Masters of the Universe: Kisah Klasik Pahlawan Masa Kecil Di-Remake Fresh, Tapi Kurang Lucu

by Redaksi

Masters of the Universe: Kisah Klasik Pahlawan Masa Kecil Di-Remake Fresh, Tapi Kurang Lucu
EDITOR'S RATING    

He-Man bergaya Gen Z

Para Generasi Milenial yang tumbuh dengan menonton kartun di televisi nasional, tentunya masih ingat dengan serial animasi He-Man and the Masters of the Universe. Kisah pangeran dari planet Eternia ini diadaptasi dari lini mainan laris Mattel, Masters of the Universe. Bahkan, di tahun 1987, sempat dibuatkan adaptasi filmnya dengan menampilkan Dolph Lundren sebagai He-Man dan Frank Langella sebagai Skeletor. Kini, di tahun 2006, aktor muda Nicholas Galitzine menjadi He-Man, Jared Leto sebagai Skeletor, Camila Mendes sebagai Teela, Alison Brie sebagai Evil-Lyn, dan Idris Elba sebagai Man-At-Arms. 

Adam Glenn diungsikan ke Bumi dari planet Eternia dengan membawa Pedang Kekuatan setelah Skeletor melakukan pemberontakan dan mencoba merebut pedang itu. Lima belas tahun berselang, Adam berhasil menemukan kembali senjata tersebut dan kembali pulang dengan dibantu Teela, teman masa kecilnya. Di Eternia, Adam harus berjuang mendapatkan kepercayaan dari para pahlawan planetnya dan menerima jati dirinya sebagai pria terkuat di alam semesta.

Sutradara Travis Knight mencoba menghidupkan kembali memori masa kecil kita lewat reboot Masters of the Universe. Tapi jujur saja, film He-Man versi baru ini sebenarnya masuk kategori "penting, tidak penting" untuk eksis di bioskop saat ini. Di satu sisi, film ini berusaha tampil segar untuk generasi baru. Tapi, di sisi lain, kehadirannya tidak memberikan sesuatu yang monumental untuk fans garis kerasnya. Kalau hanya melihat dari trailer, film ini sepertinya bakal seru tapi ternyata…


Sebagai film yang dibilang mencoba mengikuti gaya "Gen Z", kelihatan sekali Knight mencoba agar filmnya tampil lucu dan kekinian terutama dari karakter Prince Adam. Sayangnya, humor yang dilempar seringkali meleset dan gagal bikin penonton ketawa lepas. Anehnya lagi, meskipun film ini diberi rating untuk semua umur, ada banyak selipan candaan yang terasa cukup dewasa. Alhasil, beberapa humornya malah terasa tanggung dan salah sasaran.

Dari segi teknis, jangan berekspektasi mata kita bakal dimanjakan dengan visual yang megah karena efek CGI-nya tergolong biasa untuk standar film zaman sekarang. Ditambah lagi, alur ceritanya berjalan cukup lambat dan durasinya terasa kepanjangan. Kombinasi ini sukses bikin penonton bakal merasakan beberapa titik bosan di tengah-tengah film sambil menunggu kapan konflik utamanya selesai. Selingan joke tidak lucu yang selalu muncul di tengah-tengah adegan aksi seakan membuat film ini terasa mengincar penonton anak-anak

Untungnya, performa jajaran pemainnya lumayan menyelamatkan film ini. Nicholas Galitzine tampil cukup apik, konyol dan karismatik saat memerankan Prince Adam, didukung oleh cast lain yang tidak mengecewakan, seperti Idris Elba dan Camila Mendes. Untuk kalian yang menyaksikan kartun lawasnya, pasti akan tersenyum saat melihat gerakan-gerakan ikonik yang sengaja ditampilkan di sini, salah satunya aksi tertawa khas sambil berkacak pinggang. Sayang, sama seperti kartunnya pula, karakter Skeletor juga dibuat bodoh dan cuma satu dimensi.

Di akhir film, penonton bakal disuguhkan sebuah after-credit scene yang sebenarnya lumayan memancing rasa penasaran tentang kelanjutan semesta Eternia. Tapi, melihat hasil keseluruhannya yang terasa membosankan, meski masih terselamatkan oleh sedikit momen lucu dan akting pemainnya, tampaknya agak sulit bagi Masters of the Universe untuk mendapatkan lampu hijau bagi sebuah sekuel.