Saat masa lalu mengejar, hanya satu kata: lawan.
Karena dua film sebelumnya sukses besar dengan membukukan total pendapatan di atas 300 juta dolar dari total bujet di bawah $100 juta, tentunya kehadiran Creed III bukan kejutan. Berbeda dari Creed dan Creed II, kali ini Michael B. Jordan yang tadinya hanya duduk sebagai pemeran utama menjalankan peran ganda, yaitu juga sebagai sutradara. Meski tidak terlibat di depan layar, Sylvester Stallone mengisi kursi produser bersama Ryan Coogler dan Jordan sendiri.
Setelah kejadian di Creed II, Adonis "Donnie" Creed memutuskan mundur dari karier bertinjunya dan hidup bersama keluarga kecilnya. Namun, masa lalu ternyata muncul kembali dalam bentuk teman masa kecil yang juga mantan petinju, Damian "Dame" Anderson yang sempat lama mendekam dipenjara. Dame yang bercita-cita menjadi petinju profesional berusaha membuktikan bahwa dirinya layak untuk naik ring lagi. Setelah tiga tahun pensiun, mampukah Donnie menghadapi Dame dan sekali lagi membuktikan bahwa dirinya masih pantas menyandang gelar juara?

Jika belum menyaksikan dua film sebelumnya, tidak perlu khawatir karena kisahnya berdiri sendiri. Kita masih bisa menikmatinya tanpa perlu tahu apa yang terjadi dengan mereka di Creed dan Creed II. Namun, tentu saja film ini akan lebih enak ditonton kalau kita setidaknya tahu sedikit sejarah mereka. Namun, itu bukan suatu keharusan.
Dari segi drama, Creed III berusaha menggambarkan kehidupan juara tinju ini setelah pensiun dan berkeluarga. Hubungannya dengan ibu, istri, dan putrinya, Amara, yang mewarisi ketertarikan ayahnya dalam bidang tinju. Sepertinya, ini disengaja untuk keberlangsungan franchise ini ke depannya. Bukan tidak mungkin di Creed IV atau V, Amara akan menjadi pemain utama dengan sang ayah sebagai pelatih.

Meski alurnya agak lambat di seperempat awal, tapi saat Jonathan Majors muncul sebagai Dame, kisah jadi lebih menarik. Dua pertandingan tinju yang dimunculkan dalam film ini jelas sangat menghibur bahkan untuk penonton yang kurang paham tinju. Di-shoot menggunakan kamera IMAX memang meningkatkan pengalaman menonton Creed III. Kita bisa melihat percikan keringat atau tarikan otot dan urat saat mereka saling berbalas pukulan. Gerakannya pun dibuat lebih cepat sehingga kita tidak seperti menonton pertandingan tinju, tapi adegan aksi film-film laga.
Sayang memang, karakter Dame, yang membuat Creed kembali ke ring tinju setelah tiga tahun pensiun, terasa kurang digali. Tidak ada penjelasan lebih jauh mengenai latar-belakang Dame tentang keinginannya menjadi petinju, teknik-teknik berbahaya yang mampu mencederai lawan, atau pun masa lalunya. Namun, jika kita tidak masalah dengan itu dan hanya ingin menikmati film tinju dengan shot-shot yang memukau, Creed III patut jadi pilihan. Tonton di layar sebesar mungkin untuk mendapatkan sensasinya.
