Jurassic World: Fallen Kingdom Menonjolkan Aksi, Tapi Minim Esensi

by Prima Taufik 814 views

Jurassic World: Fallen Kingdom Menonjolkan Aksi, Tapi Minim Esensi
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Lebih besar dan penuh aksi, tapi adakah esensi yang tersisa dari film pertama?

Remake Jurassic Park dua tahun lalu yang berjudul Jurassic World sukses mengobati kerinduan para pencinta binatang purba beraksi di layar lebar. Dengan pendapatan mencapai 1,6 miliar dolar, sudah pasti sekuel akan dibuat. Tentu saj,  sebagaimana umumnya sekuel, segalanya lebih dahsyat, besar, dan spektakuler. Namun, biasanya segi cerita dikorbankan demi memperbanyak aksi. Di sinilah kesalahan selalu terjadi, perlu diingat penonton mendatangi layar bioskop untuk melihat suatu kisah bukan hanya sekedar pamer CGI. Kisah akan berkembang jika karakternya berkembang, namun sehebat apapun kisahnya jika karakternya tidak bernyawa maka hasilnya hampa. Kata inilah yang tepat untuk menggambarkan Jurassic World: Fallen Kingdom.

Bryce Dallas Howard (Claire) dan Chris Pratt (Owen) tidak mengalami perkembangan karakter dari film pertama. Performa mereka seperti stagnan di level tertentu. Jika mereka bukan pemain kelas A dengan nama besar, niscaya keduanya akan mudah terlupakan di film ini. Semua karakter di film ini adalah stereotipe dan tempelan sehingga mudah ditebak bagaimana nasib masing-masing karakter nantinya. Justru yang menonjol adalah para dinosaurus yang lebih punya nyawa di film ini. Penonton lebih simpatik dengan yang terjadi pada para dino dibandingkan karakter-karakter manusianya. Walau hanya sedikit adegan, beberapa dino memberikan kesan yang mendalam pada penonton.


Meski banyak aksi spektakuler dalam film ini, namun jelas sekali tidak ada “cool moment” seperti di film pertama. Penonton pasti ingat adegan slow-mo Bryce Dallas berlari dengan sepatu hak tinggi sambil memegang suar diikuti oleh T-Rex di belakangnya. Adegan tersebut sangat memorable. Walau banyak sindiran dan pujian, namun orang ingat akan adegan tersebut. Di  Fallen Kingdom ini, tidak ada satupun adegan yang memorable. Seru? Ya. Menegangkan? Ya. Memorable? Tidak. Setelah keluar dari bioskop, kita akan lupa adegan-adegan aksi yang terjadi, hanya ingat kalau filmnya lumayan seru.

Perpindahan sutradara dari Colin Trevorrow ke J. A Bayona sepertinya juga berpengaruh besar. Bayona lebih fokus pada aksi yang besar,  sementara Trevorrow sepertinya lebih mendalami cerita dengan aksi yang lebih memorable. Walau begitu, turunnya kualitas sekuel ini tidak sepenuhnya kesalahan Bayona karena Trevorrow tetap terlibat sebagai penulis cerita. Mungkin memang sumber ceritanya yang tidak bisa digali lebih dalam lagi. Tidak bisa dipungkiri jika Jurassic World ini hampir mirip dengan Jurassic Park, baik film pertama begitu juga film kedua karena dari sumber buku yang sama.


Paruh pertama film lumayan menegangkan, letusan gunung di Isla Nublar membuat para dino terancam punah untuk kedua kalinya. Semua makhluk berjuang untuk selamat, berburu waktu sebelum letusan meluluhlantakkan pulau. Menjelang pertengahan hingga akhir, di mana setting berpindah ke pemukiman, semuanya berubah menjadi cerita tipikal yang mudah ditebak. Bahkan ada subplot yang agak sukar dicerna jika tidak menonton beberapa kali. Terlepas dari itu semua, tetap saja orang akan berbondong-bondong menonton film ini karena ingin melihat para dinosaurus bertempur dan Chris Pratt. Film yang kualitasnya jauh dari film pertama, tapi belum cukup jatuh ke taraf mengecewakan. Seru, tapi mudah dilupakan.