Air tenang menyimpan horor luar biasa
Danau memang selalu menyimpan cerita-cerita mistis, terutama untuk negara-negara Asia. Hal ini disebabkan adanya kepercayaan bahwa danau merupakan pemisah antara dunia orang hidup dengan dunia arwah. Korea Selatan pun tidak ketinggalan mengangkat kisah danau mistis ini lewat film horor terbaru mereka, Salmokji: Whispering Water. Untuk para penyuka drama Korea, deretan cast-nya tentu sudah bukan muka-muka yang asing lagi, dua di antaranya adalah Kim Hye-yoon (Lovely Runner) dan Lee Jong-won (Knight Flower). Di Korea Selatan sendiri, film ini cukup meledak dan sudah ditonton hingga dua juta orang. Sebuah pencapaian yang cukup tinggi di tengah-tengah lesunya dunia perfilman Korea.
Han Su-in, kepala tim di perusahaan pembuatan peta jalan, mendapat tugas melakukan pemotretan ulang di sebuah waduk terpencil, Salmokji. Hal ini disebabkan munculnya gambar kepala wanita di tengah-tengah danau yang menimbulkan kehebohan para pengguna peta. Belum lagi berbagai kabar yang tersiar bahwa banyak orang yang hilang saat datang ke Salmokji. Bersama timnya, Su-in pun datang ke sana dan mulai melakukan pemotretan ulang. Namun, pekerjaan yang seharusnya mudah tersebut malah berubah menjadi sebuah mimpi buruk yang mengerikan.
Salmokji sendiri cukup sukses menghadirkan suasana horor yang mencekam, tanpa terlalu banyak menjual jumpscare. Rasa takut yang dimunculkan bukan hanya oleh penampakan hantunya yang tiba-tiba, tapi juga suasana sunyi hutan dan danau. Tidak hanya horor, Salmokji juga menebar beberapa misteri di sepanjang alurnya yang kemudian akan terjawab seiring berjalannya cerita. Satu hal yang cukup menarik adalah pemakaian jenis kamera yang berganti-ganti, mulai dari kamera biasa, kamera street view, hingga kamera sensor gerak tubuh. Perubahan ini dijamin akan membuat penonton lebih berdebar-debar lagi karena menunggu apa yang akan terjadi.

Jika film-film horor sejenis (terutama lokal) akan kebanyakan mengangkat situasi dari sudut pandang sekelompok anak muda, Salmokji memakai pendekatan yang berbeda. Kali ini, orang-orang yang ketiban sial adalah satu tim pembuat peta street view. Mengingat pekerjaan yang kerap mengharuskan mereka untuk menyusuri tempat-tempat jauh dan terpencil, situasi ini terasa masuk akal dan tidak dipaksakan ketimbang terus mengulang formula "sekelompok anak muda kurang kerjaan yang memutuskan untuk mengeksplorasi tempat-tempat angker."
Sayangnya, jika dilihat dari segi cerita, Salmokji mungkin tidak terlalu memuaskan. Banyak bagian yang terasa tidak disinggung, seperti asal-muasal danau, apa yang sebenarnya terjadi di sana, kenapa danau itu dianggap angker, dan masih banyak lagi. Dibandingkan dengan Exhuma yang menyatukan sejarah dan horor, Salmokji murni menghadirkan horor tanpa embel-embel apa pun.
Bagi kalian yang suka ditakut-takuti, Salmokji jelas tontonan pilihan yang menarik. Meski ceritanya mungkin tidak serumit Exhuma, namun film ini tetap menghadirkan horor yang segar daripada horor lokal kebanyakan. Dengan musik yang ditempatkan dengan pas dan tidak berlebihan serta jumpscare-jumpscare yang efektif, wajar jika Salmokji: Whispering Water masuk ke dalam salah satu horor yang diminati di Korea pada tahun 2026 ini.
