Fall 2: Deadpoint - Bikin Perut Melintir, tapi Masih Bisa Ditolerir

by Redaksi

Fall 2: Deadpoint - Bikin Perut Melintir, tapi Masih Bisa Ditolerir
EDITOR'S RATING    

Cerita lebih luas, tapi ketegangan sedikit berkurang

Banyak orang yang tidak paham, apa asyiknya melakukan olahraga ekstrem. Jika ada satu kesalahan kecil saja, nyawa taruhannya. Namun, tentu saja mereka yang menggemari hal-hal semacam itu paham di mana serunya. Saat adrenalin terpacu, di situlah mereka merasa hidup. "Apa pun yang terjadi, terjadilah, karena bagaimana pun, takdir tidak bisa dilawan" demikian prinsip hidup kebanyakan pencinta olahraga ekstrem. Salah satu film yang mengangkat tentang pecandu olahraga ekstrem ini adalah Fall (2022). Film yang berfokus pada dua wanita yang terjebak di atas menara pemancar siaran TV bisa dibilang sukses besar dan menarik perhatian. Dari bujet $3 juta, Fall berhasil meraup pendapatan $21,8 juta. Kini, empat tahun berselang, hadir sekuelnya dengan judul Fall 2: Deadpoint.

Jika film pertama mengisahkan Shiloh Hunter dan temannya, Becky, sebagai dua cewek yang terjebak di ketinggian, kali ini cerita beralih ke adik Shiloh, Jax. Jax yang berduka berniat untuk menjual semua barang Shiloh, termasuk truk kesayangan Shiloh, ke teman dekatnya, Luce. Namun, Luce berhasil mempengaruhi Jax untuk mengunjungi Gunung Kwan, Thailand, dan melakukan perjalanan melewati papan sebagai penghormatan terakhir terhadap mendiang Shiloh. Jax, yang tidak seberani kakaknya, awalnya menolak, tapi akhirnya luluh juga. Namun, mendaki di area yang sudah ditutup selama 30 tahun jelas bukanlah pilihan yang tepat. Besi tangganya sudah reyot, bautnya karatan, dan papannya juga sudah lapuk. Situasi bertambah gawat saat terjadi gempa dan longsor terjadi, membuat Jax dan Luce terpisah dari pemandunya dan terjebak di sedikit papan yang tersisa. Bisakah mereka melewati semua itu dan pulang dengan selamat?

Secara cerita, Fall 2: Deadpoint jelas lebih luas karena memakai latar tempat di luar Amerika dan kisahnya juga lebih rumit karena melibatkan orang lain, tidak hanya dua gadis yang terjebak di tempat tinggi. Ini tentu dimaksudkan agar sekuel ini tidak berkutat di satu bagian saja, menambah ketegangan, dan menambah taruhan menjadi lebih tinggi. Namun, apakah itu yang terjadi? Memang, di satu sisi, plot Fall 2 jadi lebih banyak. Selain mengkhawatirkan apakah kedua wanita ini akan selamat, kita juga dibawa bertanya-tanya akan nasib si pemandu. Tidak hanya itu, twist di akhir pun cukup menarik dan membuat kita terkejut, meskipun memang tidak seciamik Fall. 


Seperti halnya film pertama, jualan Fall 2: Deadpoint jelas adalah di momen saat Jax dan Luce terjebak di plang kayu ribuan meter di atas Gunung Kwan. Harus bertahan di papan selebar 1 meter kurang, melewati angin dan hujan, serta tanpa bahan makanan. Penonton tentu semakin penasaran, bagaimana cara mereka menyelamatkan diri dalam situasi "maju kena, mundur kena" ini? Ada shot-shot yang membuat penonton berada di sudut pandang first person sehingga seakan kita sendiri yang berdiri di papan itu dan melongok ribuan meter ke bawah. Buat yang takut ketinggian, siap-siap kaki lemas dan perut serasa terpelintir di adegan ini.

Secara keseluruhan, Fall 2: Deadpoint memang sedikit mengalami penurunan kualitas dibanding film pertamanya. Namun, film ini tetap menghibur dengan caranya sendiri. Dan, mungkin kita berharap, akan ada film ketiga yang mempertemukan Becky dan Jax di tempat ekstrem lainnya.


Artikel Terkait