal hampir di seluruh dunia lewat The King’s Warden, film terbaru garapan sutradara Jang Han Jun (Forgotten). Rilis awal Februari, kini The King’s Warden tercatat telah ditonton lebih dari 16 juta orang dan bertahta sebagai film terlaris sepanjang masa di Korea Selatan.

Sesuai judul, The King’s Warden mengambil plot dari sudut pandang sang sipir pengawas Raja Danjong, Eom Heung Do (Yoo Hae Jin). Heung Do hanyalah seorang kepala desa di daerah miskin Cheongnyeongpo. Lokasi desanya sangat terpencil, terletak di antara dua bukit dan sungai yang mengalir deras. Begitu dipilih sebagai tempat pengasingan, sang kades dan seluruh warga bersuka cita. Terbayang limpahan pasokan makanan dan barang berharga yang akan  dikirim ke desa. Sayangnya, pejabat yang datang ke desa adalah remaja bernama Yi Hong Wi (Park Ji Hoon), alias Raja Danjong yang dilengserkan. Heong Do dan warganya pun berusaha merawat Yi Hong Wi dengan baik sampai ajalnya datang menjemput.

Untuk yang familiar dengan film Korea Selatan, mungkin sudah paham polanya: jika diawali dengan banyak adegan lucu, bisanya akan berakhir dengan kesedihan yang menguras air mata. Diangkat dari kisah nyata, berlatar tragedi sejarah di era kerajaan pula, The King’s Warden tidak jauh berbeda. Unsur politik kerajaan tetap ada, namun tidak rumit untuk dipahami. Penonton yang awam dengan film kerajaan pun tetap bisa menikmati dengan nyaman karena unsur drama yang kuat.


Jajaran pemain dalam film pun tidak terlalu banyak sehingga penonton tidak sulit menghapal tiap wajah yang muncul. Selain dua karakter utama, ada aktor Yoo Ji Tae (Oldboy, The Swindlers) sebagai Han Myeong Hoe sang pengatur gerakan kudeta, Jeon Mi Do (Hospital Playlist 1-2) sebagai dayang Mae Hwa, dan Lee Jun Hyuk (Love Scout, The Art of Sarah) sebagai Pangeran Geumseong yang membela Raja Danjong. Mungkin butuh adaptasi di awal untuk memahami siapa berperan sebagai siapa, apakah karakter ini baik atau jahat.

Mood film sepanjang durasi 117 menit jelas digendong oleh Yoo Hae Jin (The Night Owl, Exhuma) yang berperan sebagai Pak Kades dan Park Ji Hoon (Weak Hero Class 1-2) sang Raja Danjong. Yoo Hae Jin sangat mampu menghidupkan suasana lewat karakternya yang ceplas-ceplos khas warga pelosok yang sok tahu tapi bodoh, dan mementingkan diri sendiri. Tatapannya pun sangat ekspresif, terutama di adegan penting di bagian akhir saat wajahnya disorot sangat dekat. Sementara Park Ji Hoon dengan tatapan sendu namun powerful, mampu memberi rasa ‘berat’ tiap sosoknya muncul di layar. Mungkin akan terasa membosankan dan dragging di 1 jam pertama. Namun begitu masuk ke inti cerita, dijamin emosi penonton akan terhanyut mengikuti kisah keduanya.

Satu-satunya yang agak sedikit mengganjal mungkin pemakaian CGI di beberapa adegan yang kurang halus. Selain itu, adanya aktor yang berperan sebagai warga desa namun kondisi gigi rapi bersih berlapis veneer bisa juga sedikit mengganggu bagi yang memperhatikan. Sisanya? Silakan nikmati cerita dan chemistry semua karakter di film ini. Yang pasti, jangan lupa bawa tisu yang cukup banyak.


Artikel Terkait